Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Rumah sakit


__ADS_3

Norin sadarkan diri setelah mendapatkan transfusi darah. Ia mengejapkan matanya perlahan dan nampak Youn berada di sampingnya.


"tuan Youn !"ucap Norin.


"hai nona, kau sudah sadarkan diri?"


"ada apa dengan saya tuan Youn?"


"saya menemukan nona tidak sadarkan diri di tengah jalan tadi malam."


Hening...


Norin masih ingat bagaimana kemarin sore ia pulang dengan berjalan kaki setelah bertengkar dengan Shin. Norin tersenyum hangat pada pria yang telah menolongnya."terima kasih tuan Youn, saya berhutang budi pada tuan."


"tidak usah dipikirkan nona, saya tulus menolong mu. Oya dan tolong panggil saya Youn saja, karena saya bukan tuan anda nona."


Norin tersenyum."terima kasih Youn."


"nah seperti itu." Youn tersenyum.


"Youn, saya ingin pulang hari ini juga, apa kamu bisa menolong saya untuk antar kan saya pulang?"


"kamu masih lemah bagaimana bisa pulang? lagi pula dokter menyarankan untuk di rawat dua atau tiga hari lagi."


"tidak perlu Youn, saya sudah kuat dan sehat. lagi pula saya tidak punya uang banyak untuk membayar rumah sakit ini jika terlalu lama."


"kenapa wanita ini bicara seperti itu? apa selama ini Shin hanya mengencani nya tanpa memberi uang?" Youn bermonolog.


"kamu tidak usah khawatir, uang kekasihmu itu tidak akan habis jika hanya sekedar membayar uang rumah sakit."


Norin tersenyum tipis."saya bukan siapa siapanya lagi youn, kami sudah putus."


"what? apa kamu serius ? kenapa cepat sekali ?"


"memang seharusnya seperti itu, kami tidak perlu memiliki hubungan apa apa selain hubungan atasan dan bawahan. kami memiliki pemikiran yang tak sejalan dan tak sepaham. jadi lebih baik kami menjalani hidup masing masing saja."


"ada masalah apa sebenarnya mereka?" Youn bermonolog.


"kalau begitu biar aku saja yang membayar rumah sakit ini?"


"tidak Youn, terima kasih. saya tidak mau terlalu banyak hutang budi. kamu sudah menolong saya dan membawa saya ke rumah sakit saja saya sudah sangat berterima kasih sekali. saya hanya ingin pulang saja."


"apa sebaiknya kita menunggu Shin datang terlebih dahulu?"


Norin menggelengkan kepalanya."saya tidak mau bertemu dengannya lagi Youn, saya mohon antar kan saya pulang ya?"


Tanpa mereka sadari, Shin mendengarkan percakapan mereka dari celah pintu. Ia menatap nanar pada bubur yang baru saja dia beli untuk Norin. Lalu, ia meletakan nya di kursi tunggu di luar ruangan dan beranjak pergi.


"Aku memang pantas di benci olehmu Rin, karena aku sudah berbuat jahat padamu?"

__ADS_1


Dari arah berlawanan, Anisa berjalan tergopoh gopoh. Dari kejauhan Anisa menatap heran pada penampilan kusut pria yang biasanya selalu berpenampilan rapih.


"Tuan Shin!" sapa Anisa setelah dirinya berdiri tepat di depan pria berpenampilan kusut.


Shin melirik wanita itu dengan datar.


"apa Norin masih ada di ruangan tuan?" tanta Anisa dengan pelan.


"kau lihat saja sendiri," jawab Shin ketus kemudian ia melanjutkan lagi langkahnya dengan gontai.


"ada apa dengannya tumben sekali." Anisa bermonolog.


Anisa melanjutkan lagi langkahnya menuju ruang rawat Norin.


"Norin.....!"sapa Anisa lalu memeluk sahabatnya itu.


"kenapa kamu bisa sakit sih Rin? kamu sakit apa? suster udah ngasih sarapan belum? ini aku bawakan bubur untuk mu," tanya Anisa beruntun sambil tangannya mengeluarkan sekotak bubur dari dalam kantong kresek.


"apa anda tidak menyapa saya nona Anisa?" Youn protes karena dari tadi Anisa mengabaikannya.


Anisa menoleh pada sofa yang terletak di pojokan." oh, ada tuan Youn ternyata, maaf saya fikir hanya ada Norin di sini," ucap Anisa dengan senyum yang di paksakan. Sebenarnya dari awal Anisa sudah tau bahwa di ruangan itu ada Youn, hanya saja ia sedang malas menyapanya.


Anisa mengalihkan pandangannya pada Norin."aku suapi kamu ya?" Norin mengangguk. terima kasih Nis."


"aku tadi bertemu dengan tuan Shin di luar, tampangnya terlihat kusut dan acak acakan. apa semalam dia abis nungguin kamu Rin?"


"oh, jadi Shin sudah kembali?" tanya youn yang tengah duduk di seberang sofa.


"kembali, maksud kamu?" tanya Norin.


"iya, tadi pagi dia ijin padaku sebelum kamu bangun untuk membeli sesuatu di luar."


"jadi maksud kamu dia ada di rumah sakit ini tadi pagi?"


"bukan pagi ini, dia sudah ada di sini dari tadi malam. Dia juga yang menjaga kamu di ruang ini selain itu dia juga yang mendonorkan darahnya nya untukmu."


"apa?" Norin terkejut mendengarnya. Bagaimana ia sampai tidak tahu kehadiran Shin dari semalam. Semalam Norin sempat sadar kan diri namun ia tidak melihat siapa siapa di ruangnya hanya seorang suster saja, sampai akhirnya ia ketiduran hingga pagi.


"kenapa kamu tidak cerita Youn?"


"bagaimana aku mau cerita, sepanjang malam matamu terpejam."


Norin terdiam."kenapa kamu masih peduli padaku Shin, bagaimana aku bisa lepas darimu kalau kamu sendiri tidak mau menjauhi aku." Norin bermonolog.


Shin melangkahkan kakinya dengan langkah gontai menuju taman kecil rumah sakit tersebut. Ia duduk di bangku panjang yang terdapat di taman itu.


"kenapa harus jadi seperti ini? maafkan aku!" ucap Shin lirih. Cukup lama ia merenung di sana hingga akhirnya merasa bosan dan kembali ke dalam rumah sakit. Sesekali ia mengintip di celah balik pintu yang tidak tertutup rapat, tampak Norin tengah berbicara dengan Anisa.


Cukup lama Anisa bercengkrama dengan Norin hingga tak terasa hari sudah menjelang sore.

__ADS_1


"maaf ya Rin, aku ngga bisa jagain kamu malam ini ?


"iya, kasian Al, kalau kamu tinggal terus. udah sana buruan pulang."


Norin menoleh pada Youn yang sedang bermain ponsel." Youn, apa saya boleh minta tolong?"


Youn mendongak lalu menyimpan ponselnya."mau minta tolong apa nona?"


"tolong antar kan teman saya ini pulang."


Anisa mengerutkan dahinya." lho Rin, kenapa kamu nyuruh dia nganter aku? aku bisa pulang naik angkot lagi lho. Lagi pula kalau dia nganter aku siapa yang jagain kamu di sini?"


"kamu ngga usah khawatir, sakit ku ngga parah, aku masih bisa jaga diri. Udah sana pulang kasian Al dari tadi nungguin kamu."


"mari nona, mau saya antar tidak?"


"Nona nona, nama saya Anisa bukan Nona," protes Anisa, ia risih sekali di panggil nona. Lagi pula Anisa wanita yang sudah menikah, gelar nona tidak lagi berlaku untuknya. Anisa juga tidak mungkin menyuruh Youn untuk memanggilnya nyonya seperti aneh saja di dengarnya, fikir Anisa.


Youn menggaruk tengkuknya." ba baiklah Anisa, mari saya antar."


"ya udah Rin, aku pulang duluan ya?"


"iya, hati hati!"


Anisa dan Youn ke luar dari kamar rawat Norin. Mereka jalan beriringan menuju tempat parkiran mobil.


"silahkan masuk Anisa." Youn membukakan pintu mobil untuk Anisa.


Anisa terdiam mendapat perlakuan manis dari Youn. Ia menelisik wajah pria bermata sipit yang masih memegang pintu mobil. tumben sekali Youn bersikap manis padanya seperti ada udang di balik batu.


"hei, kenapa melihatku seperti itu? kau tau aku takut melihatnya, seram sekali."


Anisa menatap kesal pada Youn, memang wajahnya seseram apa menurut pria itu. Dengan perasaan kesal Anisa memasuki mobil dengan wajah di tekuk.


Youn melirik pada wanita di sampingnya, sepanjang jalan Anisa diam saja tidak bicara sepatah kata pun." kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?apa kau tidak tau jika wajah mu itu tidak enak sekali di lihatnya?"


"kenapa tuan senang sekali mengejek saya?"


"apa menurutmu saya mengejek? saya hanya berbicara sesuai dengan apa yang saya lihat, lagi pula kenapa kamu selalu bersikap ketus?"


Anisa melirik sekilas pada pria di sampingnya lalu menghela nafas."lantas saya harus bersikap seperti apa?"


"setidaknya tersenyum, agar saya enak memandangnya." Youn sengaja menggoda wanita yang terus menerus cemberut mulai dari pertama bertemu hingga saat ini.


Anisa mengalihkan pandangannya ke samping kiri lalu mencebik kan bibirnya."gimana mau senyum sama ni orang, dari pertama ketemu aja udah nyebelin banget."


"nanti di depan ada mini market, tolong berhenti dulu di sana, saya mau beli sesuatu," titah Anisa tiba tiba. Namun, pria yang di ajak bicara diam saja tidak meresponnya.


"di depan ada mini market, saya mau berhenti dulu." titah Anisa lagi dengan suara di keraskan.

__ADS_1


__ADS_2