Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 5.2)


__ADS_3

Selama di dalam dapur Mega selalu menundukkan kepalanya berpura-pura acuh pada kehadiran orang ketiga yang tidak diharapkan. Dia membilas semua alat makan yang kotor dalam diam, membuat Asri yang biasanya banyak bicara juga ikut terdiam.


"Bagaimana kabar Papa dan Mama sekarang? Kenapa mereka tidak meneleponku terlebih dahulu ketika mereka mengirim mu ke sini?" Ustad Azam bertanya ringan di belakang Mega.


Membuat gerakan Mega tersendat dan wajahnya menjadi semakin dingin. Suasana ini jelas sekali bukan suasana yang menyenangkan sehingga Asri memilih bersikap tuli seolah tidak perduli dengan pembicaraan mereka. Meskipun yah dari pembicaraan ini dia menebak jika mereka berdua pasti saling mengenal.


"Kenapa mereka harus menghubungi Ustad Azam hanya karena aku dikirim ke sini? Lagipula Mama dan Papa adalah kedua orang tuaku dan bukan kedua orang tua Ustad Azam. Jadi berhentilah bertindak sok akrab denganku." Ucap Mega galak.


Dia.. tidak ingin berhubungan lagi dengan laki-laki ini dan dia lebih tidak ingin lagi menemukan sikap sok ramah laki-laki ini kepada kedua orang tuanya.


Karena sekali lagi mereka bukanlah siapa-siapa untuk masa lalu, sekarang, dan bahkan di masa depan nanti.


Mega sudah mengalah untuk itu.


Ustad Azam terdiam. Dia menatap gadis ramping yang sibuk membilas piring di air keran dengan pandangan tertunduk. Gadis ini tiba-tiba berubah setelah 1 tahun perpisahan. Dia tidak mengerti alasannya tapi perubahannya yang tiba-tiba tentu saja menarik rasa penasaran Ustad Azam.


Padahal dulu gadis ini selalu berlarian mencarinya, tersenyum kepadanya, dan selalu berbicara banyak jika mereka tidak sengaja bertemu.


Tapi lihat sekarang, ketika melihatnya senyuman itu sudah tidak ada lagi. Bahkan Ustad Azam menyadari jika beberapa kali Mega mencoba memalingkan wajahnya jika mereka bertemu.


Dia bertanya-tanya mungkinkah ini karena perpisahan mereka 1 tahun yang lalu?


Tapi bukankah Ustad Azam sudah menjelaskannya sebelum mengambil keputusan.

__ADS_1


"Mega," Panggil Ustad Azam dengan nada mengingatkan.


"Jangan membawa masalah pribadi di sini. Mama dan Papa mengirim mu ke sini bukan untuk mempermasalahkan urusan pribadi akan tetapi untuk menuntut ilmu. Di sini kita tidak lebih dari dua orang asing jadi aku harap kamu menghormati aturan ini." Sambung Ustad Azam sebelum mengucapkan salam dan keluar dari dapur.


Dia meninggalkan punggung kesepian Mega yang tampak jauh lebih rendah dari sebelumnya.


Mega memalingkan wajahnya berpura-pura mengatur peralatan dapur yang sudah bersih. Padahal dia ingin menghindari Asri agar tidak melihat wajahnya sekarang. Dia sakit dan dia ingin menangis.


Tanpa Ustad Azam ingatkan pun dia tahu bahwa hubungan mereka tidak lebih dari dua orang asing yang harus menjaga jarak. Bahkan aturan ini telah berlaku dari dulu dan Mega sama sekali tidak terkejut. Hanya saja..


Rasanya tetap saja sakit setiap kali diingatkan dan dia bahkan membenci dirinya yang masih bodoh mempertahankan rasa sakit ini.


"Mega..apa kamu baik-baik saja?" Asri khawatir jadi dia datang mendekati.


"Siapa yang menyuruhmu ke sini? Pergi dan fokus bekerja! Aku tidak mau hari pertama ku di sini harus tidur diluar!" Ucap Mega galak seperti biasanya.


Ai dan Mega sama-sama sibuk dengan kisah romansa mereka. Lalu, bagaimana dengan diriku-astagfirullah! Apa sih yang aku pikirkan! Mereka pasti tidak punya hubungan apa-apa dan itu hanya tebakan tidak masuk akal ku saja. Hem! Lagipula kami di sini untuk belajar bukan untuk mencari calon suami-sebenarnya ini tidak apa-apa asal tidak mengganggu sekolah hehe..Pada akhirnya Asri tetaplah Asri. Dia tidak bisa menghilangkan pikirannya dari romansa di pondok pesantren.


Dia tertarik bahkan sangat tertarik untuk mengalaminya!


"Apa kamu sudah selesai?" Tegur Mega setelah kebisuan panjang.


Asri membersihkan kedua tangannya sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, kita bisa pergi sekarang." Katanya seraya berjalan keluar bersama Mega.


Mereka keluar bersama dan menghampiri Ai yang sedang melipat semua kain lap di atas meja. Mereka tidak melihat sosok Sari lagi di sini dan sudah menyimpulkan jika Sari pasti sudah pergi.


"Dia pergi? Baguslah." Ucap Mega tidak bersemangat sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Dia mungkin tidak ingin berteman lagi dengan kita." Kata Ai tidak enak tapi bukan berarti sedih.


"Itu adalah keputusan terbaik, Ai. Tidak ada gunanya berteman dengan orang seperti dia. Apakah kamu tidak ingat ketika dia membalikkan cerita yang sebenarnya di depan Umi? Dia memfitnah kita dan ingin membuat kita terkesan buruk di depan Umi." Asri mengingatkan dengan murah hati bagaimana Sari mencoba menghitamkan nama mereka di depan Umi dan yang lainnya.


Ai juga berpikir mereka lebih baik tidak berteman tapi bukan berarti memutuskan tali silaturahmi.


"Dia benar, Ai. Jika ingin berteman maka carilah orang yang menggunakan hati. Karena jika niat hati mereka tulus maka apapun kelebihan maupun kekurangan mu mereka tidak akan banyak menuntut. Kamu adalah kamu dan mereka tidak akan perduli dengan hak lainnya." Tambah Mega lesu.


Dia menopang kepalanya di atas meja merasa lelah ingin segera tidur.


Ai tersenyum simpul, dia telah menyelesaikan semua pekerjaannya dan mengajak mereka untuk segera kembali ke asrama.


"Yah, seperti kalian, aku bersyukur berteman dengan kalian berdua." Kata Ai tidak canggung lagi dengan Mega.


Mega tertegun, beberapa detik kemudian dia juga ikut tersenyum. Memukul pundak Ai dan Asri dengan gerakan ringan.


"Aku juga bersyukur berteman dengan kalian."

__ADS_1


Biarlah, hari-hari pondok pesantren mulai dari malam ini dilalui dengan cerita suka dan duka mereka bertiga. Menemukan beberapa masalah hanya dalam satu hari membuat mereka tanpa sadar menjalin sebuah ikatan pertemanan.


Yah, setidaknya mereka tidak terlalu kesepian karena terlalu lelah mengurusi hati yang belum kunjung mendapatkan balasan.


__ADS_2