
Youn memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Kemudian, ia memasuki rumah sakit itu untuk menemui Norin kembali di ruang rawat. Nampak Norin sudah bersiap siap akan pulang ke rumahnya.
"apa kamu benar benar mau pulang sore ini juga nona?" tanya Youn yang baru saja nyelonong masuk.
Norin mendongak lalu tersenyum ke arah Youn." hai, Youn. kamu sudah kembali?"
"aku mana tega meninggalkan gadis cantik sepertimu sendirian di tempat ini," gombal Youn.
"apa semua wanita cantik kamu gombali Youn?"
"ha ha ha.....tergantung. kalau wanitanya cantik tapi jutek seperti Anisa aku tidak berani."
Norin tersenyum." meskipun Anisa jutek tapi sebenarnya dia baik Youn tapi tergantung siapa dulu orang yang dia hadapi itu."
"ya aku tau."
"kau tau tentang Anisa?"
"sedikit," jawab Youn lalu menggaruk tengkuknya.
Norin menghela nafas." aku fikir kamu banyak tau tentangnya.
"ya mungkin sedikit tau dulu lama lama akan banyak tau."
Norin tersenyum mendengar kalimat ambigu yang di ucapkan oleh pria bermata sipit itu.
"bagaimana? apa sudah siap pulang sekarang?"
"yeah, im ready. Dan aku juga sudah membayar administrasi rumah sakit."
"are you serious? apa kamu benar sudah membayarnya dengan uangmu sendiri?
"yeah, lagi pula yang sakit kan aku, kenapa harus meminta orang lain untuk membayarnya? kan tidak lucu."
"oh, Hoon. look at your beautiful lady. bagaimana kamu bisa memiliki kekasih yang begitu mengagumkan seperti wanita ini."
"hei, aku sudah tidak memiliki hubungan apa apa lagi dengan tuan Shin. jangan lagi lagi kamu sebut aku kekasihnya." Norin menekuk kan wajahnya.
"ha ha ha...oke oke beautiful lady.
"sebentar, aku ambil kursi roda dulu untuk mu," ucap Youn setelah mereka keluar dari kamar.
"tidak usah, aku masih bisa jalan dengan baik."
"tapi bagaimana kalau kamu sakit lagi karena jalan kaki?"
"apa kamu mendoakan aku sakit lagi ?"
"oh, tidak sama sekali, aku ingin lihat kamu selalu sehat dan ceria setiap hari."
"smoga saja." lalu mereka tertawa bersama.
Mereka berjalan beriringan menelusuri lorong rumah sakit sambil bergurau. Tanpa mereka sadari di belakang mereka Shin menatap nanar.
"apa kamu benar benar sudah tidak membutuhkan aku lagi Rin?" ucapnya sedih.
Mobil yang di tumpangi oleh Youn serta Norin memasuki area komplek perumahan sederhana dimana rumah Norin berada. Sudah sebulan lebih lamanya ia meninggalkan komplek itu membuat dirinya rindu pada rumah mungil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh.
__ADS_1
Seperti biasa, komplek itu selalu ramai ketika sore menjelang magrib.
"apa kamu tinggal di tempat seramai ini nona Norin ?"
Norin melirik pada pria yang sedang mengemudi dengan pelan karena banyak anak kecil berseliweran di jalanan.
"panggil saya Norin, ngga pake nona."
"ha ha....ya ya im forget."
"ya, aku udah tinggal di sini sekitar tujuh tahun lamanya."
"apa dengan keluargamu juga?"
"tidak, aku tinggal sendiri. keluarga saya di daerah lain."
"ooh, aku fikir kamu tinggal bersama dengan orang tuamu seperti Anisa."
"Ehem, sepertinya ada yang ke cantol sama Anisa nih?"
"what, apa ke cantol ?'
"ah, tidak. perasaan nama Anisa di sebut sebut terus, apa jangan jangan...."
"oh, tidak. jangan berfikir yang macam macam. mana mungkin aku menyukai wanita yang sudah memiliki suami seperti Anisa."
"apa aku ada bicara seperti itu?"
Youn mengusap wajahnya, ia jadi salah tingkah sudah terjebak oleh ucapannya sendiri.
"sebentar lagi, lurus saja."
Mobil melintasi rumah Bu Retno, tampak ibu ibu sedang mengobrol di pinggir jalan tepat di depan rumah Bu Retno. Norin mengenali orang orang yang tengah memperhatikan mobil yang sedang di tumpangi olehnya.
"itu mobil bagus mau kemana ya?" tanya Bu Nuning.
"kayak mau ke arah rumahnya Bu Yayuk atau si Norin." ucap Bu Retno.
"ngomong ngomong si Norin, itu orang kemana ya kayaknya aku udah lama banget ngga ngeliat itu orang."
"yah Bu Nuning ini gimana ya, kalau ada orangnya di musuhin kalau ngga ada di tanyain." ucap Bu Wati.
"bukan begitu Bu Wati, rasanya ngga ada dia tu ngga rame aja, ngga ada bahan untuk di omongin ha ha ha."
"tapi kalau menurutku komplek ini tentram kalau ngga ada dia. terus anak ku si Elis ngga ada saingannya."
"lah emang si Elis bersaing sama mba Norin ngerebutin apa ya Bu Retno?" tanya Bu Wati.
"bukan ngerebutin dalam hal apa Bu Wati, tapi ngga ada yang ngalahin kecantikan si Elis di komplek ini," jawab Bu Nuning.
"eh, itu itu lihat, panjang umurnya mba Norin, baru di omongin orangnya datang." tunjuk Bu Wati ke arah dua orang yang baru turun dari mobil.
"lho, lho kok....datang kesini lagi sih." ucap Bu Retno dengan kesal dan kecewa.
"lha, Bu Retno ini gimana sih, itu kan rumahnya mba Norin. apa lagi yang saya dengar rumah mba Norin itu udah lunas jadi dia bisa netap tinggal di sini sesuka hatinya. ngga kayak kita nyicil aja masih nunggu sepuluh tahun lagi. kadang saya mikir kalau ngga ke bayar cicilan takut di ambil alih sama bank ha ha." ujar Bu Wati.
"itu kan Bu Wati, kalau kita mah ngga pernah nunggak tuh ya ngga Bu Retno." Namun wanita yang di tanyai oleh Bu Nuning sedang memperhatikan dua orang yang tengah mengobrol sambil tertawa di samping mobil.
__ADS_1
Bu Nuning dan Bu Wati menoleh pada apa yang sedang di perhatikan oleh Bu Retno.
"kenapa Bu Retno? tanya Bu Wati.
"itu kok lakinya kayak bukan pria yang ngakunya orang kaya itu?" bener ngga sih apa aku salah lihat?"
"Oia benar, benar Bu Retno lakinya lain lagi."
"wah, parah ya si Norin, benar benar ja la ng kelas atas dia. mainannya sama laki laki asing terus gonta ganti lagi. pantas aja dia keliatan banyak duit mulu ternyata nyari duitnya dengan cara nge ja la ng," celetuk Bu Retno.
"huss, jangan asal ngomong Bu Retno, kalau ngga ada bukti nanti jatuhnya fitnah dan pencemaran nama baik bisa di tuntut penjara lho," Bu Wati menimpali.
"halaahh, pencemaran nama baik gimana Bu Wati, wong itu buktinya ada kok. Hampir satu komplek juga tau gimana kelakuan si Norin di luar."
"ha ha ha....jadi ada bahan untuk di gosipin di komplek ini ya Bu Retno," celetuk Bu Nuning.
"betul Bu, aku masih sakit hati sama dia gara gara pria yang pura pura jadi pacar nya ngelempar uang ke arahku, aku ngga terima." ucap Bu Retno menggebu gebu. Bu Retno masih dendam pada Norin dan Shin.
Bu Wati geleng geleng kepala lalu beranjak pergi meninggalkan dua orang yang masih saja membenci Norin. Ia tidak mau ikut ikutan kurang waras kayak mereka berdua.
"apa aku tidak di persilahkan masuk ke rumah mu?" tanya Youn.
Norin nyengir." maaf ya Youn, rumah ku sepi, aku....!"
"takut aku berbuat hal yang tidak tidak sama kamu? ya aku tau, aku memang pria yang suka gonta ganti pasangan tapi aku..."
"Bu bukan begitu maksudku..tapi kamu belum tau gimana tanggapan penduduk sini sama orang asing."
"benarkah? bukan karena kau takut padaku?"
"untuk apa aku takut padamu?kamu bukan hantu kan ?"
"ha ha ha.....!"
"apa kau takut pada hantu?"
"emm, tidak."
"benar kah?"
"ya, karena hantu itu tidak ada di dunia nyata adanya hanya di film film saja."
" ha ha ha....ada ada saja. ya sudah kalau begitu aku pulang saja."
"kamu tidak marah kan karena tidak di persilahkan masuk."
"emm, sedikit." Youn tersenyum
"bye Norin, see you next time!"
"bye Youn, take care!"
Norin melirik ke arah rumah tetangga depan rumah yang terlihat tertutup rapat dan mati lampu.
"kemana Bu Yayuk sekeluarga? dari tadi ngga nongol nongol." gumam Norin.
Kemudian, Norin berbalik lalu memasuki pintu pagar rumahnya.
__ADS_1