Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Traktir Pecel Ayam


__ADS_3

"Dimana Thoriq dan Akbar ka?" tanya Abdul sambil pandangannya mengitari sekitar.


"Sedang menunggu di dalam toko sana." tunjuk Shin kesebuah toko cukup besar.


Abdul mengikuti arah telunjuk Shin."Oo, apa mesinnya sudah dapat?"


"Belum. mungkin mereka sedang memilih. Ya sudah yuk kita ke sana." Ajak Shin.


Setelah itu, Shin dan Abdul berjalan ke arah toko pompa air. Sepanjang melangkah menuju Toko, bibir Shin tak lepas dari senyuman. Sore ini ia merasa senang sekali telah bertemu sekaligus mengetahui dimana wanita yang sangat ia rindukan itu tinggal. Meskipun hanya sekilas memandang wajahnya setidaknya sudah sedikit mengobati rasa rindunya.


Tiba di sebuah toko pompa air, terlihat Thoriq serta Akbar sedang menunggu ke hadiran Shin dan Abdul. Setelah kedua orang yang di tunggunya datang Thoriq memajukan bibirnya.


"Dari mana aja sih kamu Dul? lama banget tau nungguin kamu." tanya Thoriq dengan wajah di tekuk. Ia kesal karena terlalu lama menunggu dan untungnya pemilik toko tidak mengusirnya.


Abdul hanya menggaruk tengkuknya sambil tersenyum nyengir. Sementara Shin tersenyum lebar. Terlihat sekali sorot matanya berbinar binar seperti yang sedang berbahagia.


"Oya, apa kalian sudah menemukan pompa air yang di cari?" tanya Shin.


"Sudah kak," jawab Akbar.


"Mana?"


"Tuh..!" tunjuk Akbar pada sebuah benda cukup besar tergeletak di atas lantai.


Shin dan Abdul menoleh pada arah yang di tunjuk oleh Akbar.


"Kenapa besar sekali?"tanya Shin sambil pandangannya tak lepas dari pompa air tersebut.


"Besar lah kak, kan menggunakan bahan bakar minyak bukan listrik." Jawab Abdul.


"Iya juga sih. Ya sudah kita bayar sekarang."


"Tapi, bagaimana cara membawanya ke pondok kak? belum lagi kita harus membeli bahan bakar." tanya Akbar sedikit khawatir.


"Kita sewa mobil seperti tadi saja." Saran Shin.


"Pak, tolong kemari." Panggil Shin pada seorang yang sepertinya penjaga toko. Dan pria itu langsung menghampiri.


"Ada yang bisa saya bantu mister?"


"Mesin ini berapa harganya?"


"Oh, ini lima juta mister."


"Apa mesin ini yang paling bagus dan paling mahal?"


"Masih ada lagi yang lebih mahal dan lebih bagus serta awet mister."


"Benarkah? mana barangnya?"


"Itu...!" pria itu menunjuk ke arah sebuah pompa air yang katanya lebih bagus dan mahal.


Shin menoleh ke arah yang di tunjukan. "Berapa harganya?


"Sepuluh juta tujuh ratus."


"What, mahal amat pak." Celetuk Thoriq.


"Ya sudah pak, saya mau yang itu saja. tolong turunkan."


"kak Shin serius?" tanya Akbar.


Shin mengangguk.


"Itu harganya kan mahal banget kak.

__ADS_1


"It's okey. Biarkan saja."


Setelah melakukan transaksi, Shin dan ke tiga kawannya bersama sama mengangkat mesin berukuran cukup besar ke sebuah mobil pick up yang telah mereka sewa.


"Wah, Setengah jam lagi masuk waktu Maghrib kalau kita nekat pulang sekarang takut kehabisan waktu sholat magrib sampai ponpes." Ujar Abdul.


"Gimana kalau kita sholat maghrib di sekitar masjid sini aja?" usul Akbar.


"Boleh juga." Shin menyahuti. Kemudian ia berjalan mendekati sang sopir yang sudah siap untuk membawa mereka pulang ke pesantren.


"Pak, apa bisa tunggu setelah maghrib saja? kami akan sholat magrib dulu di daerah sini? saya akan membayar ongkos tiga kali lipat jika bapak mau."


"Iya, iya saya mau dan saya akan tunggu di sini mister."


Setelah itu, mereka beriringan memasuki sebuah mushola yang tidak jauh dari pasar tersebut. Setelah melaksanakan sholat Maghrib, Shin mengajak ke tiga temannya untuk mencari makan.


"Apa di daerah ini ada restauran?"


"Tidak ada, hanya ada warteg dan warung warung tenda di pinggir jalan."


"Makan pecel ayam aja, aku udah lama banget ngga makan pecel ayam." saran Thoriq tanpa malu.


"Itu kan maunya kamu Thor, kak Shin belum tentu suka sama pecel ayam." Abdul menimpali.


"It's okey, apa saja aku suka. Asal halal dan mengenyangkan." Shin menyahuti. Semenjak tinggal di pondok, makan apa saja yang ada Shin menyukainya tanpa pilih pilih. Terlebih di pondok tersebut hanya menyediakan makanan sederhana saja.


"Ya sudah kalau begitu yuk kita cari pecel ayam itu."


Mereka berjalan beriringan menyusuri jalanan mencari penjual pecel ayam. Setelah menemukan penjual pecel ayam mereka langsung memesan empat porsi. Thoriq menatap satu porsi pecel ayam di hadapannya sambil mengecap kan lidahnya. Shin dan dua temannya merasa geli melihat tingkah Thoriq yang seperti orang sedang ngidam saja.


"Kalian pesan lagi saja kalau kurang."Ucap Shin."


Thoriq melongo," Se serius boleh nambah lagi kak."


"Mau menambah seratus kali pun silahkan saja jika perutmu masih sanggup menampungnya."


Thoriq memajukan bibirnya namun dia tetap memesan satu porsi lagi.


"Oya, apa kalian tau berapa jumlah seluruh santri putera dan Puteri?" tanya Shin di sela sela mengunyah nasi.


"Kalau tidak salah sekitar kurang lebih tiga ratus orang kak. Putra seratus empat puluh dan Puteri kurang lebih di atas seratus lima puluh." jawab Abdul.


"begitu?" Shin manggut manggut.


Shin menoleh ke penjual pecel ayam yang sedang sibuk menggoreng ayam.


"Iya mister."


"Apa ibu bisa menyediakan pecel ayam sebanyak tiga ratus bungkus malam ini?"


Ketiga temannya terperangah."untuk apa kak banyak sekali?" tanya Abdul.


"Untuk adik adik santri di pondok. kita makan enak masa mereka tidak. anggap saja sebagai rasa syukur dan terima kasih ku." jawab Shin sambil tersenyum.


"Maksudnya kak?" tanya Akbar penasaran.


Shin tidak menjawab ia hanya tersenyum saja. Abdul mengerti apa yang di maksud oleh Shin. Ia pun hanya tersenyum. Sementara Thoriq masih asik makan tanpa menghiraukan obrolan mereka.


"Maaf mister, stok ayamnya tinggal seratus potong." ucap tukang pecel ayam memberi tahu Shin.


"Bagaimana kalau separuhnya kita pesan di penjual yang lain kak? agar pedagang yang lain ikut merasakan dagangannya di borong juga kak." Usul Abdul.


"Boleh juga. ya sudah Bu, tolong siapkan seratus bungkus ya. untuk mempersingkat waktu, kami mau mencari penjual pecel ayam yang lain nya dan nanti kami akan kembali lagi kemari dan ini saya berikan uangnya sekarang. Ibu total saja berapa jumlah harganya nanti kalau kurang ibu bilang pada saya." Shin memberikan uang dua juta pada pedagang tersebut.


"I iya baik."

__ADS_1


"Thor, cepetan makannya kami tinggalin nanti." Thoriq yang masih makan melirik ke arah Akbar.


"Nasi ku masih banyak sabar ngapa bar."


"Gimana ngga banyak orang kamu nyampe nambah dua kali."


"Mumpung ada yang traktirin, jarang banget aku makan enak kayak gini." Shin tersenyum mendengar pengakuan teman belianya itu. Apa orang tua Thoriq itu orang susah ? pikir shin.


"Ya sudah tidak apa apa. Biar Thoriq selesai makan dulu baru kita jalan." Shin menimpali.


Akhirnya tiga ratus pecel ayam sudah terkumpul dalam dua kantong plastik besar. Satu kantong plastik untuk santri putera dan satu kantong lagi untuk santri Puteri.


Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke pesantren menumpangi mobil pick up yang mereka sewa. mobil yang membawa mereka berhenti tepat di pintu gerbang pondok putera. bertepatan dengan itu, Abah baru saja keluar dari gerbang setelah mengecek di dalam.


"Abah....!" sapa Shin sambil menyalim tangan Abah.


"Lho lho...kalian dari mana dan barang barang ini apa?" tanya Abah dan pandangannya tak lepas dari beberapa barang yang sudah di turunkan dari atas mobil.


"kami habis membeli pompa air sama bahan bakarnya bah."Jawab Abdul.


"Untuk menyiram tanaman di kebun bah."


"Oo, terus uang siapa yang di pakai?"


"Uang kak Shin." jawab Abdul, Thoriq dan Akbar bersamaan.


Abah menoleh ke arah Shin, sementara Shin hanya menggaruk tengkuknya sambil nyengir.


Abah tersenyum." Makasih ya nak Shin, sudah membantu meringankan pekerjaan anak anak."


Shin mengangguk kecil.


"Abah, apa....Abdul boleh ke pondok Puteri untuk memberikan ini?" Ijin Abdul dengan hati hati sambil menunjukan sebuah kantong kresek besar yang dia pegang.


"Apa itu Dul?


"Ini pecel ayam untuk santri Puteri bah."


"Siapa yang membelikan?"


"Kak Shin membelikan untuk semua santri di sini bah."


Abah melirik ke arah Shin yang sedang menunduk."Makasih nak Shin."


"Sama sama bah."


Kemudian Abah melirik ke arah Abdul." kamu antar ke rumah saja Dul, nanti biar umi yang antar ke santri Puteri."


"I iya bah."


Sementara di pondok Puteri, umi Husna serta di dampingi oleh seorang santri cantik membagikan pecel ayam tersebut ke santri Puteri satu persatu.


"Nay, ini ada sisa satu lagi untuk kamu di makan ya?"


"Makasih umi, tapi apa boleh Inay tau siapa yang membelikan kami pecel ayam ini umi?"


Umi tersenyum." Kenapa penasaran sekali nah?"


"Oh, maaf umi bukan begitu. hanya tumben saja."


"Iya, ini yang membelikannya seorang santri putra yang baru satu bulan lebih mondok di sini."


"oh, begitu ya umi."


"Ya udah umi pulang dulu ya, sepertinya sudah di tunggu sama Abah di rumah."

__ADS_1


"ya sudah umi terima kasih."


__ADS_2