
"kenapa dia tidak bicara terlebih dahulu sama aku kalau mau bayarin biaya rumah sakit. aku jadi punya utang budi sama dia," Anisa berjalan sambil melamun. Ia tidak menyangka pria yang baru di kenalnya itu membantunya di saat masa sulitnya.
"Youn aku titip Al sebentar ya, mungkin Anisa sebentar lagi akan kembali," ucap Norin pada pria yang sedang memegang telapak tangan mungil Al.
"okey."
Kemudian, Norin keluar dari ruangan Al menuju mushola rumah sakit.
"hei, jagoan. Kau tau, Al sudah membuat mama jadi sedih dan cemas? mama Anisa terlihat jelek sekali kalau sedang sedih. jadi uncle minta pada Al jangan membuat mama sedih lagi okey, karena uncle tidak mau melihat wajah jelek mama. Al anak lelaki harus strong, biar bisa menjaga mama Anisa dari orang orang jahat. kalau Al sakit siapa yang menjaga mama Anisa nanti? soalnya mama Anisa tidak mau di jaga sama uncle yang tampan ini." Youn berbicara pada balita yang sedang tertidur dan tanpa ia sadari Anisa mendengar ucapannya di balik celah pintu. Satu tetes air mata meluncur ke pipi mulusnya. Namun, segera ia menyekanya lalu masuk ke dalam.
Youn menoleh ke belakang." hei, kau sudah kembali?"
Anisa mengangguk tanpa bicara.
"kalau begitu, aku mau keluar dulu sebentar." Youn berjalan melewati Anisa dan tiba tiba tangan Youn di cekal oleh Anisa.
Youn tersenyum."ada apa? kau tak usah khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."
"Bu bukan itu."
"so, apa hanya ingin memegang tanganku saja?"
Anisa segera melepaskan tangannya."ma maaf."
"it's okey."
"a aku cuma ingin bilang terima kasih banyak atas bantuan tuan, tapi kenapa tidak bicara dulu kalau mau membayarkan perawatan Al di rumah sakit ini? saya jadi memiliki hutang banyak pada tuan," ujar Anisa sambil menunduk.
"kau tau, aku melakukan ini untuk Al, jadi aku tulus dan tidak usah kamu pikirkan lagi okey." Youn tersenyum kemudian beranjak pergi ke luar ruangan.
"Al, dia yang bukan siapa siapa kamu kenapa lebih peduli dari pada ayah kandung mu sendiri?"
Tak lama kemudian, Norin masuk ke ruangan dan mendapati Anisa yang sedang duduk melamun.
"Nis...!"
Anisa terperangah, lalu menoleh pada wanita yang sedang berdiri di depan pintu. Lalu, ia tersenyum. Norin berjalan mendekati wanita yang tersenyum padanya.
"Rin, ini uangnya aku kembalikan," ucap Anisa sambil menyodorkan uang satu juta yang tadi di berikan Norin padanya.
"lho, kok di kembalikan Nis?
"iya Rin, tadi aku kebagian admistrasi tapi mereka bilang biaya rumah sakit sudah di lunasi."
"kamu serius Nis? sama siapa?"
"Youn, Youn yang melunasi semuanya."
"what, baik juga dia. ya meskipun kamu bilang dia menyeramkan tapi hatinya aku rasa tidak menyeramkan,' ujar Norin lalu tersenyum lebar.
__ADS_1
"ya, tapi aku merasa ngga enak Rin, tadi dia bilang dia tulus melakukan itu semua untuk Al. Kenapa harus orang lain yang bukan siapa siapa Al yang lebih peduli pada Al Rin, sementara ayah kandungnya jangankan membiayai menjenguk nya aja engga."
"itu rizkinya Al melalui tangan orang baik seperti Youn. udah uang itu untukmu aja Nis, jangan di kembalikan. kamu pasti sangat butuh."
"tapi Rin....!"
"udah ngga apa apa aku ikhlas, kalau butuh apa apa lagi kamu bilang aja jangan segan segan okey?"
"makasih ya Rin."
ceklek..
Pintu terbuka. Youn muncul dari balik pintu sambil membawa paper bag. Kemudian, ia berjalan ke arah Norin dan Anisa sambil tersenyum.
"hi ladies.....!"
"kau bawa apa Youn?" tanya Norin.
"makanan. Aku tau kalian belum makan bukan? aku membelinya di restouran," ucap Youn sambil meletak kan paper bag itu di atas sofa.
"kamu tau aja Youn kalau aku laper sekali," ucap Norin sambil berjalan ke arah sofa.
"okey kalau begitu, lebih baik kita makan dulu," ucap Youn sambil duduk di atas sofa.
Youn menoleh pada wanita yang masih duduk di samping ranjang nya Al.
"Ck, mama Anisa," celetuk Norin lirih.
Anisa bangun lalu ikut bergabung duduk bersama mereka. Youn menghidangkan satu kotak dan satu air mineral di hadapan Anisa.
"makan yang banyak dulu agar ada tenaga untuk menjaga Al malam ini."
Anisa tersenyum,"terima kasih tuan."
"nama saya Youn, bukan tuan," protesnya, ia kesal sekali di panggil tuan terus terusan oleh wanita ini.
Hening, mereka makan dalam diam.
"apa ngga sebaiknya kamu pulang saja Youn? ada aku yang akan menjaga mereka malam ini," ucap Norin pada Youn setelah mereka selesai makan.
"aku ini laki laki, kenapa harus kamu yang jagain mereka."
"ck, kamu meremehkan tenaga ku?"
"ha ha.. bukan begitu. maksudku bukankah jika ada laki laki yang menjaga apa itu akan lebih aman?"
"jadi maksudmu kau mau ikut menginap juga di sini? mau tidur dimana? sofa hanya satu."
"itu tidak masalah, aku bisa tidur di kursi depan ruangan ini."
__ADS_1
"o, begitu. ya sudah jika itu mau mu."
Waktu menunjukan pukul satu malam. Norin tertidur di atas sofa, Anisa terlihat mengelus elus Al yang tidurnya kurang nyaman. Sementara Youn duduk di pojokan sambil memainkan game di ponselnya. Sesekali Youn melirik wanita yang beberapa kali menguap menahan kantuk. Anisa harus tetap terjaga, ia takut Al akan bangun dan menangis. Benar apa yang yang di khawatirkan nya, Al menangis tengah malam. Anisa menenangkannya tapi Al masih tidak mau berhenti menangis.
Youn mendekati Al lalu mengecek suhu tubuh nya kembali panas. Youn segera mengambil botol kecil yang memang sudah di sediakan di ruang tersebut lalu menyatukannya dengan jarum infus. Setelah selesai, Youn menggendong Al kemudian kepala Al di rebahkan di atas dadanya lalu Youn mengusap usap punggung balita itu. Al berhenti menangis di gendongan Youn hingga balita itu tertidur kembali.
Anisa tersenyum anaknya kembali tidur di gendongan youn. Youn masih saja mengusap usap punggung Al dengan sayang. Rasanya ia enggan sekali melepas kan balita tersebut, padahal Al sudah tidur dengan lelap.
"Youn, apa tidak sebaiknya tidurkan kembali? Al sudah tidur," ucap Anisa.
"biarkan saja aku menggendongnya, kau tidurlah biar aku yang menjaga Al."
"tapi....!"
"tidak apa apa, kamu pasti lelah sekali bukan? seharian bekerja dan sekarang harus begadang untuk menjaga Al."
Anisa tersenyum," terima kasih Youn." kemudian Anisa menyenderkan sebelah wajahnya di ranjang lalu tertidur. Sementara Youn menarik kursi di pojokan lalu di dekatkan dengan kursi Anisa, ia pun duduk di kursi tersebut sambil memangku Al yang tertidur. Youn memperhatikan wajah lelah Anisa yang tertidur dengan posisi duduk lalu Ia tersenyum.
Malam menjelang subuh, Anisa dan Norin terbangun sementara Youn masih memangku Al yang masih tidur nyenyak. balita itu seperti nyaman sekali tidur di gendongan Youn.
"maaf saya....!"
"it's okey, kau tidur saja lagi, hari masih gelap bukan?"
"saya mau sholat subuh dulu."
"sholat?"
Anisa mengangguk.
Sementara Norin sudah sholat lebih dulu karena dia bangun lebih awal.
"Nis, aku mau pulang dulu ya? kerjaan ku banyak sekali aku harus masuk kerja tapi pulang kerja nanti aku akan ke sini lagi."
"iya Rin, makasih banyak ya udah nemenin aku di sini."
"iya, nemenin tidur. soalnya kan sudah ada bodyguard yang jagain di sini ha ha...!" sindir Norin pada Youn. Youn hanya mencebik kan bibirnya saja.
Norin mengambil air wudhu di kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Setelah itu, ia menggelar sajadah di pojokan. kemudian, Anisa memakai mukena milik Norin yang sengaja ia tinggalkan untuknya. Setelah itu, mulai menjalan kan ibadah sholat subuh.
Youn memperhatikan Anisa sambil menggendong Al, Youn tahu apa yang di lakukan oleh Anisa merupakan sebuah ibadah. Youn tidak terlalu buta seperti Shin mengenai pemahaman Islam, karena ia sendiri pernah memiliki teman seorang muslim yang rajin beribadah seperti Anisa. Pada saat itu, Youn sendiri pernah tertarik untuk memeluk agama Islam tapi karena temannya tersebut keburu pergi ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya di sana, Youn pun membatalkan keinginan nya itu.
Youn meletakkan Al di ranjang tidurnya setelah Anisa selesai beribadah.
"Anisa, boleh aku tidur sejenak?"
Anisa tersenyum." silahkan, maaf aku sudah banyak merepotkan mu sehingga kamu tidak tidur semalaman."
"it's, okey. aku hanya butuh tidur sedikit aja." Youn menghampiri sofa panjang kemudian ia merebahkan diri di sofa tersebut lalu memejamkan matanya. Youn tertidur pulas. Anisa menatap pada pria yang tengah tertidur lalu menyunggingkan senyum manisnya.
__ADS_1