Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 7.5)


__ADS_3

"Astagfirullah, Ustazah! Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu!" Sari sontak membantah tapi kedua matanya masih tidak berani menatap mata tajam Ustazah.


"Jika kamu tidak bermaksud begitu lalu apa maksud kamu mencoba masuk ke dalam ruangannya? Apa yang sedang kamu cari di sana padahal dia bukanlah pengajar di sekolah santriwati!" Sari kali ini tidak menjawab.


Dia menggelengkan kepalanya membantah dan suara tangisannya kian besar. Dia menangis terisak-isak, meremat kuat kedua tangannya ketakutan bercampur gelisah.


Ustazah itu lalu menghela nafas panjang. Dia kemudian mengambil telepon, menekan nomor yang di ambil dari buku tebal yang ada di sampingnya.


"Hallo, assalamualaikum?" Lalu Ustazah berbicara dengan orang yang ada di seberang sana.


"Aku penasaran siapa pengajar yang hampir bernasib buruk itu?" Kata Asri setelah puas menonton drama.


Mega berpikir,"Aku tidak tahu tapi aku harap itu bukan dia." Katanya tanpa sadar.


Ai dan Asri tentu saja mendengarnya. Ai ingin bertahta tapi didahului oleh Asri,"Dia siapa? Apa kamu kenalan staf pengajar di sini?" Tanya Asri pura-pura tidak tahu.


Mega tertegun,"Ekhem.." Dia berdehem pura-pura kehausan.


Mengambil air minum dan menyesapnya ringan sambil mengatur kembali ekspresinya seperti biasa.


"Tidak, aku tidak punya kenalan." Dia tidak hanya sekedar kenalan biasa, dia lebih dari itu. Batin Mega cemberut.


"Lalu 'dia' itu.." Ai ikut bertanya, wajah cantiknya yang kemerahan diam-diam mengulum senyum.


"Dia itu.." Mega menyesap kembali minumannya.


"Dia itu..Ustad yang kebetulan mengurus dokumen masuk ku kemarin. Dia baik dan aku yakin dia adalah orang yang baik, hanya saja aku lupa menanyakan na-"


"Assalamualaikum." Suara dingin itu masuk ke dalam ruang staf asrama putri.

__ADS_1


Di sini juga ada staf laki-laki tapi sudah paruh baya. Mereka bekerja di sini bersama para Ustazah dan staf asrama laki-laki bisa izin masuk ke sini bila ada urusan khusus atau mendesak. Staf dari asrama laki-laki tidak takut masuk ke dalam ruangan ini karena ada cctv dan staf laki-laki paruh baya yang bekerja di sini.


Mereka hanya perlu menjaga jarak sewajarnya agar tidak menimbulkan fitnah, itu saja. Di samping itu kedua pintu selalu dibiarkan terbuka dan tidak diizinkan tertutup kecuali sudah pukul 17. 00.


"-manya." Tiba-tiba tenggorokan Mega terasa kering ketika melihat wajah dingin yang baru masuk dan lewat di depannya.


Tidak hanya Mega saja yang merasa kering, namun Ai juga tiba-tiba menjadi haus ketika melihat siapa yang datang tadi.


Dia buru-buru meminum air putih yang masih bersisa di dalam gelasnya untuk menghilangkan rasa haus.


"Lho, kok tiba-tiba wajah kalian jadi merah padahal di sini udaranya adem dan sejuk karena ada AC." Kata Asri sengaja menggoda Mega dan Ai.


Padahal dia tahu betul kenapa mereka seperti ini. Ah.. sayangnya laki-laki itu tidak ikut padahal jika dia ikut maka semuanya akan terasa menyenangkan!


"Alhamdulillah, kalian akhirnya datang." Ustazah itu segera berdiri menyambut Ustad Vano dan Ustad Azam.


"Pesona duo kulkas memang tidak bisa dibendung." Bisik Asri ketika melihat reaksi para Ustazah yang mulai berpura-pura sibuk bekerja.


Ai mengintip punggung tegap Ustad Vano dari sudut matanya dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya.


"Eh, itu karena mereka sempurna." Bisik Ai sambil tersenyum masam.


"Tidak heran, gadis yang mereka sukai pasti sangat beruntung." Bisik Mega di samping.


Suasana diantara mereka bertiga tiba-tiba menjadi melankolis. Asri ingin menghibur mereka berdua tapi tidak tahu harus mengatakan apa karena faktanya dia juga ada di posisi yang sama.


"Hah..aku ingin nikah muda." Bisik Asri yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Mega dan Ai.


"Jangan memulai lagi." Peringat Mega tidak bisa melupakan sindiran dari Ustad Azam sebelumnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau dihukum lagi." Kata Ai sedih.


Itu karena jika dia dihukum maka dia akan bertemu lagi dengan Ustad Vano. Dia tidak tahu mengapa dia bisa membuat kesimpulan ini.. bukankah ini namanya terlalu percaya diri?


Ustad Vano dan Ustad Azam mengangguk ringan sebelum meletakkan flashdisk putih ke atas meja Ustazah itu.


"Ustazah, ini adalah rekaman cctv yang diambil dari sekolah santri laki-laki dan dari dalam ruangan kerja ku."


Deg


Ai sontak mengangkat kepalanya tidak percaya. Dia sungguh tidak pernah berpikir jika ruangan yang Sari masuki adalah ruangan kerja Ustad Vano.


Ai ketakutan bercampur tidak rela. Dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika Ustad Vano sedang ada di dalam ruangannya ketika Sari masuk?


Apakah mereka berdua akan dituduh melakukan perzinahan dan terpaksa diusir dari pondok pesantren?


Atau hal yang paling menakutkan adalah..mereka terpaksa harus menikah?


"Astagfirullah, Ya Allah..apa yang sedang aku pikirkan!" Ai memalingkan wajahnya, menyentuh kepalanya tidak ingin lagi memikirkan hal itu.


Karena jujur, dia ketakutan.


Bersambung..


Lagi?


Author up lagi deh nanti sore, tapi kalau mau🤭


Gak tahu kenapa cerita mereka kayaknya gak bisa di tamatin akhir bulan ini wkwkwkw..ada yang udah mulai bosen?

__ADS_1


__ADS_2