Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 23.7


__ADS_3

"Ya?" Bisiknya tidak bersemangat.


"Aku telah menemukan keluarganya." Ucap suara berat diujung sana.


"Kamu berhasil menemukan kedua orang tuanya?!" Dinda sontak bangun dari duduknya, kedua tangannya gemetar karena gelisah bercampur senang.


Pencarian akhirnya membuahkan hasil yang ditunggu-tunggu.


"Bukan kedua orang tuanya tapi Paman dan Bibinya. Aku dengar kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil 4 tahun yang lalu." Koreksi suara berat itu.


Dinda tidak mau ambil pusing. Bila kedua orang tuanya tidak ada maka Paman dan Bibinya juga tidak masalah.


"Tidak apa-apa, ini lebih baik daripada tidak sama sekali." Bisiknya semangat.

__ADS_1


"Lalu apa kamu sudah menghubungi mereka?" Tanya Dinda tidak sabar.


Tangan kirinya yang bebas dengan gelisah meremat seragam khas pengajar sekolahnya.


"Aku sudah menghubungi mereka dengan mendatangi rumah mereka secara langsung." Jawab pemilik suara berat itu singkat.


Dinda mendesak,"Cepatlah, katakan apa yang mereka katakan! Jangan membuang waktuku!"


"Mereka mengakui bahwa orang yang membuang anak itu di panti asuhan adalah mereka berdua. Tapi itu mereka lakukan karena terpaksa, mereka tidak punya ekonomi yang cukup untuk membesarkan anak itu."


Uang?


Itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Dia punya banyak di kartu-kartunya. Dia lahir dari keluarga yang berada namun karena pola asuhan dia tumbuh menjadi gadis yang sederhana. Lagipula dia tidak terlalu ambisius terhadap uang atau bersenang-senang di toko perbelanjaan. Dia pikir hidupnya akan terus datar seperti itu sampai dia bertemu Ali, laki-laki yang telah mencuri perhatiannya dari 2 tahun yang lalu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan melakukannya." Samar, suara berat itu terdengar enggan.


Setelah itu mereka menutup sambungan telepon.


Dinda menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dengan malas dan santai dia memandangi langit-langit ruang guru. Senyuman licik tidak pernah lepas dari bibir tipisnya.


"Safira, aku akan mengambil kebahagiaan mu satu demi satu. Pertama-tama aku akan mengambil Ai dari mu, lalu ketiga bayi mu yang mungil-mungil dan kemudian Ali akan menjadi milikku. Kamu akan sendirian dan patah hati kehilangan mereka semua.. haha..kita lihat saja nanti."


Dia telah menyusun rencananya satu persatu dengan baik, itu harusnya sempurna. Namun dia lupa bila Sang Pencipta tidak pernah tidur dan mengetahui semua yang ada di dalam hatinya.


Entah itu baik dan buruk jelas Allah lebih mengetahui segalanya. Dinda lupa atau mungkin berpura-pura lupa bila skenario yang dia miliki tidak bisa dibandingkan dengan milik Sang Pencipta.


...🍚🍚🍚...

__ADS_1


Ai terlihat tidak seperti biasanya. Dia lebih pendiam dan kurang bersemangat menemani ketiga adik-adiknya bermain. Padahal Rumaisha dan Qais beberapa kali mengganggu Ai agar mau ikut bermain bersama mereka.


Safira pikir ada sesuatu yang disembunyikan oleh putrinya itu. Daripada berdiam diri menonton saja, Safira lantas mendekati anaknya itu. Dengan sapuan ringan dia mengusap kepala Ai untuk menarik perhatiannya.


__ADS_2