Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Aku menemukanmu


__ADS_3

Shin dan ke tiga teman belianya berjalan kaki menuju jalan umum. Setelah keluar dari gang dan tiba di jalan umum yang sepi mereka duduk di atas rumput meregangkan kaki mereka sambil menunggu kendaraan yang melintasi jalan tersebut.


"Apa di sini tidak ada taksi?" tanya Shin sambil memegangi lututnya yang terasa pegal.


"Tidak ada kak," jawab Abdul.


"Lantas kita akan naik apa perginya?"


"Naik kendaraan yang lewat."


"Maksudmu bagai mana?"


"Kita ikut kendaraan siapa saja yang melintasi jalan ini kak."


"Hah?" Shin mengerutkan dahinya. Ia masih bingung dengan maksud yang di ucapkan oleh Abdul.


Ketika mereka sedang duduk berjejer di atas rerumputan, tiba tiba sebuah mobil pick up melintas. Akbar langsung berdiri lalu berjalan ke tepi jalan dan menyetop mobil tersebut. Mobil pick up itu pun berhenti tepat di hadapan Akbar.


"Maaf pak, apa kami boleh menumpang di mobil bapak?"


"Emangnya kalian mau kemana?" tanya pengemudi mobil tersebut.


"Kita mau ke pasar pak."


"Oh, ya sudah naik saja kebetulan saya akan melintasi pasar."


"Terima kasih pak." kemudian Akbar melirik ke arah teman temanya yang masih duduk di atas rumput.


"Guys, let's go..!"ajak Akbar.


Kemudian Thoriq dan Abdul berdiri lalu berjalan ke arah mobil. Sementara Shin masih duduk di tempat sambil menatap bengong ke arah mobil.


Abdul yang menyadari bahwa Shin masih duduk dan bengong di tempat balik lagi.


"Ayok kak," ajak Abdul sambil menarik tangan kekar Shin. Dan mau tak mau Shin mengikuti Abdul menyeret kedua kakinya mendekati mobil yang akan memberikan tumpangan pada mereka.


"Dimana kita duduk?" tanya Shin.


"Dibelakang kak. Ya udah yuk nanti keburu maghrib." Ajak Abdul.


Mau tak mau Shin menuruti ajakan teman temannya untuk menaiki mobil tanpa penutup itu. Ini merupakan untuk yang pertama kalinya Shin menaiki mobil tanpa penutup. Shin memperhatikan ke arah tiga temannya yang selalu menyunggingkan senyum di bibir mereka. Shin ikut tersenyum melihatnya.


Setengah jam kemudian. Mereka telah tiba di tempat tujuan yaitu pasar. Mereka turun dari mobil satu persatu.


"Terima kasih banyak ya pak."ucap Akbar dan Abdul bersamaan.


"Sama sama."


"Tunggu sebentar pak."cegah Shin sambil mengambil dompetnya yang ia selipkan di saku celana komprang. Kemudian, ia menarik uang lima lembar warna merah lalu memberikannya pada sang sopir tersebut. Ke tiga temannya membelalak kan matanya melihat teman Korea nya itu mengeluarkan uang lima ratus ribu untuk sopir tersebut.


"Ti tidak usah anak muda, saya tidak menyewakan mobil ini."


"Ambil lah pak, uang ini hanya sebagai ucapan terima kasih kami karena sudah bersedia memberi kami tumpangan." Shin memaksa. Dengan ragu akhirnya sang sopir mengambil uang tersebut dari tangan Shin.


"Terima kasih banyak adik adik, saya permisi dulu."


"Sama sama pak, hati hati."

__ADS_1


"Wih, kak Shin banyak duitnya." celetuk Thoriq.


"Orang Korea itu emang banyak duitnya Thor." sahut Akbar.


"Apa iya kak?" tanya Thoriq pada Shin.


Shin tersenyum."tidak benar. Tidak semua orang Korea banyak uang sama hal nya seperti orang Indonesia. Ada yang miskin ada yang kaya."


"Apa kak Shin ini orang kaya?"


"Oh, tidak. Sa..saya sama saja seperti kalian."


"Tapi, kenapa kak Shin uangnya banyak?"


"Kamu kayak wartawan aja Thor, banyak tanya." Abdul menimpali.


"Ya sudah yuk, cari pompa sekarang." Ajak Shin.


Setelah itu, mereka berjalan beriringan menyusuri toko satu ke toko lainnya mencari toko khusus pompa air. Setelah menemukan toko yang mereka cari, mereka langsung memasuki toko tersebut. Abdul yang posisinya paling belakang menghentikan langkahnya melihat seorang wanita sedang memunguti belanjaannya yang berjatuhan di jalanan setelah sebuah motor hampir saja menabraknya. Abdul segera menghampiri wanita yang terlihat sedang kesusahan itu. Sementara Shin dan dua temannya sudah memasuki toko. Shin yang menyadari bahwa Abdul tidak ada di antara mereka pun kebingungan melihat temannya hilang satu.


"Kemana Abdul?" sambil matanya mengitari ke sekeliling toko.


"Masih di luar mungkin kak," jawab Thoriq.


"Yasudah kalian tunggu disini saja biar aku yang mencari Abdul di luar."


"Iya."


Kemudian, Shin keluar dari toko yang cukup besar itu untuk mencari Abdul.


"Kak, saya bantu ya?"Ijin Abdul pada wanita yang sedang berjongkok memunguti barang barangnya yang berjatuhan. Wanita itu melirik ke arah Abdul lalu tersenyum.


Abdul terpana."Subhanaallah bidadari turun dari mana ini cantik sekali." Puji Abdul dalam hati. Kemudian ia segera membantu wanita tersebut.


"Terima kasih lho dek sudah membantu saya," ucap wanita itu setelah mereka selesai memunguti belanjaannya.


"Sama sama kak. kakak mau pulang kemana? dan naik apa?"


"Saya naik mobil tuh...!"tunjuk nya pada sebuah mobil yang sedang terparkir jauh cukup jauh darinya.


"Lho, itu seperti mobilnya Abah Ahmad," gumam Abdul lirih.


"Kamu kenal dengan Abah Ahmad?"


"Kenal banget kak, saya salah satu muridnya di ponpes."


"Wah, kebetulan sekali ya?"


"Apa kakak salah satu santri nya Abah Ahmad juga?"


Wanita cantik itu tersenyum lalu mengangguk. Kemudian mereka terlibat obrolan seputar pesantren.


Ekor mata sipit shin mengitari ke sekeliling tempat mencari keberadaan Abdul. Tampak orang yang tengah di carinya sedang berbicara dengan seorang wanita anggun yang sedang berdiri memunggunginya sehingga Shin tidak dapat melihat wajah wanita itu.


"Siapa wanita itu? Kenapa jantungku rasanya berdebar kencang seperti ini?"gumam Shin sambil memegang dadanya.


Shin penasaran pada wanita yang sudah membuat jantungnya berdebar. Kemudian, ia berjalan kearah dimana Abdul serta wanita itu berdiri sambil mengobrol. Namun sayangnya ketika Shin baru saja melangkahkan kakinya, wanita itu beranjak pergi dari hadapan Abdul ke arah mobilnya. Shin menghentikan langkahnya namun sorot mata Shin tak lepas dari punggung wanita yang memakai pakaian besar serta jilbab besar yang sedang berjalan ke arah sebuah mobil berwarna hitam. Namun, ketika wanita yang menjadi pusat perhatian Shin membuka pintu mobilnya tepat di pintu kemudi, Shin terperangah dan membelalak kan mata sipitnya. Shin tak salah lihat bahwa wanita itu adalah wanita yang sudah dua bulan ini di carinya. Ingin rasanya Shin berteriak memanggil wanita itu tapi lidahnya terasa kelu dan tubuhnya gemetar. Shin terpaku, tubuhnya terasa kaku untuk di gerak kan namun sorot matanya yang berkaca kaca tak lepas dari mobil yang sedang melaju pelan meninggalkan pasar.

__ADS_1


"Aku...aku menemukanmu." Shin bergumam dalam hati. Seulas senyum tersungging di bibirnya.


Abdul baru menyadari bahwa shin menyusulnya. Ia berjalan mendekati Shin lalu menepuk pundaknya. Shin yang masih menatap pada mobil yang sudah menjauh dalam keadaan mata berair menoleh ke arah Abdul. Abdul heran kenapa teman dewasanya itu menangis?


"Kak Shin kenapa? kenapa kakak menangis?"


Shin langsung mengusap wajahnya dengan lengan kanannya. Shin menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Apa kamu mengenal wanita tadi?" tanya Shin penuh harap.


"Oh, kakak terpesona sama kecantikannya ya sampai kak Shin menangis gitu?" goda Abdul.


"Saya sedang serius bertanya Dul," ucap Shin sambil menatap lekat wajah pria belia itu.


Abdul tersenyum."Tidak kak, tapi aku baru tadi mengenalnya."


"Apa kau tau dimana dia tinggal?"


Abdul mengerutkan dahinya. Ia heran kenapa teman asing nya ini begitu penasaran pada wanita yang di tolong nya tadi?


"Dul, kenapa kau diam saja?" Shin mengguncang bahu Abdul yang tengah termenung. Ia tidak sabar untuk mengetahui tentang wanita tadi.


"Oh, Namanya kak Inay. Dia salah satu santri di pondok kita kak."


Shin terperangah, mulutnya terbuka satu senti. Wanita yang ia anggap jauh darinya ternyata begitu dekat dengannya dan hanya terhalang tembok pemisah saja. Shin melepaskan kedua tangannya dari bahu Abdul. Shin menengadah wajahnya ke atas seolah olah menahan air matanya agar tidak tumpah. Jika itu terjadi betapa malunya Shin pada pria belia di hadapannya. Namun, pria belia di hadapannya memperhatikan raut wajah Shin.


"Kak Shin.....are you okey?" tanya Abdul dengan hati hati.


Shin memejamkan matanya sejenak." Im okey." lalu tersenyum.


"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Terima kasih kau telah mengabulkan doaku." Shin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Betapa bersyukurnya ia saat ini dan pujian syukur pun terus menerus ia ucapkan dalam hatinya.


"Apa kak Shin mengenal kak Inay?" tanya Abdul penasaran.


Shin tersenyum."Aku sangat mengenalnya Dul dan dia wanita yang aku cari selama ini."


"Hah, apa kau serius kak? kakak mengenal bidadari super cantik tadi kak?"


Shin mengangguk lalu tersenyum.


"Apa hubungan kakak dengan kak Inay?"


"Aku....aku pernah dekat dengannya dan sangat dekat."


"Hah, maksud kak Shin apa kakak bidadari tadi itu kekasih kakak?"


"Bisa di bilang seperti itu tapi karena kebodohan ku, aku kehilangannya. Dia pergi dan aku tidak menyangka akan menemukannya di sini dan aku sangat bersyukur." ujar Shin dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Oooo," Abdul manggut manggut kecil. Ia baru mengerti sekarang. Pantas saja teman dewasanya itu seperti ingin menangis.


"Itu artinya kak Shin berjodoh sama kak Inay."


"Be benar kah?"


"Ya berdoa serta berikhtiar saja kak."


Shin mengangguk lalu tersenyum.

__ADS_1


"Dul, berjanjilah.....jangan beri tahu Thoriq dan Akbar apalagi......Abah. Aku hanya bercerita padamu saja."


Abdul tersenyum." Inshaallah kak, semoga lidahku ini tidak terpleset ha ha."


__ADS_2