Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 8.1)


__ADS_3

...“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.”...


...(Imam Syafi’i)...


...🍁🍁🍁...


Asri menyentuh tangan Ai dengan suara jantung menggebu-gebu. Sama seperti dirinya, Ai juga terlihat gugup. Dia bisa merasakan melewati tangan berkeringat dingin Ai yang dia sentuh tadi.


"Apa dia meninggalkan kita?" Tanya Asri dengan ekspresi sembelit di wajahnya.


Ai masih tercengang melihat kepergian Mega. Dia bahkan berpikir ingin mengejarnya juga. Toh, hukuman adalah hukuman dan mereka bisa melewatinya bersama-sama seberat apapun itu.


"Ada apa dengan teman kalian tadi? Kenapa dia tiba-tiba berlari tanpa menunjukkan rasa hormat kepada kami?" Tanya Ustad Azam jelas tidak puas di ujung sana.


Dia marah tapi berpikir secara rasional bahwa tidak ada gunanya memarahi Ai dan Asri. Kedua gadis yang masih bengong di depannya ini pasti tidak menyangka juga dengan gerakan tiba-tiba Mega.


"Ustad tolong maafkan dia..dia mengalami masalah di perutnya jadi aku akan pergi melihatnya-ah!" Asri sedang mencari kesempatan dan peluang untuk menarik diri.


Tapi sebelum dia selesai mengucapkan kata-katanya, Ai- gadis cantik dengan kelopak mata seindah buah persik yang biasanya kalem dan rendah hati kini sudah membalikkan badannya 180 derajat untuk melarikan diri!


Semua orang yang melihat,"...." Keberaniannya sungguh luar biasa.


Asri yang ditinggalkan,"...." Kenapa kamu tidak menungguku selesai berbicara dulu sebelum pergi!

__ADS_1


Sekali lagi, kebisuan canggung yang mencengangkan merayapi mereka.


"Apa dia juga sakit perut?" Tanya Ustad Vano dengan wajah datarnya.


Asri meneguk ludahnya sendiri, saat ini dia merasa sangat haus dan tenggorokannya pun terasa kering.


"Aku pikir dia baik-baik saja." Dia tidak bisa berbohong di depan duo kulkas berjalan ini.


Dia takut dihukum!


"Lalu, apa kamu juga ingin melarikan diri menyusul kedua teman mu?" Tanya Ustad Vano dengan senyum yang bukan senyuman.


Asri tidak menjawab tapi Ustad Vano jelas sudah mengetahui jawabannya.


Sejenak, orang-orang melayangkan perasaan simpati kepada mereka bertiga karena mendapatkan hukuman serius dari Ustad Vano. Mereka sejujurnya tidak terkejut mendengar hukuman dari Ustad Vano karena setiap hukuman yang diberikan kepada santri selalu tidak main-main.


Yah, Ustad Vano adalah calon menantu Pak Kyai jadi tidak mengherankan dia harus memupuk dirinya menjadi pribadi yang tegas.


Belum selesai Asri mencerna semua kata-kata Ustad Vano, dia kembali lagi ditekan oleh kata-kata dingin lainnya dari Ustad Azam.


"Kalian bertiga tidak bisa pulang ke asrama putri sebelum masjid benar-benar bersih."


Membersihkan masjid?

__ADS_1


Masjid Abu Hurairah di pondok pesantren ini?


Asri meneguk ludahnya kasar mulai berkeringat dingin. Di dalam kepala suci tidak terjamah miliknya dia mulai menghitung sudah berapa kali dia dihukum di pondok pesantren ini. Padahal dia baru saja mondok di sini dan belum ada 1 minggu dia sudah membuat banyak masalah.


Hati rapuhnya bertanya-tanya, apakah sudah terlambat untuk pindah ke pondok pesantren lain?


"Sekarang kamu bisa mengejar mereka." Ucap Ustad Vano acuh tak acuh.


Asri ingin sekali pergi tapi kedua kakinya seolah terpaku di tempat.


"Apa kamu membutuhkan hukuman tambahan?" Ustad Azam dengan murah hati bertanya.


Asri langsung menatap ngeri Ustad Azam. Dia menggelengkan kepalanya panik. Entah darimana keberanian itu berasal karena setelah dia mengucapkan salam kedua kakinya bisa bekerjasama lagi.


Dia berlari dengan linglung sambil membayangkan adegan drama Korea dimana setelah dia pergi sang tokoh utama pria diam-diam menaruh simpati kepadanya. Ah, dia tahu harus membayar harga yang tinggi untuk hal itu!


Sayangnya drama Korea yang Asri bayangkan bertolakbelakang dengan apa yang dia bayangkan. Bukannya mendapat rasa simpati dari laki-laki itu namun dia malah mendapatkan cibiran kesal dari beberapa petugas kedisiplinan asrama putri.


"Mereka bertiga selalu menciptakan masalah di sini. Awalnya aku pikir itu karena mereka tidak tahu apa-apa tapi lama-lama aku menyadari jika itu tidak sesederhana yang aku pikirkan. Aku malah merasa mereka sengaja membuat masalah agar mendapatkan perhatian dari Ustad Vano dan Ustad Azam." Dia berkata di samping Sasa dan Tiara.


"Astagfirullah, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Mereka adalah santri baru dan masih belum mengetahui tentang peraturan di pondok pesantren ini dengan baik. Bukankah kita juga pernah berada di fase ini 3 tahun yang lalu?" Sasa berpikir positif dan tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh rekannya tersebut.


Mengalami kesulitan ketika tinggal di pondok pesantren adalah hal yang sangat wajar dan tidak mengherankan. Pasalnya orang-orang yang datang menuntut ilmu di sini adalah orang-orang dari jauh dan sudah terbiasa bersekolah di sekolah umum.

__ADS_1


__ADS_2