
Tiba tiba awan terlihat mendung."sepertinya sebentar lagi akan turun hujan Youn." ucap Shin.
"lebih baik kita kembali pulang ke mansion aja Hoon!"saran Youn.
Shin mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya itu.
Mereka berdua menoleh pada tempat dimana dua wanita tadi menunggu tapi tempat itu sudah kosong.
"kemana mereka berdua perginya Youn?" Shin mulai cemas.
"mungkin mereka menunggu di paviliun, kita susul saja ke sana Hoon."
"let's go.....!"
Mereka berjalan cepat menuju paviliun yang terletak cukup jauh dari mereka. Tiba di sana mereka mencari cari dua wanita tersebut namun tidak menemukannya.
"kemana mereka perginya Youn?"Shin mulai panik.
"apa mereka pulang duluan?
"pulang dengan apa? jalan kaki imposible. lihat mobil saja masih terparkir di depan." ucap Shin sambil mengacak acak rambutnya. Shin merasa khawatir sekali apa lagi hari semakin gelap.
"kita cari pakai mobil saja, siapa tau mereka berjalan jalan di tepi lapangan golf ini," saran Youn.
Tidak mau membuang waktu lagi, mereka berjalan cepat ke arah mobil mini yang sedang terparkir.
Youn lebih dulu menaiki mobilnya."Hoon, aku cari mereka ke arah barat dan kau cari ke arah timur." kemudian ia melajukan mobil mininya menuju arah barat.
Shin tak kalah cepat dengan Youn, ia segera menaiki mobilnya menuju arah timur.
Sementara di tepi sungai. Dua wanita tengah kebingungan mencari tempat berteduh sementara gerimis mulai turun rintik rintik.
"gimana ini Rin, kita berteduh dimana?" Anisa mulai panik, begitu pula dengan Norin. Namun dari kejauhan nampak sebuah mobil mini menghampiri mereka.
"ladiiies.....!" teriak Youn yang sudah hampir mendekati mereka.
"tuan Youn....!"ucap mereka bersamaan.
Youn memberhentikan mobilnya tepat di depan mereka.
"come on...naik !" Anisa dan Norin saling pandang, mereka bingung siapa yang di suruh naik oleh pria itu.
"maksud tuan siapa yang naik ke mobil tuan?"
"siapa lagi kalau bukan wanita garang yang ada di sampingmu. kalau aku yang memintamu untuk ikut denganku Hoon bisa menghajar ku. Cepetan kau naik, dan untuk nona Norin tunggu saja sampai kekasihmu datang."
Anisa menoleh pada Norin seolah olah ia tidak mau meninggalkan sahabatnya sendirian di tepi sungai.
"Rin......!"
__ADS_1
"ngga apa apa Nis, cepat duluan aja sebentar lagi hujan besar. ngga usah khawatir, Shin pasti datang menjemput ku."
"come on....!"pinta Youn dengan rasa tidak sabar.
Anisa bergegas menaiki mobil tersebut."nona Norin tidak usah khawatir sebentar lagi Hoon pasti datang,"ucap Youn menenangkan wanita yang hendak mereka tinggal.
Youn melajukan mobilnya kembali meninggalkan wanita itu sendirian di tepi sungai.
Hujan mulai turun lebat, Norin masih berdiam diri di tepi sungai tersebut karena tidak ada tempat untuk berteduh.
"kamu dimana sayang?" gumam Shin, ia memberhentikan mobilnya lalu berputar arah menuju arah barat karena arah timur tidak menemukannya.
Dari kejauhan, Shin melihat wanitanya tengah berdiri di bawah guyuran air hujan yang lebat serta kilat yang saling bersahutan. Kemudian ia segera melajukan mobilnya dengan cepat. Shin memberhentikan mobilnya tepat di depan wanita yang tengah kedinginan sambil bersedekap menahan rasa dingin yang menjalar di tubuhnya.
"cepat naik!" suruh Shin. Kemudian Norin langsung menaiki mobil tersebut.
Shin melajukan mobilnya dengan cepat, sesekali ia melirik wanita yang tengah kedinginan luar biasa.
Kemudian Shin memberhentikan mobilnya di paviliun kecil miliknya. Setelah itu mereka turun dari mobil lalu memasuki paviliun tersebut. Shin menatap iba pada wanita yang tengah berdiri dengan tangan gemetar serta bibir yang membiru. Kemudian Shin segera membuka jaket tebalnya lalu menyodorkannya pada wanita itu.
"bukalah bajumu dan pakai ini, setidaknya bisa mengurangi rasa dingin di tubuhmu."
Norin mengambil jaket itu tanpa ragu, karena ia sendiri sudah tidak tahan lagi atas rasa dingin yang ia rasakan.
"terima kasih tuan." kemudian ia beranjak ke kamar mandi.
Norin mulai membuka baju serta jilbabnya, lalu memakai jaket milik Shin. ia juga membuka celananya untuk di peras terlebih dahulu lalu di pakai kembali.
Shin mendongak kan wajahnya melihat wanita itu berdiri kaku."duduk lah," ucap Shin kemudian.
Norin mengangguk, kemudian ia duduk di atas sofa yang terpisah.
"kenapa duduk di situ? kenapa tidak di sini?" tanya Shin sambil menepuk sofa di sampingnya.
"maaf tuan, celana saya basah, saya tidak mau membasahi pakaian tuan," Norin beralasan.
"O, begitu !" Shin mencebikan bibirnya."its okey!" ucapnya kemudian.
Shin memainkan lagi ponsel di tangannya tanpa menghiraukan wanita di seberangnya. Namun, sesekali ia mengintip lewat ekor matanya melihat wanita yang sedang menggosok gosokan kedua tangannya. Ingin rasanya Shin menggenggam tangan itu dan memeluk nya erat memberi kehangatan untuknya. Namun, mengingat atas permintaan wanita itu bahwa ia tidak boleh menyentuhnya secuil pun sebelum dirinya dinikahi olehnya membuatnya tidak mempedulikannya lagi.
"dia sendiri yang meminta aku untuk tidak menyentuhnya, jadi biarkan saja dia kedinginan seperti itu. Aku ingin melihat sekuat apa dia sehingga tidak membutuhkan pelukanku." Shin bermonolog.
Hujan belum saja mereda hingga Norin tertidur di atas sofa dengan posisi melengkung. Shin menghentikan aktifitasnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
"kasian sekali kamu, pasti merasa tidak nyaman tidur seperti itu."
Shin berdiri, lalu mendorong sofa yang tadi di duduki olehnya di satukan dengan sofa yang sedang di tiduri oleh Norin agar ketika wanita itu menggeliat tidak terjatuh ke atas lantai.
Sebenarnya di paviliun itu ada dua kamar yang kosong. Selain karena tidak ingin menyentuhnya Shin takut akan membuat wanita itu terbangun.
__ADS_1
Shin mendekati wajah wanita yang sedang tertidur hendak mengecup keningnya. tapi, lagi lagi ia teringat atas permintaan wanita itu, Shin pun mengurungkan keinginannya.
"jangan pergi...!"Norin mengigau.
Shin tersenyum."apa kau sedang memimpikan aku sayang? aku tidak akan pergi. tidurlah, aku akan menjagamu."
Shin duduk di atas lantai, menyenderkan sebelah pipinya di undakan sofa sambil memandangi wajah polos nan cantik di hadapannya hingga ia tertidur.
Entah berapa lama mereka tertidur hingga akhirnya Norin terbangun dan mendapati wajah tampan sedang tertidur di hadapannya dengan posisi terduduk di atas lantai.
Cukup lama Norin memandangi wajah tampan itu hingga sang empunya mengejapkan matanya dan menangkap basah wanita yang tengah memandanginya.
"apa kau merindukan ku hem?" tanya Shin tiba tiba.
Norin tersentak kemudian menegak kan tubuhnya dengan posisi duduk. Ia malu pada pria tersebut.
"hujan seperti nya sudah reda? apa sebaiknya kita kembali ke mansion saja sekarang?"
Shin tersenyum, ia tau bahwa wanitanya sedang mengalihkan pertanyaannya.
Shin berpindah duduk ke atas sofa."sepertinya malam ini kita akan menginap di sini?"ucap Shin dengan santai.
Norin terperangah."ke kenapa harus menginap di sini? bukan kah mansion tuan tidak terlalu jauh dari sini? bagaimana kalau Anisa mencari saya? lagipula saya ingin pulang ke rumah saya hari ini."
"kenapa ingin pulang ke rumah mu? apa kau takut aku menyentuhmu? aku tidak boleh menyentuhmu sebelum aku menikahi mu, itu kan yang kau inginkan? jadi kamu tenang saja karena aku tidak akan pernah lagi menyentuh mu."
Norin merasa saliva nya tercekat di tenggorokannya. Matanya mulai berkaca kaca.
"bukan kalimat itu yang aku harapkan keluar dari mulutmu Shin, aku hanya ingin di nikahi terlebih dahulu bukan malah kamu berhenti untuk menyentuhku. Apa aku ini wanita yang ngga layak jadi istrimu Shin ?"gumam Norin dalam hati.
"tidak usah menangis, aku hanya becanda saja. lagi pula siapa yang mau tidur di paviliun ini, disini banyak binatang buasnya."
Shin tidak paham apa yang membuat mata wanita itu berkaca kaca. Ia fikir Norin mau menangis karena tidak mau tidur di paviliun tersebut.
"ayok kita pulang sekarang, lagi pula kau sudah lapar bukan."
Norin berdiri dan berjalan mengekor di belakang Shin menuju mobil mini.
Sementara di mansion, Anisa berjalan bolak balik di hadapan pria yang tengah duduk di atas sofa. Ia khawatir pada Norin yang belum datang juga ke mansion.
"apa kau tidak bisa duduk dengan tenang nona? kenapa bolak balik seperti itu? seperti setrikaan saja. kau tau mata ku capek melihatnya?"
Anisa menatap kesal pada pria yang protes itu." suruh siapa mata tuan liatin saya? terserah saya lah mau bolak balik, mau maju mundur atau mau jungkir balik, yang punya tubuh kan saya, saya yang ngerasain enaknya atau capeknya, bukan mata tuan."
"wanita ini, bener bener jadi ingin me lu mat bibir cerewetnya itu." Youn bermonolog.
"kau tidak usah khawatirkan temanmu itu, di jamin dia akan baik baik saja. apa kau lupa dia sedang bersama kekasih posesif nya?"
"iya juga yah.....!" Kemudian Anisa beranjak pergi meninggalkan pria yang tengah menatapnya dengan tatapan tanda tanya.
__ADS_1
"menggemaskan!" seulas senyum tersungging di bibir Youn.