
Malam yang dipenuhi rasa duka.
Om Heru segera menghubungi pihak keluarga Bi Nini, untung nya mereka menerima dengan ikhlas kenyataan Bi Nini telah meninggal dunia, mereka meyakini bahwa semuanya sudah kehendak Tuhan. Apalagi ini sebuah musibah yang tidak terduga, kami pun tidak berpikir apapun, selain menganggap bahwa ular yang datang ke kamar barangkali dari kebun, karena disini banyak pohon-pohon. Hanya ada yang janggal bagiku, kenapa seperti ada orang yang sengaja menaruhnya lewat jendela, terbukti suara jendela terdengar dan ada pecahan kacanya, meski kecil. Untuk sementara aku tidak akan bercerita apapun, demi keadaan yang kondusif, tapi aku janji aku akan mencari tahu apakah ini terkait dengan tindak pembunuhan dan jangan-jangan sebenarnya nyawaku yang diincar, mengingat kamar tamu yang didatangi ular. Hufft rasanya hidup ini makin banyak tantangan.
Keluarga korban sudah datang, hanya kami memutuskan untuk memakamkan korban pada saat pagi saja , mengingat ini sudah hampir jam 23.00 . Kamipun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman, termasuk kain kafan dan lain-lain. Rencana nya almarhumah akan dimakamkan di Bandung saja. Keluarga pun sudah ikhlas, meskipun aku lihat raut sedih mendalam dan tangisan yang masih terdengar jelas di telingaku.
Disisi lain Satrio masih meneteskan air mata, namun dia berusaha tegar dengan tetap menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman besok. Kami memutuskan untuk tidak tidur.
Pagi hari tiba.
Almarhumah dimandikan lalu dikafani dan disholatkan bersama dimasjid terdekat. Kami pun bersiap mengiringi jenazah.
Terdengar sepanjang perjalanan kalimat tahlil, La ila ha illallahu. Merinding rasanya, bagaimana tidak, kematian adalah sesuatu hal yang pasti terjadi. Dari sini aku belajar untuk lebih menghargai hidup dan berhati-hati.
Penguburan selesai.
Dan sekarang pembacaan do'a.
Allahummaghfir laha warhamha wa'aafihi wa'fu 'anhaa, wa akrim nuzuulahaa wawassi' mad kholahaa ,waghsilhaa bil maai wats salji wal barodi, wa naqqihaa, minadz dzunubi wal khothooyaa kamaa naqqoits tsaubal abyadhu minad danas. Wabdilha daarool khoiron min daarihaa wa ahlan khoiron min ahlihaa wa zaujan khoiron min zaujihaa, wa adkhilhal jannata wa a’idzhaa min adzabil qobrii au min 'adzaa binnaar.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang sulit; dan masukkanlah ia ke dalam surga dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka."
__ADS_1
Aamiin...
Perlahan-lahan semua meninggalkan pemakaman, hanya keluarga Bibi Nini , aku, Satrio dan Om Heru yang masih dipemakaman. Hari ini ku lihat Satrio sangat pendiam dengan kemeja hitam dan kacamata hitam dia masih membaca doa untuk almarhumah.
Anak-anak Bi Nini terlihat sangat tegar, Bi Nini mempunyai 2 anak, yaitu Perempuan dan Laki-laki yang sudah menikah dan punya anak.
Aku menghampiri anak perempuan Bi Nini yang hendak pulang. Karena katanya bayinya dirumah dijaga mertuanya. Jadi harus dilihat.
"Teh, saya turut berdukacita dan mohon maaf, karena saya tidak sempat menolong Bi Nini, teteh boleh marah sama saya, saya ikhlas."ucapku menyesal
"Nggak Non, kematian itu kehendak Allah, mau lari kemanapun kita tidak bisa menghindari, mungkin sudah jalannya seperti ini, lagi pula akhir-akhir ini Ibu sering memberikan pertanda bahwa hidupnya tak lama lagi, makanya kemarin nggak biasa-biasa nya beliau menginap di rumah Pak Satrio, katanya beliau ingin jagain Tuan muda untuk terakhir kalinya, karena sudah 20 tahun menemaninya sejak Tuan muda berusia 10 tahun. Beliau sangat menyayangi Tuan muda, seperti menyayangi kami, makanya beliau rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Tuan muda yang sejak dulu sudah hidup yatim piatu, kamu nggak usah ngerasa bersalah yaa, aku justru terimakasih karena kamu sudah menemani Ibuku dihari terakhir nya, sebagai keluarga kami sudah ikhlas, apalagi ini musibah, yang mana dalam agama harus diterima dengan lapang dada, agar beliau tenang."ucapnya berkaca-kaca
Dia hanya tersenyum dan meninggalkan pemakaman.
Lalu aku lihat Satrio sedang berbicara dengan suami dan anak Bi Nini yang laki-laki, Satrio berjanji akan memberikan uang senilai Rp 100.000.000,- untuk memenuhi kebutuhan keluarga Bi Nini, yaa meskipun itu nggak akan mengganti nyawa Bi Nini, setidaknya Satrio akan tenang jika keluarga menerimanya. Lalu keluarga Bi Nini bersedia dan langsung pamit kepada kami. Pengajian dan lainnya akan dilakukan dirumah Bi Nini dan yang menanggung semua adalah Satrio sesuai kesepakatan bersama.
Sekarang di pemakaian hanya tinggal kami bertiga. Aku, Satrio dan Om Heru.
Aku pun menghampiri mereka.
Om pun memberikan pesan kepada Satrio.
__ADS_1
"Sat, kamu harus kuat menghadapi ini semua, Om tahu sangat menyakitkan jika kita harus kehilangan berkali-kali dalam hidup, tapi inilah hidup, kita nggak mungkin terus bersama orang yang kita sayangi, Om harap kamu tegar, kalau gitu Om akan memeriksa keamanan rumah dan mencari beberapa pegawai baru untuk rumah, seperti satpam yang menginap dan 2 ART, agar kejadian ini tak terulang lagi, karena Om curiga ini bukan hanya musibah, tapi ada seseorang dibaliknya."ucap Om sambil menepuk pundak Satrio
Satrio masih terdiam memegangi batu nisan.
Lalu Om pergi meninggalkan kita.
"Nad, tolong jaga Satrio, emosinya masih belum terkendali, kasihan dia, Om khawatir ini akan jadi trauma baru untuk nya, Om permisi dulu yaa."ucap Om Heru
"Iyaa Om, hati-hati."ucapku
Lalu aku mendekat ke Satrio, hanya tinggal kita berdua disini.
Akhirnya Satrio bersuara.
"Bi, terimakasih sudah menjaga Satrio sejak kecil, maafin Satrio tidak bisa menjaga Bibi dengan baik, Satrio sayang Bibi, Bibi udah seperti Ibu Satrio sendiri, disaat Satrio sedih dan sendiri, Bibi yang selalu bilang, kalau suatu saat ketika kita mati, kita memang hanya sendiri, jadi kita gak boleh takut, itu pesan Bibi, Bibi yang selalu masakin Satrio walaupun Satrio jarang makan di rumah, Bibi yang selalu menyiapkan semua kebutuhan Satrio, Satrio sudah banyak kehilangan orang yang Satrio sayangi, entah Satrio masih bisa hidup dengan baik atau tidak, Satrio nggak ngerti kenapa semua terjadi pada Satrio."ucapnya bersedih namun tak mau menitikkan air mata, karena takut memberatkan almarhumah
Lalu aku menepuk pundak Satrio.
"Udah Sat, jangan sedih lagi, ada aku yang bakal nemenin kamu mulai sekarang, kamu nggak bakal kesepian dan sedih lagi, aku akan berusaha menghibur mu, ayo kita pulang sudah mendung Sat, Pak Supir juga sudah aku telpon, dia sudah nunggu kita. Yang penting kamu jangan lupa terus doain Bibi dan nanti-nanti kita kesini lagi, bahkan jika kamu mau ke makam orang tua dan Tantemu, aku bersedia menemani mu."ucapku
Lalu Satrio berdiri dan masih memandangi makam Bi Nini dengan sedih, aku menggenggam tangan nya dan mengajak nya pulang, akhirnya dia mau.
__ADS_1