Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.7)


__ADS_3

Hari itu juga Bapak segera mengurus surat-surat pemberhentian Asri di pondok pesantren. Sangat disayangkan memang, para Ustazah menyayangkan keputusan Asri berhenti sekolah di pondok. Jika mengeluhkan perkara biaya, pihak pondok bersedia memberikan keringanan asalkan Asri tidak berhenti. Namun, tekad Asri sangat kuat melaksanakan baktinya kepada Bapak dan Ibu. Dia tidak akan pernah mundur sampai jalan keluar untuk masalah ini benar-benar ada.


Saat mengemasi barang-barang di kamar. Semua teman-teman kamarnya menangis. Satu lagi, mereka kehilangan satu anggota kamar yang telah menceriakan kamar mereka sejak awal bertemu.


Mereka semua agaknya tidak rela mengizinkan Asri pergi, tapi tangisan dan ketidak relaan mereka tidak akan mengubah apapun.


Sekalipun rasanya berat, sekalipun rasanya sangat sakit, dan sekalipun hatinya hancur, Asri tetap membawa langkahnya keluar dari pondok pesantren.


Berjalan bahu membahu bersama Bapak di lorong menuju jalan keluar, Asri tidak sengaja melihat Kevin di tempat parkiran mobil. Dia sedang berdiri bersama Hanna tampak sedang membicarakan sesuatu.


Ketika melihat laki-laki itu lagi, laki-laki yang telah berhasil menguasai hatinya dan entah sampai kapan menguasai tahta hatinya, Asri tiba-tiba membentuk sebuah senyuman tipis di sudut mulutnya.


"Inilah pada akhirnya." Bisiknya hanya bisa menatap dari jauh.


"Agar bisa melupakan tentang kamu, Allah mengirim ku sejauh mungkin darimu. Jauh sampai batas dimana aku akan dihalalkan untuk laki-laki yang tidak pernah aku harapkan. Kak Kevin," Menghela nafas panjang.


"Semoga Allah melindungi hubungan mu dengan Kak Sasa, dan semoga Allah meridhoi pula jalan yang kita tempuh masing-masing. Selamat tinggal, Kak." Ucapnya sendu sebelum memalingkan wajahnya ke depan, membawa langkah kakinya mengejar Bapak yang sudah siap diluar pondok pesantren dengan motor bututnya.


Sementara itu di parkiran mobil, Kevin menoleh ke belakang terlihat mengawasi sekelilingnya. Namun, tidak ada siapapun yang ia temukan, rasanya cukup aneh.


"Hem?" Kevin merasa bila ada seseorang yang sedang memperhatikannya tadi tapi kenapa saat ia cari tidak ada siapapun di sini.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" Tanya Hanna kepada saudara kembarnya.


Kevin menggelengkan kepalanya tidak yakin, mengusir pikiran aneh itu jauh-jauh dan kembali lagi ke topik pembicaraan awal.


"Bukan apa-apa, dek." Katanya membuang jauh-jauh pikiran tadi.


...🍃🍃🍃...


Sepanjang jalan, Asri hanya membawa pandangannya menatap sawah-sawah yang ia dan Bapak lewati. Motor butut yang telah menua karena usia tidak bisa membawa mereka bergerak secepat motor-motor yang lainnya. Tapi bagi Asri ini adalah hal yang membuatnya nyaman karena dengan begini perjalanan pulang akan terasa sangat lama dan ia bisa mengulur waktu sedikit saja- meskipun faktanya ini sia-sia dan tidak bisa merubah apapun.


"Bapak," Panggil Asri dari belakang.


"Apa hutang-hutang yang Bapak pinjam di saudara Romlah itu digunakan untuk membiayai Asri sekolah di pondok?" Tanya Asri dirundung rasa penasaran.


Pasalnya dia yakin jika biaya di pondok pesantren tidak akan menghabiskan terlalu banyak uang apalagi sampai harus menjual sawah-sawah mereka.


Pondok pesantren Abu Hurairah tidak akan semahal itu karena mereka murni ingin membesarkan dan membimbing para Hafizh atau Hafizhah Al-Qur'an. Jika pun membayar, itu hanya sedikit sebagai akomodasi mereka tinggal saja.


Bapak awalnya diam. Asri pikir Bapak tidak mendengar pertanyaannya tadi dan ingin bertanya kembali lagi tapi Bapak lebih dulu membuka mulutnya.


"Nak, 6 bulan yang lalu Adikmu daftar di sekolah keperawatan di kota B."

__ADS_1


Ah, semuanya sekarang sudah jelas. Karena tuntutan Adiknya, Bapak dan Ibu terpaksa meminjam uang di saudagar Romlah, saudagar kaya yang terkenal sangat perhitungan.


"Bapak dan Ibu tidak bisa menolak keinginannya karena Adikmu sangat ingin sekolah di sana. Selain itu guru di sekolah sebelumnya juga mengatakan bahwa Adikmu sangat pintar dan berprestasi, sangat disayangkan bila dia tidak bisa melanjutkan di jenjang berikutnya." Bapak melanjutkan lagi jawabannya.


Adiknya memang cerdas, hampir semua orang-orang di desa mengetahui ini. Sebab, adiknya adalah gadis yang berprestasi dan sering mengikuti lomba maupun olimpiade ke kota.


Jadi, rasanya cukup wajar melihat Adiknya ingin melanjutkan sekolah di tempat yang lebih baik dan memadai.


Akan tetapi,


Mereka bukan dari keluarga kaya, tidakkah Adiknya mempertimbangkan ini sebelumnya saat akan mendaftar sekolah?


Asri tidak mengerti.


Dia menjadi bungkam sepenuhnya. Perjalanan panjang yang ia harapkan memakan banyak waktu nyatanya tidak selambat yang ia harapkan.


Tidak butuh waktu lama mereka akhirnya memasuki kawasan desa yang sudah tidak asing lagi untuk Asri. Dia kembali menatap pemandangan yang familiar, hamparan sawah hijau yang menyegarkan mata, hembusan angin sore yang menyejukkan, dan suasana damai yang bernostalgia.


Dari semua yang Asri lihat dan rasakan sekarang begitu memasuki desa, kata-kata pertama yang berdengung di dalam hatinya adalah,


Ya Allah, tolong lapangkan hatiku dalam menerima ketetapan-Mu. Bisiknya melambungkan doa.

__ADS_1


__ADS_2