Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Makan Siang dengan Satrio


__ADS_3

"Iyaa Pak, tapi saya maunya bunga mawar putih yaa Pak." ucapku tersenyum


"Idih, ngerepotin banget sih, pakai request segala! " ucapnya kesal


"Yah Pak, saya kan cuma pengen dikasih bunga kayak orang-orang, soalnya kan saya belum pernah dikasih bunga, paling pernah dikasih tapi bunga yang dijual di SD itu , yang dari kertas." ucapku manyun


"Hahaha kasian banget sih kamu, oh yaa ingat yaa, kamu berpura-pura seolah-olah nggak tahu kalau saya mau nyatain cinta, terus nanti kalau kita resmi jadian jangan saya-sayaan lagi, tapi pakai aku dan kamu, jangan panggil saya Bapak juga, emang saya Bapak kamu." ucap Pak Satrio tertawa


"Iyaa cuma kayak gitu mah gampang, eh tapi Pak, Bapak tadi Bapak banyak cerita ke saya, emang itu beneran yaa ? yang digudang tadi?" ucapku serius


"Oh itu, iyaa beneran, kamu jangan bilang ke siapa-siapa yaa, itu tadi karena aku terlalu takut aja." ucapnya pelan


"Hemm ternyata Playboy kayak kamu bisa takut juga yaa, tapi nih pesen saya Bapak harus hati-hati, siapa tahu pembunuh itu akan mencari Bapak lagi." ucapku berpesan


"Iya kamu benar Nad, selama aku masih hidup pasti dia akan mencari ku suatu saat nanti, entahlah siapa dia sebenarnya." ucap Pak Satrio lemas


Tiba-tiba Pak Nathan datang lagi setelah selesai mengangkat telepon dari Nenek lampir.


Pintu dibuka


Ceklek...


"Eh koq kalian diam aja, kayak habis ada hal serius yang dibicarakan, kalian lagi bahas apa?." tanya Pak Nathan sambil mengarah ke kami


"Oh itu bro, gue penasaran aja sama Nadia, tadi koq lu sama yang lain bisa tahu kita digudang?." ucap Pak Satrio berbohong


"Oh itu, iyaa gue belum cerita yaa, jadi si Siska laporin ke gue, katanya "Pak koq Nadia gak kelihatan yaa, padahal tadi dia udah di Kafe, saya cari-cari dikamar mandi dan disegala arah nggak ada". katanya gitu. Terus gue panik dong, gue telepon gak bisa tahunya gue lupa kalau handphone nya di dalam loker, akhirnya gue panggil karyawan lain, gue tanya ada yang ngeliat gak, pada gak tahu, yaudah akhirnya kita mencar dan tempat terakhir yang kita cari gudang, terus tiba-tiba ada suara Nadia dari dalam gudang jadi dari situ gue nemuin kalian, malah yang nggak gue tahu lu koq pagi-pagi ada di Kafe, emang lu mau ngapain?." tanya Pak Nathan

__ADS_1


"Oh begitu, syukur lah kalian datang, gue gak tau gimana jadinya nasib gue sama Nadia, tadinya gue mau pamit sama lu bro, kan gue mau ke Bali, ya tapi apa boleh buat takdir berkata lain." ucap Pak Satrio


"Iyaa makasih Pak Nathan dan maaf Pak Satrio, gara-gara saya kerjaan Bapak tertunda." ucapku merasa bersalah


"Iya sama-sama Nad, cuma gue masih bingung sih Sri tadi gak bilang apa-apa ke gue pas semua karyawan sibuk nyariin Nadia, si Jani, Mila sama Nina juga sama , malah pada sok panik dan bantu nyari, ini nih bakal gue selidiki pokoknya." ucap Pak Nathan


"Iyaa lu harus selidiki segera bro." ucap Pak Satrio


"Dan kamu Nadia, emang yaa selalu aja ketemu sama aku, mungkin kamu emang jodoh aku." ucap Pak Satrio tertawa


Tiba-tiba ditengah obrolan kami perutku berbunyi.


Kruk...


"Lho perut kamu bunyi tuh Nad, kamu lapar yaa, kamu makan dulu sana , terus langsung pulang gak apa-apa, kasihan kamu." ucap Pak Nathan


"Hah kamu sarapan sama Nathan, koq gak ajak aku? yaudah sekarang kamu ikut aku makan siang dulu." ucap Pak Satrio kesal


"Oh itu bro, dia tadi pagi bikin bubur ayam sama susu jahe merah, enak lho, gue aja sampai ketagihan." ucap Pak Nathan tertawa


"Wah wah Boss sama karyawan akur yaa, koq gue jadi curiga sama lu , apa lu suka sama Nadia bro?." tanya Pak Satrio cemburu kayaknya apa pura-pura gak taulah


"Yaelah santai aja bro, gue mah anggap Nadia kayak karyawan gue yang lain, malah Nadia udah kayak adik gue sendiri." ucap Pak Nathan santai


'Koq aku sedih yaa setiap Pak Nathan bilang aku cuma adiknya, duh kayaknya aku emang udah suka beneran sama dia." batinku


"Oh baguslah kalau gitu, yaudah gue izin aja Nadia sebentar untuk makan nasi, nanti dia gue anterin lagi kesini, Nadia kamu mau makan sama aku kan?." tanyanya

__ADS_1


"Mau Pak, tapi saya mau makannya di warung nasi Padang, yaa Pak." ucapku tersenyum


"Kamu mah bener-bener banyak banget maunya, yaudah ayo ikut saya. Bro lu sebaiknya gak usah ikut yaa gue mau berduaan aja." ucap Pak Satrio santai


"Oh yaudah silakan kalian makan , ini sudah hampir sore lho, Nadia saya kasih waktu hanya setengah jam yaa, nanti balik lagi kesini, sesuai sama apa yang kamu katakan." ucap Pak Nathan


"I... iya baik Pak, saya akan mematuhi pesan Bapak." ucapku patuh


Lalu kami berdua keluar dari ruangan Pak Nathan, aku dan Pak Satrio jalan berdampingan pergi ke warung nasi Padang didepan Kafe, hihi sekali-kali ngajak orang kaya makan di warung Nasi Padang, kan biasanya mereka makannya steak.


Lalu ketika kami mau keluar pintu, kami bertemu dengan Siska.


"Ya Allah Nad, kamu baik-baik aja kan? , ada yang luka nggak?." tanya Siska khawatir sambil melihat-lihat badanku


"Nggak koq tenang aja , aku baik-baik aja, makasih yaa sudah perhatian dan nolong aku." ucapku sambil memeluk nya


"Ya jelaslah Nadia gak apa-apa, dia kan manusia aneh, dikunci digudang malah bahagia, yaudah yuk cepet kita makan Nad, aku udah laper." ucap Pak Satrio kesal


"I..iyaa bawel. Eh Siska , nanti kita lanjut lagi yaa cerita nya, aku mau makan dulu didepan sama nih orang, dah Siska." ucapku


"Oh iyaa Nad, cepet makan, nanti kamu sakit lagi, yaudah aku kerja lagi yaa." ucap Siska sambil meninggalkan kami


Lalu kami berdua pun pergi untuk makan sambil nyebrang jalan dan Pak Satrio terus menggandeng tangan ku, kayaknya dia gak pernah nyebrang jalan.


Lalu kami sampai dan duduk berhadapan, aku pun memesan 2 nasi dengan daging ditambah lalap dan juga udang kesukaan ku.Tak lupa teh manis dingin.


"Eh kamu main pesen aja, gak tanya aku dulu." ucap Pak Satrio kesal

__ADS_1


"Ah kelamaan Pak, udah ikut aja kayak saya, lagian enak koq semuanya juga, gak ada alergi udang kan kayak Pak Nathan?." ucapku


__ADS_2