
"Ai rindu Papa dan Mama..hiks.." Tangisnya segera pecah, membuat mereka terpana sekaligus merasakan sedih.
Mereka dulu pernah bertanya apa Ai masih ingat dengan kedua orang tuanya?
Namun jawaban yang selalu Ai berikan adalah, 'Ai tidak ingat, Ai lupa'.
Mereka pikir Ai benar-benar melupakannya mengingat jawaban yang selalu diberikan adalah hal yang sama. Tapi hari ini Ai tiba-tiba menyebutkan tentang kedua orang tuanya, membuat mereka bertanya-tanya apakah Ai mengingat kembali tentang kedua orang tuanya yang sudah lama menghilang tanpa kabar.
"Ai, jangan sedih, sayang.." Hati Safira tertekan, dia membawa Ai ke dalam pelukannya, mengelus punggung rapuh untuk menghibur rasa sakit dihatinya.
"Bunda..Ai rindu Papa dan Mama..Ai ingin bertemu dengan mereka.." Isaknya tidak bisa berhenti menangis.
Safira menganggukkan kepalanya ringan, dia tidak bisa mengatakan bila kedua orang tua Ai sudah menghilang tanpa kabar. Entah itu sudah mati atau tidak, mereka tidak bisa memastikannya namun yang pasti untuk saat ini.. mereka tidak bisa menyebutkan masalah ini di depan Ai.
"Jangan menangis, sayang. Kita akan mencari mereka dan membawa mereka pulang ke sini agar bisa berkumpul lagi dengan Ai. Apa Ai mau?"
Ai menganggukkan kepalanya tapi air matanya terus mengalir keluar. Ai saat ini terlihat sangat menyedihkan. Mereka tidak tahu akan ada hari dimana Ai sesedih ini.
"Ai..Ai..Ai.." Qais memanggil dari pelukan Sifa.
Tangannya yang kecil dan gembil melambai-lambai ingin menyentuh Ai. Dia sedih melihat Ai menangis sehingga tanpa menunggu lama dia juga ikut menangis sambil memanggil nama Ai.
__ADS_1
"Hwa.." Rumaisha dan Ahza ikut menangis.
Mereka menjadi mellow saat melihat Ai dan Qais menangis bersamaan. Membuat suasana yang semula sedih menyentuh hati menjadi sedikit lucu karena paduan suara dadakan dari si kembar.
Sifa tidak tahan dengan suara Qais yang menusuk telinga sehingga dia segera menurunkan Qais untuk menyelamatkan telinganya. Membiarkan Qais berjalan sempoyongan mendekati Ai dan Safira untuk melanjutkan tangisnya.
Rumaisha dan Ahza juga tidak mau kalah. Mereka turun dari pelukan Ali dan Bunda untuk mendekati yang lain. Dengan susah payah mereka mendekati Ai dan Qais, duduk di atas lantai karena tidak kuat berjalan dan menangis lebih keras lagi.
Safira terbengong melihat anak-anaknya kini berkumpul bersama sambil menangis. Dia tidak tahu harus tertawa atau ikut sedih melihat betapa kompaknya mereka semua.
"Bunda tidak tahu cinta kalian semua sudah sedalam ini." Bisik Safira merasa hangat.
Dia mengusap kepala anak-anaknya dengan kasih sayang yang tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya. Intinya dia sangat mencintai mereka dan tidak ingin berpisah dengan mereka semua apapun yang terjadi.
...🍚🍚🍚...
"Benar, Tuan. Nama majikan kami adalah Tuan Davin dan Nyonya Rein. Mereka adalah pasangan suami-istri yang harmonis dan suka berbagi. Selama pernikahan mereka tidak pernah bertengkar atau ribut sekalipun banyak cobaan yang datang menghampiri. Salah satunya adalah Non Ai. Nyonya Rein kami...sama seperti non Ai. Dia dilahirkan berbeda dan harus mendapatkan pengucilan dari keluarganya selama bertahun-tahun. Tapi untunglah dia bertemu dengan Tuan Davin, laki-laki setia yang mau menerima Nyonya apa adanya. Meskipun Nyonya agak spesial tapi Tuan Davin tidak pernah mempermasalahkannya sekalipun banyak saudara-saudaranya yang tidak setuju dengan pernikahan mereka. Tapi Tuan Davin tidak perduli dan tetap menikahi Nyonya Rein. Bahkan setelah 5 tahun pernikahan Nyonya Rein belum kunjung dikaruniai seorang anak, Tuan Davin tidak pernah protes ataupun menyalahkan Nyonya Rein. Tuan Davin justru semakin memanjakannya sampai akhirnya non Ai hadir di dalam hidup mereka. Karena itulah Ai sangat berarti untuk mereka. Kekurangan atau kelebihan Ai bukanlah masalah untuk mereka karena hadirnya Ai di dunia ini membuktikan bahwa hubungan mereka diridhoi Allah. Tuan dan Nyonya, lihatlah wajah Tuan dan Nyonya kami," Pak Daman membuka sebuah album foto yang tampak terawat dengan baik.
Foto yang Pak Daman tunjukkan adalah foto sepasang kekasih yang terlihat sangat mesra. Di sana ada seorang laki-laki yang sangat cantik-tepatnya dia Rein, Mama kandung Ai. Rein sama seperti Ai, dia Hermaprodhit. Karena itulah bentuk tubuhnya tidak sama seperti perempuan pada umumnya. Namun meskipun begitu dia sangat cantik dengan mata persik jernihnya yang polos.
Mata ini benar-benar mirip dengan Ai. Apalagi dengan potongan rambut pendek khas seorang laki-laki, dia sungguh menonjol dan menarik perhatian. Mereka seolah-olah melihat Ai 14 tahun kemudian. Lalu di samping Rein adalah Davin. Dia terlihat tampan namun sedikit dingin. Tangannya yang besar memeluk posesif Rein seolah-olah takut ada seseorang yang akan merebut Rein darinya. Tapi meskipun begitu di wajahnya masih ada sebuah senyuman yang hanya bisa menjadi milik Rein.
__ADS_1
Hidungnya yang tinggi dan bibirnya sangat mirip dengan Ai.
Jelas sekali mereka adalah pasangan yang sempurna.
"Mereka sangat mirip dengan Ai. Apa yang ada pada Ai akan ada di wajah mereka. Seolah-olah Allah menciptakan Ai untuk menunjukkan kepada dunia bahwa berbeda itu indah, dan karena berbeda itu spesial." Bisik Safira seraya mengusap wajah Ai yang kini sedang tertidur di atas sofa.
"Sekarang Bunda mengerti kenapa Ai secantik ini." Gumam Bunda sambil menoleh menatap wajah lembut Ai.
Saat ini mereka sedang duduk di atas karpet ruang tamu setelah bersusah payah menenangkan Ai dan Si kembar. Konser paduan anak-anak sangat berjalan dengan lancar. Tidak hanya membuat orang satu rumah ribut tapi juga membuat keluarga tinggal jauh datang berbondong-bondong untuk menghibur anak-anak.
Semua orang bingung melihat kedatangan anggota keluarga yang jauh karena mereka tidak pernah menggempar gemborkan masalah ini sampai akhirnya mereka mengatakan tahu masalah ini dari status Sifa di media sosial.
Sontak saja Ali dan Ayah segera memandikan Sifa dengan berbagai macam nasihat agar dia jangan terlalu banyak menggunakan sosial media. Sifa tidak tahu efeknya akan separah ini jadi begini Ali dan Ayah keluar dia segera mengunci pintu!
"Mama Ai pasti orang yang sangat kuat." Bisik Safira sekali lagi memperhatikan foto Rein.
Pak Daman tersenyum,"Nyonya adalah orang yang sangat kuat dan dia juga rendah hati."
Bersambung..
Maaf yah, Tentang Ai dulu..
__ADS_1
Up selanjutnya nanti inshaa Allah pukul 3 pagi 💚