
"Asri!" Teriak Rodi berang seraya mempercepat langkahnya mendekati Asri dan keluarganya.
Dia bersama orang-orang desa langsung mengepung Asri dengan cepat dan tidak meninggalkan celah sedikitpun yang bisa menjadi peluang Asri melarikan diri kembali.
"Ayo pulang! Kamu tidak bisa melarikan diri begitu saja karena kita sebentar lagi akan menikah!" Marah Rodi sambil mengangkat lengan bajunya, menampilkan kulit hitam berminyak karena terlalu lama berdiri di bawah terik matahari.
Lengan-lengan hitamnya semakin menarik perhatian ketika garis-garis tato berwarna Rodi pamerkan dengan angkuhnya. Dia adalah penguasa desa ini-- ini murni adalah pemikiran Rodi dan antek-anteknya saja.
"Belum jadi istri aja kamu udah ngelunjak apalagi setelah jadi istri nanti! Ilmu pondok pesantren yang pelajari kemarin dimana, hah! Kamu taruh di dengkul!" Teriak Rodi terus saja mempermalukan Asri di depan banyak orang.
Dia sangat marah dan tidak bisa menahan kemarahannya setiap kali mengingat betapa lancangnya Asri kabur dihari pernikahan mereka!
"Aku gak mau hiks..." Dia memeluk Bapak erat-erat tidak mau menikah.
Dia sungguh tidak mau menikah dengan laki-laki tidak bermoral itu.
"Enak saja kamu bilang gak mau! Emang kamu melihat Bapak dan Ibu kamu masuk penjara, hah!" Rodi mengancam dengan mudah.
Asri menggelengkan kepalanya tidak mau tapi tetap tidak bisa melepaskan pelukannya dari Bapak.
"Masih tidak mau mendengar juga!" Rodi sangat marah.
Dengan nafas memburu dan wajah gelap ia mendatangi Asri ingin menyeretnya pulang ke rumah. Namun, sebelum ia bisa mendekati Asri suara tembakan keras mengagetkan semua orang.
Dor
__ADS_1
Semua orang sontak menutup telinga untuk melindungi pendengaran karena suara tembakan itu sangat keras. Seolah-olah tembakan itu berasal dari sini.
"Mau menyentuh calon istriku?" Tanya suara dingin itu akhirnya angkat bicara.
Arka kemudian berdiri dari duduknya di hadapan semua orang. Entah dari sejak kapan orang-orang berjas hitam itu ada di sekeliling Arka.
Mereka terlihat sangat dingin dengan wajah datar mereka. Masing-masing dari orang berjas itu memegang pistol di tangan.
"Apa..." Rodi ketakutan dan kesulitan mengucapkan kata-katanya.
"Jika kamu berani menyentuh istriku sedikit saja nyawamu akan melayang di tempat." Ancam Arka dengan nada santainya yang membosankan.
Semua orang di sini jelas tercengang. Mereka tidak pernah mengira jika laki-laki tampan nan dingin yang sedari tadi menonton pertunjukan adalah calon suami Asri!
Seolah-olah mereka sedang melihat adegan drama di tv!
"Bagaimana mungkin! Asri adalah calon istriku! Dia akan menikah denganku hari ini!" Teriak Rodi di ambang rasa ketakutannya.
Arka tersenyum dingin,"Itulah yang membuatku sangat marah hari ini. Aku pikir calon istriku sedang menunggu kedatangan ku di rumahnya. Tak disangka, bukan sambutan yang aku terima melainkan sebuah kabar buruk jika," Ia menunduk di depan Bapak, membawa tubuh lemas Asri ke dalam pelukannya dalam sekali gerakan.
Bapak dan Paman-paman Asri jelas tercengang melihat aksi Arka. Mereka ingin melarang tapi tidak bisa karena jika mereka salah bicara takutnya Rodi akan memaksa Asri lagi kembali.
"Astagfirullah!" Tubuhnya terasa melayang sebentar sebelum kepalanya menabrak dada bidang Arka.
Ini adalah dosa!
__ADS_1
Ini adalah dosa!
Batin Asri berteriak-teriak tapi tubuhnya seolah tidak mendengarkan karena ia tahu semuanya akan kacau bila dia memaksa turun dari gendongan Arka.
"Ia dipaksa menikah dengan seorang laki-laki desa yang tidak tahu malu dan terlalu udik." Ucap Arka mencemooh dengan sebuah senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
"Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, hah!" Teriak Rodi kekanak-kanakan.
Arka tertawa kecil, dia terlihat berkali-kali lebih menawan dimata para gadis desa.
"Oh ya, memang dengan siapa aku berhadapan sekarang, maukah kamu memberitahuku?" Tanya Arka mengejek.
Rodi kewalahan menghadapinya. Tidak bisa dipungkiri dada Rodi kian terasa panas saja menghadapi Arka- laki-laki angkuh yang entah datang darimana.
Jika saja tidak ada orang-orang berjas hitam dengan pistol di tangan mereka, mungkin Rodi tidak akan takut berkelahi dengan Arka. Tubuh boleh tinggi tapi kekuatan belum tentu sekuat dirinya yang dilahirkan di desa.
"Rodi! Rodi! Apakah kamu sudah berhasil mendapatkan gadis jala*g, itu?" Teriakan saudagar Romlah menarik perhatian mereka semua.
Saudagar Romlah benar-benar datang di waktu yang sangat tepat pikir Rodi.
"Mak, aku belum bisa membawanya karena laki-laki ini tiba-tiba mengaku sebagai calon suami Asri!" Adu Rodi meminta bantuan kepada saudagar Romlah.
"Berani-beraninya! Siapa yang telah berani menyebut calon istri putraku! Keluar dan berhadapan dengan ku- Tu-Tuan Arka!" Saudagar Romlah tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Arka.
Arka tersenyum miring,"Oh, jadi itu kamu."
__ADS_1