
"Apa yang Ayah kalian katakan benar. Jika ingin lulus dari dunia ini maka cintai Allah dengan tulus dan hiduplah berdasarkan pedoman Al-Qur'an serta hadis. Kita di sini tidak akan lama, hidup di sini hanya sebentar saja tapi sangat berperan penting untuk masa depan kita di kampung akhirat. Maka dari itu gunakanlah kesempatan sisa waktu kita dengan sebaik-baik mungkin karena kita tidak akan pernah bisa kembali ke tempat ini untuk memperbanyak amal setelah memasuki alam kubur nanti." Kata Mega seraya menyandang kepalanya di pundak Asri, membawa tatapannya mengikuti jejak Ai memandang hamparan langit biru yang tidak berujung.
"Kedua orang tua kita menginginkan hasil yang baik untuk kehidupan kita selanjutnya tanpa bermaksud mencela dunia. Dunia ini memang ujian tapi segala sesuatu yang ada di sini adalah bagian yang paling sangat sederhana dari kenikmatan kampung akhirat. Jadi, hiduplah dengan sederhana untuk dunia tanpa takut hidup berlebihan untuk akhirat, Allah'ualam bishawab."
Ai tersenyum lembut,"Aku senang berbincang-"
"Kak, Kak Mega!" Panggilan bernada tinggi Sasa segera menarik Mega dari lamunannya tentang hari-hari ketika ia dan sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu bersama.
Itu adalah hari-hari singkat yang penuh akan kehangatan, Mega rindu ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
"Oh.." Mega gelagapan dan baru menyadari Sasa sudah ada di sini.
Sejak kapan Sasa masuk ke dalam kamar dan kenapa ia tidak pernah menyadarinya padahal pintunya akan menimbulkan suara nyaring bila dibuka.
"Dek, kamu kapan ke sini?" Ia bertanya heran.
Menarik tangan Sasa agar duduk di sebelahnya di atas ranjang.
__ADS_1
Hari ini rumahnya sangat hidup karena banyak keluarga, tetangga, dan kerabat jauh datang untuk membantu acara akad yang akan dilakukan tiga hari lagi.
Akad, jadi siapa yang akan menikah?
Tentu saja, orang yang akan menikah adalah Mega dan Ustad Azam. 4 hari yang lalu setelah pulang dari pondok keluarga Azam segera datang ke rumah untuk membicarakan hari dan tanggal pernikahan. Hasil keputusan kedua belah pihak bahwa hari pernikahan atau akad jatuh satu minggu lagi yang digabungkan dengan acara resepsi untuk mempersingkat acara.
Ini adalah hasil terbaik dan lebih cepat dari yang mereka semua harapkan. Situasi ini juga sama dengan Ai dan Ustad Vano, itulah yang Ustad Azam katakan kepadanya.
Padahal Mega ingin sekali melihat Ai datang ke acara pernikahannya. Namun, karena tidak memiliki nomor kontak masing-masing dan ditambah acara pernikahan dilakukan berdekatan, mereka tidak bisa saling menghadiri.
"Mashaa Allah, Kak Mega udah kenal siapa aku? Pasti Mas Azam yang cerita, yah!" Tuduh Sasa tidak terima.
Tapi Sasa yang ada di depannya saat ini sedikit kekanak-kanakan dan tampak lebih ceroboh. Ia mengingatkan Mega pada gadis polos berkacamata tebal yang sering datang menginap di rumah beberapa tahun yang lalu.
"Ustad Azam memang yang ngasih tahu, mungkin 2 minggu yang lalu." Jawab Mega mengira-ngira.
Sasa terkejut,"Selama itu?"
__ADS_1
Mega tertawa kecil melihat betapa konyolnya ekspresi Sasa saat ini.
"Yah, mungkin sudah dua minggu yang lalu."
Sasa kian konyol saja ekspresi wajahnya.
"Jadi ..jadi selama waktu itu Kakak sudah mengenal ku sebagai Arumi tapi berpura-pura tidak tahu dan memilih untuk menonton sikap kekonyolan ku bersama Khanza?" Sasa gatal ingin mencubit perut Ustad Azam.
Oh, betapa malunya ia ketika membayangkan bagaimana ekspresi Mega ketika melihat sandiwara konyolnya selama ini di pondok pesantren.
Mega menggelengkan kepalanya,"Kakak gak tahu apa maksud kamu melakukan itu, dek. Mungkin karena kamu tidak ingin santri-santri tahu hubungan kita atau mungkin juga karena alasan yang lainnya. Namun dari semua alasan itu Kakak akan memakluminya dan menganggap itu hal yang wajar saja. Lagipula, kamu juga melakukan ini kepada Ustad Azam jadi bagaimana mungkin aku akan berburuk sangka kepadamu atau yang lebih aneh lagi menertawakan mu? Tidak, dek. Kakak sungguh tidak melakukan itu."
Saat itu ia benar-benar salah paham dengan hubungan ambigu yang terlihat diantara Ustad Azam dan Sasa, ia pikir alasan kenapa pertunangannya dibatalkan adalah karena Sasa. Di tambah lagi interaksi ambigu antara Ustad Azam dan Sasa di pondok pesantren semakin memperkuat dugaannya.
Tentu saja sangat menyakitkan dan menyesakkan tapi tidak setelah Ustad Azam menjelaskan bila Sasa adalah Arumi, gadis polos yang selalu pergi mengekorinya kemana-mana beberapa tahun yang lalu.
Dia sangat terkejut pada awalnya tapi perasaan bahagia lebih mendominasi keterkejutannya. Dia bersyukur karena ternyata apa yang ia pikirkan salah dan ia lebih bersyukur lagi karena perasaan cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Walaupun hubungan ini diawali dari perjodohan tapi nyatanya apa yang mereka berdua rasakan tidak saling bertolak belakang ataupun bertepuk sebelah tangan.
Mereka saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain, mereka tidak bisa berpisah.