Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
End


__ADS_3

Sebuah goncangan lembut terasa di bahu wanita yang sedang tidur dengan lelap dan membuat wanita itu terperanjat kaget.


"Astaghfiruallah hal adzim." Norin bangun lalu membenarkan letak jilbabnya. Terendus wangi bunga lili di tubuh sang suami dan itu artinya sang suami sudah mandi.


"Sudah waktunya sholat subuh, apa kamu mau sholat berjamaah denganku?"


Norin mengangguk.


"Ya sudah, sana bersihkan dulu tubuhmu. Aku sudah mempersiapkan air hangat untuk mu mandi."


Norin terperangah, lagi lagi Shin mempersiapkan air hangat untuknya mandi.


"Kenapa melamun? ayok turun."


Norin mengangguk lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu Norin selesai mandi Shin menggelar dua sajadah.


Sholat berjamaah pun mereka laksanakan hingga selesai. Shin melirik ke arah Norin yang ada di belakang lalu menggeser tubuhnya hingga duduk berhadapan. Sementara Norin hanya menunduk.


"Apa kamu ada keinginan untuk pergi berbulan madu ke suatu tempat?"


Norin menggeleng.


"Saya mau buatkan teh hangat dulu." Norin bergegas bangkit, ia tidak akan kuat jika di tatap seperti itu oleh Shin.


Shin mengangguk. Ia tau Norin hanya beralasan saja.


Norin kembali setelah membuat teh dan mendapati sang suami tengah membaca ayat suci Alquran di dalam kamar. Cukup lama Norin berdiri di ambang pintu dan menyimak sang suami. Jujur ada rasa kagum pada nya karena tidak menyangka dalam tempo dua bulan Shin sudah bisa membaca huruf ayat suci Alquran meskipun masih terbata bata. Norin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar lalu ia kembali lagi saja ke dapur.


Norin menyibukkan diri di dapur. Memasak makanan untuk sarapan nanti.


"Penganten baru kenapa subuh subuh sudah nguprek di dapur mestinya masih kelonan di kamar,"goda Syifa yang hendak pergi mandi.


Norin mencebik kan bibirnya. Ia tidak menghiraukan godaan sang kakak.


"ehem."


Norin dan syifa menoleh pada sumber suara. Tampak Shin sedang berdiri di ambang pintu dapur.


"Eh, ada adik ipar." Syifa nyelonong pergi ke kamar mandi. Sementara Norin mulai menyibukkan diri memasak.


"Saya hanya ingin menanyakan teh buatan mu. Apakah yang di meja ini tehnya?" tanya Shin menunjuk pada secangkir teh di atas meja.


"Itu sudah dingin, biar saya buatkan yang baru."


"Oh, tidak perlu ini saja sudah cukup. Terima kasih ya?" Shin langsung mengambil cangkir teh tersebut lalu membawanya ke ruang keluarga.


Norin hanya menggelengkan kepala.


Tak selang lama Norin menyusul Shin di ruang keluarga lalu meletak kan secangkir teh yang baru di atas meja lalu mengambil cangkir teh yang sudah dingin. Shin tersenyum dan tanpa sadar ia berkata," terima kasih ya sayang!"


Norin menunduk kan wajahnya lalu bergegas pergi dari hadapan Shin.


Saatnya sarapan. Norin sudah mempersiapkan nasi goreng di atas meja dan orang orang mulai menyendok kan nasi goreng tersebut. Norin menyendok kan nasi goreng untuk Shin dan Shin tersenyum melihat sang istri melayaninya.


"Terima kasih!"


Norin mengangguk.


"Oh, ya, kapan rencana kalian kembali ke kota? agar kita bisa menyegerakan acara syukuran sebelum kalian kembali ke kota."

__ADS_1


"Bu, apa Norin boleh tinggal di sini bersama ibu?"


Shin menoleh pada sang istri dengan tatapan serius. Bagaimana mungkin istrinya tidak mau ikut kembali ke kota bersamanya.


"Ngga bisa gitu dong dek, yang namanya sudah menjadi pasangan suami istri ya harus ikut kemanapun suaminya pergi. Seperti mba, mba saja rela ikut suami mba tugas di kalimantan."


"Benar apa yang di katakan oleh Syifa, kamu harus mengikuti kemanapun suamimu pergi. Karena surgamu ada pada suamimu."


Norin menunduk. Sementara Shin tersenyum senang mendapat pembelaan dari ibu mertua serta ipar.


"Kalau saya pribadi ingin secepatnya Bu, karena di kota banyak pekerjaan yang sudah sangat menumpuk." Shin beralasan.


"Ya sudah besok saja. Kita ngadakan syukuran kecil saja ngundang tetangga. Hanya ingin memberi tahu bahwa anak ibu yang cantik ini akan menikah."


"Bagaimana kalau untuk makanannya kita catering saja Bu, agar ibu tidak payah masak."


"Apa tidak merepotkan nak Shin?"


"Sama sekali tidak Bu."


"Ya sudah terserah nak Shin saja."


Keesokan harinya acara syukuran pun di laksanakan. Hanya memasang tenda serta bangku yang berjejer rapih di depan rumah Bu Aminah.


"Wah, Norin kamu beruntung sekali dapat suami yang super sempurna. Aku jadi iri sama kamu."


"terima kasih Susi."


"Katanya suaminya orang kaya tapi kok acaranya cuma gini doang?" sindir seorang tetangga.


"Iya, Bu, acaranya memang ingin simple saja. Lagi pula mereka tidak ada waktu besok sudah harus kembali ke kota,"jawab ibu Aminah.


"kau datang tepat waktu Tono."


"He he..iya boss."


"yuk kita berkemas sekarang." Belum sempat Norin bicara tangannya sudah di tarik terlebih dahulu. Mau tak mau Norin pun menurut.


"Saya titip Norin ya nak Shin. Tolong jangan pernah sakiti hatinya secuil pun."


"Ibu tidak usah khawatir saya tidak akan pernah melakukannya. Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu ya Bu? Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan menuju kota. Tidak ada pembicaraan diantara mereka semuanya. Norin sendiri pun tertidur hingga mereka tiba di mansion pagi hari. Shin menepuk pelan bahu Norin.


"Sudah sampai, yuk, turun!"


Norin mengangguk.


Mereka jalan beriringan memasuki mansion namun ketika tiba di dalam mereka di kejutkan oleh dua pria yang tak lain adalah ayah Shin, Yeun jin Hoon serta Paman Lee. Shin dan Norin tersentak kaget.


"Wow, Bad boy. dari mana saja kamu pulang membawa perempuan?"


"Dad...kenapa Daddy ada di sini?"


"Kenapa? ha..ha, ini rumah ku Hoon."


Yeun menelisik penampilan Norin dari bawah hingga kepala. Sementara Norin menundukkan wajahnya ia tidak berani menatap wajah sang mertua. tubuhnya mulai gemetar. Shin segera memeluk pinggang sang istri.

__ADS_1


"Tidak apa apa sayang jangan takut." Bisik Shin pada telinga Norin.


"Siapa wanita ini?" tanya yeun kembali sambil berkacak pinggang.


"Dia istriku."


"Istri? apa kau anggap aku sudah mati sehingga menikah pun kau tidak mau memberi tahuku?"


"Bukan begitu dad, semuanya serba cepat. Aku ingin segera menikahinya karena aku takut dia kabur lagi dari ku dad."


"Ha..ha..come here!" Yeun merentangkan kedua tangannya.


Shin tersenyum lalu menghambur ke pelukan sang Daddy.


"Ini yang yang Daddy inginkan kau berubah menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Uncle mu sudah banyak cerita tentangmu serta istrimu.


Shin melepaskan pelukannya.


"Jadi Daddy merestui pernikahan kami?"


"Tentu saja."


"Tapi istriku bukan orang kaya dad?"


"No problem. aku tidak butuh menantu kaya. karena aku sudah banyak uang. Dan satu lagi segera lah kalian buat cucu yang banyak untuk ku."


"jangan bicara seperti itu dad, istrinya jadi malu."


"Ha..ha. Ya sudah istirahat lah kalian nanti kita


bisa sambung lagi ngobrolnya."


"Baik dad, ayok sayang." Shin menuntun Norin menaiki anak tangga hingga tiba di dalam kamar Norin memandang kagum ruangan yang benar benar berumah lebih feminim.


"Mandilah dulu setelah itu istirahatlah."


Norin mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi.


Semenjak ketiadaan Shin dan Norin. Banyak peristiwa yang terjadi. Rendi mantan suami Anisa harus merelakan sisa hidupnya mendekam di penjara seumur hidup karena telah membunuh Reni serta bayi yang di kandungnya ketika Rendi memergoki Reni sedang melakukan hubungan badan dengan pria lain.


Selain itu, Siska pun meninggal secara mengenaskan karena melakukan aborsi dan terjadi pendarahan hebat sehingga nyawanya tidak dapat tertolong.


Sementara Doni sedikit demi sedikit mulai bisa membuka hatinya untuk menerima Dewi terlebih ia tahu bahwa Norin sudah menikah dengan Shin.


Dan Anisa serta Youn. Sambil menunggu masa Iddah Anisa berakhir, Youn sedang fokus membuat sebuah gedung klinik.


Pukul delapan malam setelah Shin dan Norin selesai melaksanakan isya berjamaah. Norin merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia menoleh pada sang suami yang sedang memainkan ponselnya. Satu Minggu Norin mendiami sang suami dan tidak memberikan hak nya sebagai suami. Ada rasa bersalah dan dosa. Norin segera bangkit dan berjalan menuju walk in closet. Tak lama kemudian ia kembali lagi dan berdiri di depan sang suami. Shin tersentak lalu berdiri. Ia kaget sekali melihat sang istri yang hanya memakai lingerie berwarna putih dan tipis serta rambut di gerai. Shin mendekatinya.


"Sa....sayang....kamu sudah mengikhlaskan aku menjadi suamimu? kamu sudah membolehkan aku untuk......!"


Norin mengangguk.


Shin tersenyum lalu segera memeluk sang istri mengecup keningnya lalu berpindah ke bibir dengan lembut. Shin membopong Norin hingga terlentang di ranjang. Norin pasrah, terserah suaminya mau berbuat apa di atas tubuhnya. Tidak ada lagi keraguan di hatinya karena Shin sudah menjadi suaminya.


Terima kasih untuk kakak kakak yang sudah setia mengikuti alur cerita AKU BUKAN PERAWAN dari awal hingga akhir. Maaf jika dalam cerita ini banyak kekurangannya. Banyak kesalahan baik kesalahan dalam penulisan mau pun alur ceritanya. Maklum, saya masih sedang belajar menulis.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜


Saya mohon dukungannya untuk karya saya yang ke dua ya kak. Pemerannya tidak kalah tampan dan cantik kok meskipun pure Indonesia😁😁😁.


__ADS_1


__ADS_2