
"Aku minta maaf sebelumnya, Kak. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi." Janjinya seramah mungkin agar Frida tidak marah lagi kepadanya.
Karena ya, di dalam hati dia juga sangat ketakutan dengan reaksi dingin Ustad Vano tadi. Dia sakit dan hatinya terasa sesak, rasa tidak nyaman itu mana mungkin Ai mau mengulanginya lagi?
Dia tidak mau!
"Tentu saja, meskipun kamu mau, peluang kamu untuk mendekatinya tidak akan ada lagi di masa depan." Katanya dengan nada mengejek.
Ai hanya tersenyum tipis mendengarkan cemoohan nya. Sepanjang perjalanan dia diam dan lebih banyak menunduk. Pikirannya dipenuhi tentang keluarganya yang ada di rumah dan keterasingan Ustad Vano ketika melihatnya tadi. Belum lagi tatapan tidak senang dari beberapa orang yang tidak dia kenal karena insiden tadi, Ai kian merasa tidak nyaman.
Di hari pertama masuk ke dalam tempat yang asing, Ai tahu semuanya tidak akan berjalan lancar. Cerita ini selalu sama bahkan di saat dia pertama kali masuk SD dan SMP dulu.
Jadi dia tidak terlalu berharap banyak.
"Ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam pondok pesantren, Kak, jadi tolong maklumi dia karena tidak tahu apa-apa." Ada santri baru lain yang membela Ai.
Ai terkejut dan sontak mengangkat kepalanya menatap ke arah pemilik suara lantang itu. Kebetulan gadis itu berjalan tepat di depannya sehingga apa yang dikatakan Frida tadi juga dia dengarkan.
Frida dan Tiara langsung melirik gadis itu. Frida tidak senang disanggah apalagi jika apa yang dikatakan lawan bicaranya itu memang benar. Dia merasa posisinya yang sebagai senior telah disepelekan oleh gadis itu.
"Kenapa? Apa di sekolah kalian sebelumnya tidak diajarkan tentang bagaimana cara berperilaku baik dan sopan? Ini adalah pelajaran dasar bagi semua orang jadi bagaimana mungkin dia tidak tahu apa-apa." Kata-kata Frida memang masuk akal.
Sebagian orang yang mendengarnya setuju dengan apa yang Frida katakan. Menurut mereka jika Ai adalah orang yang berprilaku baik dia tidak akan bersikap lancang di depan Ustad Vano.
__ADS_1
Jujur saja, mungkin tepatnya mereka sangat cemburu dengan peluang Ai bisa berbicara dengan Ustad Vano. Bahkan Frida yang juga berada di tempat kejadian tidak bisa menahan rasa kesal dihatinya.
Bagaimana mungkin anak baru itu tiba-tiba memanggil Ustad Vano dengan sebutan 'Kak Vano'? Seolah-olah mereka saling mengenal.
Tapi untunglah Ustad Vano langsung mendisiplinkan Ai di tempat bahkan di depan banyak santri baru. Setidaknya, rasa kesal di hatinya berkurang sedikit-yah, hanya sedikit karena dia masih belum bisa melupakan tingkah sok akrab Ai.
"Aku tadi bilang ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam pondok pesantren jadi tingkahnya akan sedikit aneh karena dia gugup. Itu juga berlaku kepada santri baru yang lain termasuk aku, Kak. Tadi saja ketika berada di tempat registrasi pertama aku tidak sadar memanggil Kak Sasa dengan sebutan 'Mama' karena terlalu gugup. Tapi Kak Sasa tidak marah dan memaklumi kegugupan ku." Semakin dia berbicara kesal jadinya Frida.
Dia menatap gadis itu dingin,"Bahkan jika kamu gugup sekalipun berbicara sok akrab dengan laki-laki asing tidak pernah dibenarkan. Apa kamu tidak paham?" Katanya tajam.
Dia mendengus kesal sebelum menarik tangan Tiara ke depan ikut bergabung dengan petugas kedisiplinan asrama putri yang sibuk mengenalkan tempat-tempat di sekeliling mereka.
Ketika mereka bertiga bergabung, Frida membisikkan sesuatu ke telinga petugas kedisiplinan asrama putri itu dengan ekspresi wajah yang masih kesal. Terhitung beberapa kali mereka menoleh ke belakang menatap Ai dan gadis yang tidak dikenal itu.
Merasa ditatap, gadis itu menoleh membalas tatapan Ai. Dia tidak tersenyum juga tidak menyapa, ekspresinya datar ketika melihat Ai. Itupun hanya beberapa detik saja karena setelah itu dia memalingkan wajahnya.
Padahal Ai tadi ingin mengucap terimakasih kepadanya, tapi gadis itu sepertinya tidak berniat menjalin pertemanan dengannya.
"Hah.. kuatkan Ai ya, Allah." Bisiknya seraya berpaling melihat hamparan sawah di samping jalan.
Ya Allah, terimakasih. Setelah 12 tahun aku menunggunya Engkau berikan aku kesempatan untuk melihatnya lagi. Meskipun perasaan ku mungkin bertepuk sebelah tangan tapi ini tidak masalah selama aku bisa melihatnya lagi. Terimakasih ya, Rabb.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Setelah berjalan cukup lama mereka akhirnya tiba di depan gedung asrama putri. Gedung ini cukup besar dan terawat dengan baik. Di halaman depan ada banyak tanaman bunga dengan warna yang beraneka ragam.
Bunga,
Ai tanpa sadar mengingat tas punggungnya yang sedang di sita Ustad Vano. Di rumah kemarin Bunda sempat memberikannya beberapa bibit bunga termasuk mawar hitam untuk dia tanam di pondok pesantren.
Ini karena selain belajar dengan tekun, pondok pesantren juga banyak kegiatan yang sangat bermanfaat seperti melakukan cocok tanam, membersihkan masjid atau tempat-tempat pondok pesantren yang lain, atau hal yang paling ditunggu-tunggu adalah panen hasil tanaman santri.
Itu terdengar cukup mengasyikkan untuk Ai.
"Khusus untuk santri baru kamar kalian ada di bangunan sebelah kanan sedangkan bangunan sebelah kiri adalah milik santri senior." Ujar Tiara sambil menunjuk ke arah kedua bangunan.
"Menjalin hubungan kekeluargaan alangkah baiknya juga dengan para senior kalian sehingga tali silaturahmi kita semua bisa terbentang luas. Adapun manfaatnya kalian bisa merasakan ketika dalam situasi tertentu. Misalnya kalian mengalami kesulitan ketika sedang belajar, masalah ini bisa kalian konsultasikan dengan senior kalian sehingga kesulitan dapat teratasi." Lanjutnya sebelum membimbing mereka masuk ke lorong kanan.
Di lorong kanan ada banyak kamar dengan nama di depan pintunya.
Ada nama-nama surga yang membuat sejuk hati mereka, nama-nama tokoh Islam muslimah yang sudah tidak asing untuk mereka, dan ada nama para malaikat dengan tugas masing-masing di sampingnya.
"Ini adalah kamar kalian, Fatimah RA, putri tercinta Rasulullah Saw. Di kamar ini kalian diharapkan menjadi wanita yang meneladani sikap dan sifat Fatimah RA. Ingat, Fatimah RA adalah orang yang akan memimpin kita masuk ke dalam surga sehingga aku harap kalian tidak mengecewakannya hanya karena sikap kalian yang masih tidak bisa dijinakkan. Sekali lagi aku peringatkan, ini adalah pondok pesantren dan bukan rumah kalian. Jadi tolong jaga sikap kalian agar tidak mempermalukan diri sendiri." Kata Frida berniat menyindir Ai.
Meskipun tidak menyebutkan nama tapi mereka tahu jika orang yang sedang disindir Frida adalah Ai. Memangnya siapa lagi yang membuat masalah di hari pertama masuk dan menarik perhatian banyak orang kecuali Aishi Humaira?
Bersambung...
__ADS_1
Lanjut