Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Cerita bersama Pak Boss


__ADS_3

Dan ...


"Rasanya enak banget Nad, kamu belajar dimana ?." tanya Pak Nathan lalu menyuap kembali


"Hehe syukurlah kalau enak Pak, saya kan pernah usaha bikin bubur ayam Pak, yaa cuma gak sampai lama, karena ada fitnahan akhirnya usaha saya bangkrut." ucapku mengenang masa lalu


"Ya ampun koq bisa gitu, yaudah kalian makan dulu yaa, jangan cuma liatin saya aja." ucap Pak Nathan


"Iya baik Pak." ucap kami bersama


Lalu kami pun menyantap bubur ayam bersama setelah itu minum susu jahe merah dan aku pun langsung bergegas ke dapur untuk mencuci piring.


"Lho Nad kamu mau kemana, bukannya sebentar lagi waktu nya kerja?." ucap Pak Nathan sambil minum susu jahe merah


"Saya mau cuci perabotan dulu Pak, masalah kerja mah gampang, masih lama waktu nya." ucapku tersenyum


"Oh gitu, ok. Nanti kamu bareng sama saya yaa ke Kafe nya, pokoknya gak boleh nolak." ucap Pak Nathan


"Iyaa baik Pak terimakasih." ucapku


Lalu aku dan Bi Asih bekerja sama untuk mencuci piring. Dan sudah selesai , aku pun mengambil tasku dikamar dan pamit pada Bi Asih.


"Yuk Nad, masuk." ucap Pak Nathan


Lalu aku masuk ke mobil nya dan Pak Nathan membantu aku memakai seatbelt. Deg-degan banget rasanya deket Pak Nathan, serasa jantung mau copot.

__ADS_1


Lalu pak Nathan pun mengendarai mobilnya sendiri, meskipun ada Mang Asep, Pak Nathan jarang meminta ditemani, karena Pak Nathan kasihan dengan Bi Asih, dirumah sendirian. Jadi Mang Asep ditugaskan menjaga rumah agar aman.


Ditengah hening nya perjalanan dan lamunanku Pak Nathan berkata "tumben kamu jaim gitu Nad, apa cuma didepan saya yaa?, kayaknya kalau sama yang lain kamu ceria banget." tanya Pak Nathan


"Ya iyalah aku jaim, kan aku didekat orang yang aku cinta." batinku


"Eh nggak koq Pak, saya cuma takut Bapak nggak fokus nyetir." ucapku tersenyum


"Masa sih, terus gimana kabar keluarga kamu, kamu mau pulang setiap sebulan sekali atau gimana?." tanyanya


"Kayaknya saya pulang nanti aja Pak, pas sudah 3 bulan, paling kalau gajian yaa saya transfer." ucapku santai


"Oh begitu, kapan-kapan ajak saya yaa kalau kamu mau ke Bogor, kayaknya asyik tuh." ucap Nathan dengan fokus menyetir


"Dengan senang hati Pak, kalau Bapak mau ikut boleh banget, yaa tapi Bapak harus tahan kalau ikut saya, disana orang-orang nya kayak netizen di internet, suka ngegosip Pak." ucapku tertawa


"Sering pake banget Pak, dibilang perawan tua lah, penggoda suami orang lah, lebih parahnya dibilang nggak laku, jadi tuh kalau saya belanja sayur ataupun cuma ke warung aja nih Pak, langsung diserang atau bahasa sekarang yaa di bully gitu, tapi untungnya saya nggak baper cuma kesel doang, saya lawan deh mereka atau saya tinggal pergi." ucapku antusias


"Ya ampun Nad, ternyata kamu emang konyol banget yaa, bukan ditempat kerja aja yaa ternyata, by the way memang usia kamu berapa ?." tanyanya


"Saya 28 tahun Pak, makanya saya dibilang perawan tua, ya karena saya belum nikah." ucapku pelan


"Saya kira kamu masih usia 20 tahunan Nad, soalnya kamu kelihatan imut, tapi yaa Nad, nggak usah dengerin, kalau dikota itu wajar-wajar aja usia segitu belum nikah, yaa kalau belum ketemu jodoh kan gak harus dipaksa juga, ya tapi kamu juga harus berusaha cari sih, setidaknya pacar." ucapnya


"Hehe iyaa Pak, tapi kalau di desa mah yaa nikah harus muda, jangan sampai diatas 25 tahun, kalau gak akan bernasib mengenaskan, diejek atau dijodohkan bahkan sama duda." ucapku sedih

__ADS_1


"Hemm, tragis juga yaa, saya juga sudah 30 tahun lho Nad, tapi yaa emang sih suka ditanyain soal nikah sama keluarga, namun saya dan Melisa masih belum siap tahun ini." ujarnya


"Ya Bapak kan laki-laki, kalau laki-laki mah bebas Pak, bahkan dari segi memilih jodoh pun enak, gampang Pak, gak kayak perempuan harus dipilih dulu, apalagi perempuan kayak saya, yaa Bapak tahu lah saya nggak ada apa-apa nya." ucapku galau


"Ya nggak juga, laki-laki juga gak boleh ketuaan sebenarnya, nanti anak nya disangka cucunya kalau nikah ketuaan, masalah nya sebenarnya saya belum 100% yakin, entah kenapa saya belum yakin seutuhnya dengan Melisa, masih ada banyak bagian dari dirinya yang gak bisa saya tahu, padahal saya sangat mencintainya, bertahun-tahun saya berjuang untuknya.Sampai butuh waktu lama mendapatkan hatinya, tapi koq dia kayak kasih nyimpen sesuatu yang nggak saya tahu." ucapnya pelan


"Ya mungkin Nona Melisa masih memikirkan karir Pak, secara kan masih mudah juga untuk perempuan karir, yaa Bapak sabar dan berdoa aja minta Tuhan tunjukkan apakah dia jodoh Bapak atau nggak."ucapku menyemangati padahal aku sudah ingin memberi tahu siapa sebenarnya yang dicintai Melisa, namun tunggu bukti terkumpul


"Iya makasih Nad, doain yaa biar kami berjodoh dan maaf aku nggak bermaksud curhat sama kamu." ucapnya


"Iya saya akan mendoakan yang terbaik." ucapku


"Doanya adalah ya Tuhan semoga Pak Nathan tidak berjodoh dengan Bu Melisa, jikapun berjodoh semoga Engkau putuskan perjodohan nya, aamiin." ucapku dalam hati


"Oh yaa kamu sebenarnya ada hubungan apa sama Satrio, kayaknya tuh anak suka sama kamu?." ucap Pak Nathan


"Yaa cuma temen Pak, kayak yang saya bilang sama Bapak waktu itu, lagian mana mungkin Pak Satrio suka sama perempuan cupu kayak saya, kan selera nya katanya cantik dan seksi?" ucapku malas


"Ya aku ngerasa kalian cocok sih , kan Satrio butuh perempuan ceria kayak kamu, dia tuh aslinya kesepian Nad, sejak kecil sudah yatim piatu, orang tua nya meninggal saat kecelakaan dan sampai sekarang pelaku nya belum tertangkap, karena bukti belum kuat." ucap Pak Nathan sedih


"Ya Allah, innalilahi wa innailaihi rajiun, saya gak nyangka Pak Satrio sesedih itu, padahal kelihatan nya dia menyebalkan dan ceria-ceria saja, ternyata hidupnya menyedihkan banget, pasti berat menjadi dia." ucapku ikut bersedih


"Ya begitulah Nad, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di hidup seseorang, kaya itu bukan jaminan untuk kita selalu bahagia, karena kebahagiaan sebenarnya adalah saat kita berada didekat orang-orang yang kita cintai." ucap Pak Nathan


"Iya Pak, terus Pak Nathan sendiri bahagia? maaf Pak bukan bermaksud lancang, orang tua Pak Nathan sekarang berada dimana?." tanyaku penasaran

__ADS_1


"Ya saya bahagia sekarang, ada Melisa dihidup saya, ada Satrio dan ada kalian dirumah sebagai keluarga baru saya, orangtua saya ada di Jakarta dan baik-baik saja, saya sering koq pulang kan pekerjaan saya ada Pak Beni yang handle." ucap Pak Nathan


__ADS_2