
Aishi tidak akan tinggal di pondok pesantren lagi karena ia akan segera menikah dengan Ustad Vano di kota asalnya. Meskipun tidak sekolah di pondok pesantren lagi itu bukan berarti Aishi berhenti menuntut ilmu. Tidak, tidak sama sekali karena ada Ustad Vano yang akan menjadi pembimbingnya langsung dalam menutup ilmu.
Ini adalah langkah yang tidak pernah Ai sangka-sangka sebelumnya. Allah kabulkan doa yang mereka langitkan dan Allah satukan pula mereka dalam sebuah ikatan sakral, hanya beberapa waktu lagi ia dan Ustad Vano akan menikah.
Mashaa Allah, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya.
"Ai, aku akan sangat merindukan kamu nanti." Ujar Mega tidak rela.
Saat ini mereka sedang ada di dalam kantor dengan semua barang-barang Ai telah dipindahkan ke dalam mobil oleh Ali.
Ai tersenyum malu,"Jika Ustad Vano mengizinkan...aku akan datang mengunjungi kalian."
Asri memeluk Ai sayang,"Tentu saja, Ustad Vano juga bagian dari pondok pesantren jadi tidak mungkin ia tidak mengizinkan kamu datang. Hanya saja...hanya saja Aishi... hari-hari di pondok tidak akan seru lagi bila kamu pergi." Katanya sedih.
Dia benar-benar merasa sedih melihat Ai pergi.
"Masih ada teman-teman yang lain." Kata Ai tidak berdaya.
Mega menggelengkan kepalanya lebih tidak berdaya lagi.
"Tetap saja, kamu adalah sahabat kami jadi bagaimana mungkin mereka bisa menggantikan posisi mu? Ah, sudahlah. Kami sejujurnya sangat bahagia kamu akhirnya bisa bersatu dengan Ustad Vano meskipun kami agak terkejut karena pernikahan kalian terlalu cepat, ah!"
Kedua pipi Ai kembali memerah dan terasa panas.
"Ini adalah skenario Allah..." Bisiknya bahagia.
Mega dan Asri saling melihat, beberapa detik kemudian mereka tertawa sambil berebutan memeluk Ai.
"Allah sangat mencintai kamu, Ai. Allah akan selalu bersama mu." Bisik Mega tulus.
__ADS_1
"Tidak hanya Ai saja namun Allah juga mencintai Ustad Vano, kalian berdua disatukan Allah setelah melewati banyak ujian. Ai, berbahagialah karena Allah senantiasa bersama kalian." Bisik Asri dengan kedua mata memerah.
Ai tidak kalah harunya dengan mereka berdua.
"Aku tahu, aku tahu Allah mencintai kami dan mencintai kalian semua. Kita akan selalu dalam lindungan-Nya wahai sahabat-sahabat ku."
Mereka berpelukan, berbagi rindu untuk perpisahan jangka panjang yang menghabiskan banyak letih dihati. Hanya Allah yang tahu betapa tulus hubungan persahabatan mereka, hanya Allah yang tahu betapa besar harapan mereka dipersatukan kembali di dalam surga-Nya. Hanya Allah yang tahu bahwa mereka saling menyayangi sudah seperti saudara sedarah.
Hanya Allah yang tahu.
"Mega, apa kamu sudah menyiapkan barang-barang mu, Nak?" Suara lembut seorang wanita langsung menginterupsi acara hangat mereka.
"Mama?" Mega sangat terkejut.
Benar, wanita cantik dengan penampilan sederhana yang kini sedang berdiri di depan Mega adalah Mama Mega. Wanita yang dulunya suka berpenampilan glamor dan pamer kini tampil dengan kesederhanaan yang menyejukkan.
Dia sudah berubah sepenuhnya.
"Enggak, maksud Mega kok Mama ada di sini?" Tanya Mega heran.
Mama lebih bingung lagi,"Bukannya Mama dan Papa sudah berpesan kepada Azam kalau malam ini kami akan menjemput kamu pulang?"
Mega semakin tidak mengerti. Pasalnya Ustad Azam tidak pernah berbicara apapun kepadanya mengenai ini dan yang lebih penting lagi untuk apa Mama menjemputnya pulang?
"Pulang? Mega kok pulang sih, Ma? Bukannya Mega masih sekolah yah di sini?"
Mama berdecak gemas,"Mulai hari ini kamu sudah resmi keluar dari pondok pesantren dan akan kembali pulang ke kota bersama kami."
Mega terkejut- tidak, tapi Ai dan Asri pun tidak kalah terkejutnya.
__ADS_1
"Kenapa...kenapa Mega keluar dari pondok pesantren?" Tanya Mega tidak rela.
Mama mencubit pipi Mega kian gemas. Dengan suara lembut dan halusnya, ia mengatakan hal yang sangat mengejutkan untuk Mega ataupun untuk Ai dan Asri.
"Mega pulang ke rumah untuk mempersiapkan pernikahan. Bukankah Mega sudah lama menyukai Azam, Hem?"
Jantung Mega berdebar sangat kencang,"Mega...Mega akan menikah dengan Ustad Azam?"
"Benar, Nak. Azam sudah menyatakan kesungguhannya ingin menikahi mu kemarin dan dia juga sudah mempersiapkan hari pernikahan kalian. Apa Mega tidak mau?" Mama menguji.
Mega sontak menggelengkan kepalanya bahagia,"Mega mau, Ma! Mega mau!"
"Mau apa, hem?" Tanya Ustad Azam datang bersama Papa Mega.
Pipi Mega langsung bersemu merah, malu, ia segera memeluk Mamanya menahan perasaan bahagia yang terus saja bergejolak di dalam hatinya.
"Ustad Azam, ih!" Mega ingin menyembunyikan wajahnya dari Ustad Azam!
Ya Allah, betapa malunya ia!
Ai dan Mega malam ini mendapat kabar gembira tapi tidak dengan Asri. Ia sendirian di tempat melihat betapa bahagia kedua sahabatnya. Setelah malam ini ia akan benar-benar sendirian di sini bersama perjuangannya untuk melupakan Kevin.
Ia harus sendirian mulai sekarang.
Bersambung...
Tamat apa enggak nih?
Ngomong-ngomong apa sih alasan reader mau baca novel ini, secara novel ini bab nya banyak banget!
__ADS_1
Mohon komentarnya yah🍃