Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 26.4


__ADS_3

"Tenangkan dirimu." Kata Ayah menasehati."Perlahan, jawaban yang kamu inginkan akan mereka jawab satu persatu. Tidak usah terburu-buru, Nak."


Safira menggigit bibirnya malu. Tersenyum tipis, dia menganggukkan kepalanya ringan. Dia mengambil nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang sedang gusar.


"Tolong maafkan putriku." Kini Ayah beralih menatap Pak Daman dan Bu Santi yang terlihat agak pucat dari sebelumnya.


"Dia adalah Ibu yang baik. Cintanya kepada Ai tulus dan tidak diragukan lagi. Bahkan perhatian yang dia berikan kepada Ai dan anak-anak kandungnya tidak mempunyai perbedaan, posisi mereka sama di hatinya. Jadi, melihat kedatangan kalian dia pasti merasa panik karena tidak ingin kehilangan Ai. Maka tolong maafkan putriku, dia benar-benar tidak bermaksud berkata tidak sopan kepada kalian."


"Tidak Tuan.." Kedua mata Pak Daman menjadi berkaca-kaca ketika mendengarnya.

__ADS_1


Dia lusuh dan penampilannya sangat miskin. Beberapa orang yang mereka temui di jalan menatap mereka dengan pandangan aneh atau ada rasa jijik di mata mereka. Namun, keluarga ini malah tidak seperti itu.


Mereka mempersilakannya masuk dan menyuguhkan makanan enak dengan sopan. Ketika Safira terbawa emosi Ayah secara langsung meminta maaf kepadanya. Sejujurnya, ini tidak pantas untuk orang sekelas mereka.


Namun, hal yang paling membuat mereka bersyukur adalah ketika mendengar Ayah mengatakan jika Safira sangat menyayangi Ai. Mereka lega untuknya karena setelah sekian lama menderita Ai akhirnya bertemu dengan orang-orang baik.


"Kemarahan Nyonya tidak salah. Kami malah bersyukur dengan kemarahan Nyonya karena dengan begitu kami tahu bila Non Ai akhirnya bertemu dengan orang baik. Dia akhirnya bertemu dengan orang-orang yang mau menerima kelebihannya." Safira tertegun.


"Apa dulu Ai diperlakukan tidak adil oleh kedua orang tuanya?" Tanya Bunda dengan ekspresi yang cukup rumit.

__ADS_1


Pak Daman menggelengkan kepalanya membantah. Mata tuanya sejenak menerawang mengingat kembali bagaimana kedua majikannya memperlakukan Ai dengan sangat baik.


"Tuan dan Nyonya besar sangat mencintai non Ai lebih dari siapapun. Bahkan, sekalipun non Ai lahir dalam kondisi yang spesial, majikan kami tidak pernah putus asa kepadanya. Mereka tidak mempermasalahkan kelebihan Ai dan menerima selayaknya Ai tidak berbeda dengan anak-anak yang lain. Tapi..itu tidak sama untuk keluarga yang lain. Setahu kami, Tuan dan Nyonya besar tidak disukai keluarga yang lain karena dalam urusan bisnis Tuan kami lebih mampu. Rasa cemburu dan iri tidak bisa dipisahkan bahkan meskipun mereka adalah saudara. Karena hal ini pula rumah besar beberapa bulan tidak tenang karena mendapatkan berbagai macam masalah untuk memojokkan Tuan dan Nyonya besar kami. Sampai akhirnya Tuan dan Nyonya besar kami tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Mereka bilang Tuan dan Nyonya besar kami mengalami kecelakaan, mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam jurang sehingga nyawa mereka tidak bisa diselamatkan. Kemudian setelah kepergian mereka rumah besar satu demi satu di tempati oleh saudara-saudara Tuan kami dengan alasan ingin membesarkan Ai karena menjadi yatim piatu. Tapi kami tidak percaya dan secara diam-diam mengawasi mereka sampai suatu hari kami mendengar bila mereka merencanakan sebuah penculikan untuk membunuh Ai. Menghapusnya menjadi pewaris majikan kami sehingga semua harta dan properti akan berpindah tangan menjadi milik mereka. Kami..saat itu sangat ketakutan. Kami adalah orang miskin dan tidak punya apa-apa jadi kami bukan tandingan mereka. Kami sangat bingung bagaimana caranya menyelamatkan Ai dan kemana harus menyembunyikannya. Sampai akhirnya salah satu pekerja di sana menyarankan agar mengirim non Ai ke kota T. Kami bisa mengirimnya ke panti asuhan manapun asalkan bisa bersembunyi dari keserakahan mereka. Maka kami akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri membawa non Ai ke kota T. Kami sudah menyerahkan urusan hidup dan mati kepada Sang Maha Kuasa. Biarkan Dia yang menentukan akhir hidup kami. Tidak ada niat apapun untuk mengirim non Ai ke panti asuhan itu selain berharap dia hidup aman di sana. Kami semua juga berharap bila ada orang baik yang mau mengadopsi non Ai. Memberikannya kasih sayang keluarga yang belum sempat dia puaskan. Setelah mengirim non Ai kami semua tidak kembali bekerja ke rumah itu lagi. Kami semua berpencar untuk mencari pekerjaan yang lain dan berjanji satu sama lain untuk merahasiakan keberadaan non Ai apapun yang terjadi. Nyonya.." Cairan bening itu benar-benar tidak bisa dia tahan lagi.


Mata tuanya yang merah dan kelelahan mulai menangis tanpa suara.


"Kami tadi melihat non Ai dari gerbang..dia sudah tumbuh dengan baik di sini dan bisa tertawa dengan anak-anak yang lain. Itu sangat melegakan Nyonya..kami akhirnya bisa tenang melepaskan non Ai karena dia sekarang dibawah lindungan kalian. Orang-orang jahat itu tidak akan bisa mengganggunya.."


Sepanjang Pak Daman berbicara mereka semua mendengarkan dalam diam. Tidak ada yang menyela karena kepala mereka benar-benar diisi dengan latar belakang kehidupan Ai yang sangat mengejutkan. Mereka tidak pernah mengira bila cerita dibalik keberadaan Ai di panti asuhan itu adalah karena masalah keserakahan.

__ADS_1


Karena keserakahan Ai harus kehilangan kedua orang tuanya dan karena keserakahan pula Ai harus kehilangan semua haknya, terjebak di panti asuhan yang memperlakukannya secara tidak adil.


__ADS_2