
"Mashaa Allah, Kak Mega benar-benar tidak mengenal Kak Sasa?" Keterkejutan Khanza tidak dibuat-buat.
Dia meneliti ekspresi tenang Mega yang masih belum berubah ketika melihat Sasa. Tidak ada ekspresi akrab selain ketenangan palsu yang Mega ciptakan. Jika saja Khanza tidak mengenal Mega maka mungkin dia akan tertipu dengan ketenangan Mega saat ini.
Mega tersenyum kecil,"Bagaimana mungkin? Aku tadi hanya bercanda saja. Kak Sasa adalah senior kita di sini dan dia juga menjabat sebagai ketua petugas kedisiplinan asrama putri. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mengenal Kak Sasa?"
Khanza segera memeluk lengan Sasa manja. Dia sengaja memamerkan kedekatannya dengan Sasa di depan Mega. Untuk apa?
Jawabannya sudah pasti karena ingin melihat setiap reaksi di wajah Mega.
"Hahahaha.. ternyata seperti itu. Aku tadinya heran Kak Mega tidak mengenali Kak Sasa karena semua orang di pondok pesantren ini hampir tahu siapa Kak Sasa."
Mega tersenyum kecil,"Aku tahu."
"Khanza, berhenti main-main. Em, Mega," Sasa beralih melihat Mega yang masih tenang diskusinya.
"Adikku memang suka membuat masalah dan berbicara aneh jadi anggap saja dia tidak pernah mengatakan apa-apa." Dia berucap sopan.
"Tidak masalah Kak, lagipula apa yang dia katakan memang benar adanya."
"Tidak, ini berlebihan." Sasa melambaikan tangannya menolak.
"Lalu, bolehkah aku memelukmu?"
Semua orang,"....." Topik pembicaraan sangat cepat berganti.
__ADS_1
Tidak ada yang menyangka bahkan Mega sendiri jika Sasa ingin memeluknya. Bagi Mega pribadi kontak fisik seintim ini hanya bisa dia lakukan kepada sahabat-sahabat atau keluarganya. Dia tidak bisa melakukannya dengan orang asing apalagi dengan saingan cintanya.
Bisa dibayangkan berapa canggung rasanya.
"Apa Kakak sedang melamun?" Mega bertanya ragu.
Sasa menggelengkan kepalanya yakin.
"Tidak, aku tidak sedang melamun. Jadi, bolehkah aku memelukmu?" Tanya Sasa sekali lagi.
Mega enggan, dia ingin menolak tapi banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya saat ini. Di dalam hatinya dia mulai menebak-nebak apa alasan Sasa ingin memeluknya di depan banyak orang. Mungkinkah ada rencana terselubung di balik permintaan Sasa?
Apapun itu Mega tidak boleh menolaknya, walaupun dia melakukannya dengan sangat terpaksa.
"Tentu boleh, Kak." Mega berdiri dengan enggan dari duduknya.
Mega membalas pelukan Mega, samar dia mulai mencium wangi yang sudah tidak asing lagi untuknya. Ini adalah wangi milik Sasa tapi dia yakin pernah menciumnya pada seseorang..
Seseorang yang tidak asing namun pada saat yang bersamaan juga asing untuknya.
"Aku sangat merindukanmu." Bisik Sasa di samping telinga Mega.
Mega tertegun, dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalas Sasa. Namun sebelum dia semakin terjebak dalam kebingungan, Sasa sudah lebih dulu menarik pelukan mereka berdua. Dia tersenyum ringan kepada Mega seolah-olah tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.
"Terimakasih, aku senang bertemu denganmu."
__ADS_1
Mega menjadi lebih canggung,"Yah, aku juga."
"Baiklah, aku dan Khanza harus pergi dulu. Kalian harus menikmati waktu-waktu senggang ini dan lebih rajinlah belajar."
Sasa dan Khanza lalu pergi ke tempat yang lebih jauh dari mereka bertiga. Mereka berdua pergi menuju rak kitab-kitab yang ingin Khanza cari.
"Kak Sasa sangat berani! Bagaimana jika dia mengenali Kakak tadi? Semua rencana kita akan menjadi sia-sia!" Khanza ingin menggaruk kepalanya karena gemas tapi tidak bisa karena terhalangi kain jilbab.
Sasa tertawa kecil. Dia menutup mulutnya anggun seraya mengintip ke arah meja Mega, Ai, dan Asri. Di sana Mega tampak lebih linglung setelah pelukan mereka tadi.
"Tapi nyatanya itu tidak terjadi, bukan? Dia.." Sasa menarik pandangannya dari Mega dengan ekspresi rumit.
"..tidak mungkin mengingatku setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Kak Mega mungkin sudah lama melupakan aku."
Khanza segera memeluk lengannya sebagai penghiburan. Kakak sepupunya ini sangat menyayangi Mega sudah seperti saudara sendiri. Tapi karena harus menuntut ilmu di sini Sasa tidak bisa lagi bertemu dengan Mega, dan ya..ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.
"Kak Sasa salah, dia tidak mengenali Kak Sasa bukan berarti karena dia telah melupakan Kakak Sasa. Tapi ini karena perubahan Kak Sasa. Lihat, dulu banyak orang menganggap kita berdua mirip tapi sekarang Khanza tidak pernah mendengar satupun orang yang mengatakan kita berdua mirip. Jangankan mengatakan mirip, menduga jika kita adalah keluarga saja tidak ada."
Sasa tersenyum lembut,"Kamu benar, ini karena aku sudah bukan aku yang dulu lagi."
Bersambung..
Inshaa Allah chapter selanjutnya besok pagi. Inshaa Allah.
Oh ya, ini adalah aplikasi K*M. Maaf tidak bisa jawab satu-satu di komentar.
__ADS_1