
"Gimana bagus nggak ?."tanyaku
"Wow, cantik banget kamu Nad, nggak kayak Nadia yang biasa aku lihat, yang dekil."ucapnya meledek
"Iya Tuan, eyke sampai pangling lho liat pacar Tuan, nggak salah pilih Tuan cari pacar, ternyata wajahnya agak hitam-hitam itu dia pakai BB creame yang gelap, jadi sempet ketipu eyke, dia juga nggak minus, terus rambutnya cakep banget ih, udah pokoknya sempurna kalau udah make up sama baju nya cucok kayak gini, eyke jadi gemes."ucap Miranda
"Hehe iyaalah Satrio, pasti pintar cari calon dari Ibu untuk anak-anak gue nanti."ucapnya serius
"Ih apaan sih Sat, udah yuk pulang, aku mau pakai kaos aja ah, ini mah kayak orang mau ke nikahan aja."ucapku kesal
"Iyaa yang penting nanti jangan dihapus make up nya, mahal lho ini, sama kayak gaji kamu di Kafe."ledeknya
"Yaudah kamu juga kan harus istirahat, kita nggak usah mampir-mampir lagi, uangnya kamu tabung aja, dari pada boros-boros."ucapku polos
"Nadia, Nadia, polos banget sih, uang ini nggak lebih berarti dari pada kamu."ucapnya tersenyum
"Uh ekye jadi baper liat kalian ne, langgeng deh kalian berdua,kalau bisa nikahan undang eyke yaa, eyke siap jadi MUA, nanti eyke bikin kalian kayak pasangan pangeran dan putri."ucap Miranda sambil pegang kipas batik
"Haha, doain aja Mir dia mau sama gue, yaudah gue mau balik dulu, nanti kapan-kapan kalau pacar gue mau treatment atau yaa make up, gue kesini lagi deh, thank you Mir, nanti gue kasih tips buat kerjaan lu yang ok ini."ucap Satrio
"Ah sama-sama Tuan, yaudin hati-hati ye, Nadia jaga baik-baik calon laki lu, jarang lho dapet cowok peka dan sayang kayak dia, ati-ati sekarang jamannya pelakor, kalo ye masih sok jual mahal gitu, abis ye ditikung sama cewek gatel."ucapnya tertawa
"Hehe, syukur banget kalau dia ketemu cewek baru."batinku
"Makasih Sis, aku sama Satrio pamit dulu."ucapku malas
__ADS_1
"Dadah pasangan serasi, jangan lupa Tuan, Nadia nya digandeng biar gak hilang, dia kan orang nya gengsian."ucap Miranda tertawa
Satrio hanya menatap Miranda dan tertawa. Benar saja dia langsung menggandeng tanganku. Padahal kesal ya tapi mau gimana lagi, kan udah kontrak harus nurut.
"Sat, langsung pulang kerumah kamu yaa, jangan mampir-mampir lagi ah, emang kamu kenapa sih buang-buang uang mulu."ucapku sambil berjalan berdampingan dengan nya
"Hah kerumah kita kali hehe, aku gak buang-buang uang sayang, tapi aku membagikan uang untuk orang-orang tersayang ku, lagian rezeki kan dari Tuhan , harus kita bagikan lagi."ucapnya santai
"Ya bukan gitu, kamu setiap hari aku lihat boros banget, kan kamu harus juga mikirin diri kamu, kita nggak tahu lho apa yang akan terjadi di depan sana, dulu aku juga orang yang punya segalanya, tapi semenjak Bapak ku bangkrut, aku merasakan hal-hal diluar dugaan aku, aku harus kerja buat keluarga, Bapak pernah jadi pegawai biasa bahkan pernah jadi buruh serabutan, kami yang biasanya makan mewah jadi harus menghemat dengan makanan seadanya, bahkan kami sering hanya makan mie instan, lalu aku gak pernah beli baju lagi, yang ada uangnya buat seragam adik-adik ku, ya bukannya aku ngatur, tapi sebagai temanmu, aku hanya menasehati mu supaya hidupmu lebih teratur dan punya persiapan untuk masa tua. Yaa kan nanti ada saatnya kamu punya keluarga kecil, emang kamu mau jadi playboy terus."ucapku menasehati
"Wah ternyata pemikiran kamu hebat juga yaa, aku kira kamu hanya perempuan egois ternyata mampu juga mikirin keluarga dan orang lain seperti aku, kalau kamu tanya aku mau nikah dan berkeluarga apa nggak? yaa jelas aku mau, tapi aku maunya sama kamu."ucapnya tertawa
"Satrio, ih ngeselin deh, udah serius-serius juga, masih aja ngegombal."ucapku kesal
"Eh aku pesan taksi dulu yaa."ucapnya
Lalu Satrio memesan taksi online dan taksinya datang.
Dia membukakan pintu untuk ku.
"Silakan masuk tuan putri."ucapnya
"Ih apaan sih."kataku
Lalu kami masuk ke dalam taksi, karena aku ngantuk sekali dan pegal badanku, aku memutuskan untuk tidur saja, malas juga kalau ngobrol sama Satrio. Yang ada emosi dan darah tinggi aku.
Lalu aku pun tertidur nyenyak.
__ADS_1
Aku pun bangun, tapi ini bukan ditaksi, melainkan disebuah kamar yang besar, wangi dan juga desainnya menarik, seperti rumah bangsawan.
Tiba-tiba ku lihat Satrio sedang sibuk mengetik. Oh ternyata ini kamarnya.
Lalu aku melempar dia dengan bantal, tapi nggak kena juga, takut kena laptopnya, kan nanti ganti rugi mahal, cuma biar dia ngeliat aku udah bangun aja.
"Nadia, apaan sih, ganggu orang kerja aja."ucapnya masih fokus dilaptop
"Ini rumah kamu?, terus tadi siapa yang bawa aku kesini? jangan bilang itu kamu."ucapku kesal
"Ya iyalah aku masa Om Heru, yaa nggak boleh lah, terus kalau si Bibi yaa nggak kuat ngangkat kamu, orang tadi pas aku gendong kamu aja rasanya kayak gendong beras sekarung."ucapnya serius
"Enak aja, aku langsing begini juga, lagian siapa suruh kamu nggak bangunin aku, aku kan bisa jalan sendiri Tuan Satrio."ucapku
"Iya yang bilang kamu nggak bisa jalan siapa? hah, aku kan cuma nggak tega dari malam kamu tidur nya sebentar, yaudah aku nggak mau bangunin kamu sayangku."ucapnya menggoda
"Tahulah terserah kamu, aku izin yaa mau keluar sekalian mau cari udara segar."ucapku
"Oh silakan , mau keliling dan mau apapun bebas, aku masih banyak kerjaan, jadi nggak bisa nemenin kamu, cuma kamu bisa tanya-tanya Bi Nini , beliau ada dibelakang."ucapnya masih sibuk
"Ih kamu yaa masih aja kerja, kerja mulu, bukannya istirahat, kesehatan itu penting tahu, jangan sampai kamu sakitnya malah tambah parah, pentingan juga nyawa dari pada uang kamu itu."ucapku ngomel
"Iya sayang ku, kan aku kerja buat masa depan kita , maksudku buat bayar uang sewa pacar pura-pura."ucapnya meledek
"Tahulah, aku mau keluar dulu, ingetin juga nanti malam aku nggak mau dikamar ini, apalagi sama kamu."ucapku mengancam
"Iya nanti kamu tidur dikamar tamu aja, aku juga nggak bakal ngapa-ngapain kamu koq, aku bukan laki-laki yang jahat sayang."ucapnya
__ADS_1
Sebenarnya risih banget dipanggil sayang, cuma mengingat ini rumah dia, takutnya kalau aku nggak patuh nanti malah ketahuan sama orang-orang disini, terutama Om Heru.