
"Ya Allah..." Mereka diam-diam mendesah.
Ustad Vano mendengar suara protes mereka namun bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Ia lalu berbalik melihat kekasihnya- Ai yang kini sedang tertunduk menatap tanah dengan wajah yang sangat merah sudah seperti kepiting rebus saja.
Ustad Vano gemas melihatnya tapi karena sudah tertangkap basah ia tidak berani lagi membuat Ai semakin malu di depan teman-temannya.
"Kecuali untuk Ai," Kata Ustad Vano sambil berdehem ringan.
"Dia sedang dalam masa pemulihan sehingga tidak bisa melakukan kegiatan yang terlalu menguras banyak energi. Jadi, untuk sementara ia harus meluangkan waktunya beristirahat di asrama sampai kondisimu benar-benar pulih. Aku yakin, kalian mengetahui bagaimana kondisi Ai sekarang dan aku juga yakin kalian tidak akan tega memintanya menjalankan hukuman besok."
Ustad Vano orangnya tidak pilih kasih dalam urusan aturan. Apa yang ia katakan memang benar adanya jika Ai tidak dalam kondisi yang baik untuk menerima hukuman. Apalagi dia sedang dalam masa pemulihan karena tadi siang sempat drop dan baru bisa bangun di sore hari. Kondisi tubuhnya jelas tidak bisa menerima aktivitas yang terlalu menguras banyak energi.
"Ustad Vano tenang saja. Kami semua tahu bagaimana kondisi Ai dan kami juga tidak akan tega memintanya ikut menjalankan hukuman. Daripada bekerja, kami merasa sangat terbantu jika Ai meluangkan waktunya untuk memulihkan diri di dalam asrama. Kondisi Ai adalah yang terpenting untuk kami semua." Mega mengambil inisiatif untuk berbicara.
Karena rumor tadi siang, sikap teman-teman kamar Ai langsung berubah drastis. Mereka lebih ramah dan terbuka untuk Ai, dan bahkan mereka juga membantu Ai membersihkan rumor. Menjelaskan kepada orang-orang bahwa rumor itu adalah sebuah kebohongan besar, Ai adalah gadis yang baik dan cerdas, dia juga sangat ramah kepada teman-teman di kamar dan tanpa sungkan berbagi.
Inilah yang mereka katakan kepada setiap orang yang mereka temui sedang membicarakan rumor. Meskipun tidak bisa menyelesaikan sepenuhnya rumor tapi bantuan kecil ini sungguh sangat berarti untuk Ai pribadi. Dia sangat menghargai dan berterimakasih kepada teman-teman kamarnya yang sudah mau berinisiatif membantu.
Ustad Vano lega mendengarnya,"Terimakasih, aku sangat berterimakasih karena kalian mau memahami kondisi Ai. Dan terakhir mengenai rumor buruk Ai, kalian semua bisa yakin jika besok siang pondok pesantren akan menyelesaikannya secara langsung dibawah pengawasan ku. Aku berjanji, inshaa Allah."
__ADS_1
Rumor ini pasti telah membuat Ai sangat menderita. Dia tidak bisa memberitahu siapa-siapa mengenai kondisi tubuhnya- tidak, bagaimana bisa kondisi tubuh Ai tiba-tiba bocor dan menyebar di pondok pesantren?
Karena orang yang mengetahui tentang hal ini sangat sedikit mengingat kedua orang tua Ai sangat merahasiakan masalah ini. Kecuali dokter, Ustad Vano dan kedua sepupunya, hanya Umi dan Pak Kyai yang mengetahui rahasia ini.
Dan di antara mereka tidak satupun yang akan membocorkan masalah sepenting ini, ia yakin ada orang lain yang telah mencuri laporan kesehatan Ai.
"Ustad, apakah kami akan- apa Ustad baik-baik saja?" Hana melihat Kakak sepupunya sedang melamun.
Ustad Vano tersadar dari lamunannya,"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kalian akan kembali ke asrama? Silakan, kalian bisa kembali ke asrama. Aku tidak akan menahan kalian lagi."
Dia lalu beralih melihat Ai yang masih betah menundukkan kepalanya.
Semua orang,"...." Kemana perginya suara acuh tak acuh barusan?
"Ya, Ustad?" Ai tidak berani mengangkat kepalanya.
Ustad Vano menghela nafas panjang.
"Tolong bawa paper bag nya kembali dan jangan menolak hadiah dariku. Juga, mengenai rumor itu aku akan berusaha menemukan siapa pelaku yang telah berani-beraninya menciptakan fitnah untukmu. Sampai pelakunya tertangkap, aku mohon kamu harus bersabar dan melapangkan hatimu dengan keyakinan bahwa Allah memberikan mu ujian ini untuk membuktikan bahwa Dia juga mencintaimu. Maukah kamu?"
__ADS_1
Ai mengangguk malu. Wajahnya kian panas saja rasanya. Namun, diantara semua perhatian itu hal yang paling membutuhkan Ai tersentuh adalah kata-kata terakhir Ustad Vano. Ini adalah ujian untuknya di dunia ini sebagai bentuk Allah mencintainya. Karena Al-Fudhail bin Iyadh pernah berkata bahwa jika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan memperbanyak kepedihan yang dirasakan hamba tersebut. Namun, jika Allah membenci hamba-Nya, maka dia akan melapangkan seluas-luasnya dunia kepada hamba tersebut, naudzubillah, Ai tidak mau menjadi hamba yang dibenci oleh Allah. Ai tidak ingin, jika Allah membencinya maka ia tidak akan punya siapa-siapa entah itu di dunia maupun di akhirat nanti, naudzubillah.
"Ai mau, Ustad. Karena Ai yakin ini adalah salah satu ujian dan Ai yakin Allah senantiasa selalu bersama Ai. Ustad, terimakasih karena telah mau membantu Ai."
Ustad Vano tersenyum,"Aku tahu kamu adalah orang yang cerdas. Satu lagi-"
"Ekhem," Hana memberikan kode sambil menepuk kedua tangannya seolah-olah ada nyamuk di sini.
Ustad Vano menghela nafas panjang,"Baiklah, kalian bisa kembali dan jangan lupa hukuman kalian besok."
Semua orang,"...." Bagaimana hukuman sekejam ini bisa kami lupakan begitu saja!
...🍁🍁🍁...
Mereka semua kembali ke asrama diiringi suara-suara godaan untuk Ai. Terlepas hukuman yang akan mereka terima besok, suasana hati semua orang sangat menyenangkan sampai akhirnya mereka mendengar suara cemoohan salah satu teman kamar mereka yang entah sejak kapan sudah kembali di kamar. Padahal semenjak sholat magrib mereka tidak pernah lagi melihat anak ini, dia menghilang entah kemana tanpa mengatakan apa-apa kepada teman-teman kamar yang lain.
"Oh, jadi kalian masih mau berteman dengan gadis 'jejadian' ini?" Tanya Sari dengan suara mencemooh.
Bersambung..
__ADS_1