
"Sa, kamu tadi berbicara dengan siapa?"
Sasa menoleh ke samping, dia melihat Almaira mendatanginya dengan senyuman manis nan ceria di wajahnya.
Gadis cantik ini pernah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota Kairo, Mesir. Namun untuk beberapa alasan yang tidak ingin disebutkan dia memilih untuk membatalkan beasiswa tersebut dan lebih memilih melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren ini.
Dia cerdas, Sasa mengakuinya tanpa ragu sekalipun. Namun kecerdasan hati dan kecerdasan pikiran tidak mudah disinkronkan. Contohnya seperti kejadian tadi. Nada dan tingkah laku Tiara sudah sangat jelas menunjukkan ada sesuatu yang salah tapi karena ambisinya terhadap Ustad Vano, Almaira cerobohnya tidak melihat ada sesuatu yang salah.
Inilah salah satu alasan kenapa Sasa tidak terlalu ingin dekat dengan Almaira sekalipun dia cerdas dan putri Pak Kyai. Memangnya ada dengan itu? Fakta bahwa dia adalah putri Pak Kyai dan gadis yang cerdas tidak bisa menutupi sifatnya yang mudah terprovokasi. Teman seperti ini memang biasa diandalkan namun pada saat yang sama juga tidak bisa diandalkan.
Sasa tidak ingin terlalu dekat sampai batas menjalin pertemanan.
"Almaira." Sasa membalas tersenyum.
Dia mengikuti kemana arah mata Almaira melihat.
"Oh, itu adalah adik sepupuku. Dia kebetulan mondok juga di sini tapi sudah masuk tahun kedua." Itu artinya Sasa satu tahun di atas adik sepupunya itu.
"Jadi benar apa yang aku duga tadi. Kalian adalah keluarga karena sekilas aku perhatikan wajah kalian agak mirip." Almaira tertawa kecil, wajah cantiknya yang bersinar merah muda tanpa noda begitu menawan di bawah sinar matahari.
"Benarkah? Kamu adalah orang pertama yang mengatakan aku dan dia mirip."
__ADS_1
Dulu, mungkin dia dan adik sepupunya itu bisa dikatakan mirip di samping ada hubungan darah. Tapi sekarang setelah mengalami perubahan besar tidak ada satu orang asing pun yang menganggap mereka berdua mempunyai kemiripan sehingga Sasa agak takjub ketika mendengar Almaira mengatakan kata-kata yang sudah lama tidak dia dengar.
Almaira secara alami duduk di samping Sasa. Dia sama sekali tidak sungkan berbicara dengan Sasa walaupun ia tahu Sasa terkadang memberikan kesan orang yang tidak mudah didekati.
"Kalian memang tidak mirip dari jauh. Tapi jika diperhatikan dari dekat kalian berdua memiliki sedikit kemiripan. Hanya sedikit dan itu samar." Almaira menjelaskan secara singkat.
Sasa hanya tersenyum ringan. Dia membuka kitabnya kembali ingin melanjutkan bacaannya yang tertunda. Ini juga merupakan sebuah sinyal agar Almaira berhenti bicara dan mengganggunya.
Tapi sayangnya Almaira tidak mengerti, atau lebih tepatnya dia berpura-pura tidak mengerti. Dia hanya ingin berbicara dengan Sasa dan jika bisa, dia ingin membuat sebuah kesepakatan dengan Sasa.
"Em, apa kamu tahu di sini banyak rumor mengenai kedekatan mu dengan Ustad Azam." Almaira sengaja membahas Ustad Azam.
Sasa tersenyum kecil, dia menutup kitabnya untuk yang kedua kali dengan perasaan enggan.
"Kurang lebih seperti itu," Almaira menutupi perasaan canggungnya dengan sebuah senyuman lebar.
"Lalu, apa rumor itu benar? Kalian berdua.. seperti kami?"
Sasa tidak mengerti,"Seperti kamu dan Ustad Vano?"
Dia terlihat berpikir, tangan kirinya yang bebas bergerak mengetuk pegangan kursi di sampingnya. Beberapa detik kemudian dia tersenyum tipis, atau lebih tepatnya menyeringai.
__ADS_1
"Benar, aku dan dia sama seperti kalian berdua. Ini hanyalah sebuah rumor."
Senyuman Almaira langsung membeku. Untuk sejenak dia tidak mengatakan apa-apa karena masih mencerna kata-kata Sasa tadi.
"Rumor? Maukah kamu memberitahuku kebenarannya?" Tanya Almaira seraya memperbaiki ekspresinya berpura-pura tidak tahu dengan makna apa yang ingin Sasa sampaikan tadi dari jawaban singkatnya.
Sasa tersenyum manis. Dia tidak langsung menjawab melainkan segera berdiri dari duduknya dengan kitab yang masih betah dia peluk.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, kebenarannya sama seperti milikmu. Oh," Dia melihat adik sepupunya berjalan kembali mendekatinya.
"Sepertinya aku harus segera pergi ke perpustakaan untuk menemani adik sepupuku belajar. Apa kamu ingin ikut bersama kami, Almaira?"
Almaira ikut berdiri dari duduknya. Dia tersenyum lebar kepada Sasa, bersikap seolah-olah dia sama sekali tidak terganggu dengan kata-kata Sasa barusan.
"Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian berdua. Aku akan kembali ke rumah untuk membicarakan sesuatu dengan Umi." Almaira menolak dengan sikap ramah.
Sasa tidak memaksa.
"Tentu, tolong sampaikan salam ku kepada Umi nanti. Katakan kepadanya nanti malam aku dan yang lain akan menyempatkan diri mampir."
"Inshaa Allah, aku akan menyampaikannya. Kalau begitu, assalamualaikum." Almaira mengucapkan salam sebelum pergi.
__ADS_1
"Waalaikumussalam." Balas Sasa masih berdiri di tempat memandangi pemilik punggung ramping itu bergerak menjauh dari pandangannya.