
Untuk menghadiri pertemuan tersebut, Rain tidak mau menggunakan gaun pesta ataupun dress perempuan. Ia lebih suka menggunakan jas dan celana jeans seperti yang biasanya ia lakukan ketika ke kantor. Ini adalah pakaian yang paling sesuai untuk Rain gunakan karena ia tidak punya banyak referensi pakaian untuk acara-acara seperti ini.
Mungkin jika Almira tidak di rumah sakit, ia pasti bisa memberikan Rain beberapa saran mengenai pakaian karena Almira adalah model dari majalah fashion.
"Nona, kita sudah sampai." Ujar supirnya menarik perhatian Rain dari lamunan tidak berarti.
Rain tersadar. Ia melihat keluar jendela mobil dan baru menyadari jika ia sudah ada di depan pintu masuk mansion Dirgantara. Ini adalah rumah utama keluarga Deon, calon adik iparnya.
"Terimakasih, Pak." Ucap Rain seraya turun dari mobil.
Berdiri diluar, Rain memperhatikan ada banyak sekali tamu-tamu yang sudah hadir. Beberapa wajah pernah Rain lihat di kantor Papanya dan beberapa wajah lagi pernah Rain lihat di dalam tv, dengan kata lain di sini ada banyak pebisnis dan artis Ibu kota. Rain mendesah ringan, dia benar-benar tidak suka keramaian. Ia mengambil nafas panjang untuk yang kesekian kalinya sebelum membawa langkah penuh enggannya masuk ke dalam.
Di dalam Rain berusaha menghindari obrolan. Sesekali ia mengangguk ringan ketika di sapa oleh kenalan Papanya tanpa niat melanjutkan pembicaraan. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya Rain bisa melarikan diri dari mereka semua.
Ia pergi ke balkon dengan segelas jus strawberry di tangannya sebagai formalitas. Ia tidak bisa minum dan ia pun tidak suka mencium bau alkohol, jadi, untuk mengelabui orang-orang ia hanya memesan jus strawberry dan membawanya kemana-mana sebagai formalitas saja.
"Ya Tuhan, akhirnya aku bisa bernafas lega!" Desahnya lega seraya menyandarkan punggungnya di tembok.
Jika bisa, ingin sekali dirinya pergi dari tempat ini dan segera pulang ke rumah untuk tidur. Karena ia benar-benar tidak suka keramaian. Di samping itu dia tidak punya kenalan jadi rasanya sangat canggung mencoba berbaur dengan mereka.
"Dia... sepertinya tidak ada di sini." Kata Rain kecewa.
Ini adalah mansion Dirgantara, mansion yang ditinggali oleh keluarga Deon sejak puluhan tahun yang lalu. Papa bilang keluarga Deon memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan di negeri itulah alasan kenapa Papa dan Mama sangat ingin membuat ikatan dengan keluarga Dirgantara melalui Almira.
Pertama kali mendengar tentang hubungan Deon dan Almira, keluarganya terlihat sangat senang karena mereka akhirnya bisa memiliki hubungan yang terikat dengan keluarga berkuasa tersebut. Dan mereka semakin bersyukur pula saat melihat betapa tulus cinta Deon kepada Almira sekalipun ia mengalami penyakit yang mematikan.
"Mungkin saat ini dia sedang ada di rumah sakit untuk menjaga Almira bersama Mama dan Papa-"
Prank
Suara pecahan kaca menarik Rain dari pikirannya. Rain terkejut, buru-buru ia mendatangi tempat suara pecahan kaca itu berasal. Saat melihat punggung lurus yang sudah tidak asing lagi untuknya kini sedang berjongkok di lantai sambil menyentuh kepalanya, Rain segera mendatanginya tanpa ragu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Deon, apa kamu baik-baik saja?" Rain menaruh gelas jusnya di meja sebelum datang menghampiri Deon.
Benar, laki-laki yang ia pikir ada di rumah sakit nyatanya ada di sini dan kini sedang duduk berjongkok di depannya.
"Siapa?" Suara berat Deon terdengar tidak baik-baik saja.
"Ini aku, Rain." Kata Rain mengingatkan Deon.
"Oh, Rain." Kata Deon seraya menurunkan tangannya.
Ia mengangkat kepalanya menatap wajah khawatir Rain. Sekilas, Deon seolah melihat bayangan Almira di wajah cantik Rain. Membuat penjagaannya melonggar karena ia mengindentifikasi Rain sebagai kekasihnya.
"Almira, kamu di sini."
Deg
Cukup sakit tapi Rain memakluminya karena Deon pasti sedang mabuk. Ditambah itu pikirannya beberapa hari ini pasti tidak karuan karena mengkhawatirkan kondisi Almira di rumah sakit.
"Deon, ayo pergi. Aku akan membawamu bertemu dengan Paman Sam dan Bibi Xia." Kata Rain membujuknya kembali.
Jika ia membiarkan Deon di sini, takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan apalagi saat ini mereka sedang ada di balkon bukan di dalam ruangan.
Deon tersenyum hangat, ia menjangkau tubuh tipis Rain dan membawanya ke dalam pelukan. Menghirup wangi tubuh Rain dengan candu, tidak berselang lama ia mengernyit heran setelah menghirup wangi tubuh Rain.
"Almira, apa kamu menggunakan parfum yang lain malam ini?" Tanya Deon sambil menghirup wangi Rain sekali lagi.
Menghirupnya berkali-kali untuk memastikan bahwa penciumannya tidak salah.
Rain tersenyum tipis. Ia mencoba menjauhkan wajah Deon dari lehernya.
__ADS_1
"Ayo pergi, Deon." Kata Rain seraya membantu Deon berdiri dari duduknya.
Deon sangat berat tapi Rain terus berusaha membantunya agar bisa berdiri kembali.
"Rain, kamu ngapain di sini?" Deon bertanya bingung ketika melihat wajah merah Rain tepat di sampingnya.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini orang yang ia lihat bukanlah Almira melainkan Rain sendiri.
πΌπΌπΌ
Rain menundukkan kepalanya tidak berani melihat Deon.
"Aku di sini karena menggantikan tugas Papa datang ke acara pertemuan ini." Jawab Rain.
"Oh," Deon mengernyit menahan perasaan pusing yang kembali menggelayuti kepalanya.
"Kamu mabuk, aku akan membawamu ke Paman Sam dan Bibi Xia." Kata Rain seraya mempercepat langkah mereka.
Deon menggelengkan kepalanya menolak. Tidak, dia yakin sedang tidak mabuk karena tidak pernah minum alkohol sebelumnya. Dia hanya minum jus anggur merah saja dan minuman itu seharusnya tidak mengandung alkohol kecuali ada seseorang yang telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu.
"Tidak Rain," Badan Deon rasanya sangat panas.
Seolah-olah ada sesuatu yang memberontak ingin dilepaskan dan dipuaskan.
"Bawa aku ke kamar." Perintah Deon.
"Ka-kamar?" Wajah Rain sontak memerah.
Namun ia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga untuk menyingkirkan pikiran gila yang hampir saja membuatnya berfantasi liar. Hei, bagaimana mungkin itu semua terjadi?
Jangan bodoh!
"Ya, badanku rasanya terbakar dan aku butuh air dingin untuk meredakannya." Kata Deon berusaha tetap berpikir jernih.
"Astaga, aku akan segera membawamu ke kamar. Tapi, bisakah kamu menunjukkan aku jalannya?"
Mansion ini sangat besar dan memiliki banyak lorong ataupun tangga. Rain tidak tahu dimana kamar Deon dan dia juga tidak pernah berkeliling di tempat ini.
Jadi, ia mempunyai kemungkinan yang sangat besar tersesat di mansion ini.
"Hem, setelah keluar dari sini belok kanan." Kata Deon mulai memberikan arahan.
Rain segera mengikuti arahan Deon. Begitu keluar dari balkon ia langsung membawa langkah mereka menuju belok kanan, menyusuri lorong panjang yang diterangi cahaya lampu kuning keemasan.
"Apa kamu melihat tangga di samping kanan,"
Rain langsung melihat ke depan dan kebetulan menemukan tangga yang Deon maksud.
"Ya, aku melihatnya." Kata Rain bersemangat.
Oh ya ampun, Deon terlalu berat!
Dia tidak bisa terus memapahnya seperti ini.
"Naik ke sana." Perintah Deon.
Rain mengikutinya. Mereka secara perlahan menaiki anak tangga satu persatu hingga sampailah mereka di lorong panjang lantai kedua.
Berbeda dengan lantai satu, lorong di lantai memang panjang tapi hanya memiliki beberapa ruangan saja.
"Pintu coklat nomor tiga, itu adalah kamarku." Ucap Deon dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Aku menemukannya." Rain membuka pintu- tidak terkunci, ini lebih baik daripada mereka harus lebih pusing lagi mencari kunci kamar!
"Kita sudah sampai." Rain membantu Deon masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang.
"Rain," Panggil Deon dengan suara seraknya.
"Aku...aku akan pergi dan kamu istirahatlah di sini." Ucap Rain sebelum berbalik pergi- tapi, tidak sampai ia mengambil langkah kedua, tangannya tiba-tiba ditarik oleh Deon dengan kekuatan yang sangat besar.
Deon melemparkan Rain ke atas kasur dan beralih menghimpitnya agar tidak bisa melarikan diri.
Terkejut, Rain kesulitan mengatakan kata-katanya. Bagaimana mungkin kini Deon sudah ada di atasnya- tidak, hal yang paling gila adalah kenapa dia tiba-tiba berada dibawah!
"De-Deon...apa yang sedang kamu lakukan?" Rain ketakutan ditatap seperti ini oleh Deon.
Ia bahkan memalingkan wajahnya untuk menghilangkan perasaan gugup dihatinya.
"Kamu..." Deon merendahkan kepalanya, menyentuh wajah lembut Rain dengan bibirnya sebelum turun menyusuri leher ramping Rain yang memiliki wangi candu.
"Tidak! Tidak, boleh!" Rain panik.
Ia mendorong kepala Deon sekuat tenaga hingga Deon tertangkap tidak siap dan berakhir jatuh ke lantai. Melihat Deon jatuh, Rain langsung memanfaatkan peluang yang ada untuk melarikan diri. Buru-buru ia turun dari ranjang dan membawa langkah kakinya sekuat tenaga agar bisa menyentuh gagang pintu.
Cklack
Cklack
Cklack
Rain menggerakkan gagang pintu berkali-kali tapi pintu kamar Deon masih belum bisa dibuka.
"Ya Tuhan, kenapa pintunya tidak bisa dibuka!" Kedua tangan Rain bergetar panik dan terasa dingin. Ia memukul-mukul sisi pintu sekuat tenaga agar bisa dibuka tapi semua usahanya sia-sia.
"Bagaimana bisa pintu ini sekarang dikunci? Ta-tadi aku ingat pintu ini tidak terkunci." Gumam Rain ketakutan, menggerakkan gagang pintu dan memukul-mukul pintu agar segera terbuka.
Tapi hasilnya masih sia-sia.
"Mau kemana, hem?"
Deg
Suara serak Deon terdengar sangat dekat di telinganya. Deon ada di belakangnya dan mengejutkannya lagi, dia tepat ada di belakang Rain!
Rain ketakutan. Ia menggigit bibirnya menahan suara isak tangis. Bagaimana mungkin skenario ini terjadi kepadanya?
"Apa kamu ingin melarikan diri dariku?" Tanya Deon mulai mengendus-endus tengkuk Rain, membuat lutut Rain terasa lemas tidak sanggup lagi berdiri.
Namun, Rain berusaha menguatkan dirinya.
"Deon, jangan..." Rain membalik tubuhnya sehingga ia bisa berhadapan dengan Deon.
Tidak disangka mereka berdiri sedekat ini-- tidak, lebih tepatnya mereka sungguh sangat dekat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta padahal faktanya adalah sebuah mimpi buruk.
"Kamu tidak menginginkan ku?" Tanya Deon tidak puas.
Rain menggelengkan kepalanya menahan takut.
"Tidak Deon, aku mohon sadarlah karena aku bukan Almira!"
Bersambung..
Ekhem ini adalah buku terbaru saya tapi publis di K. B. M. Jadi, buat reader kalau mau tahu kelanjutannya silakan mampir di lapak hijau dengan judul Calon Adikku Menjadi Suamiku π
__ADS_1
Oh ya, mulai besok di novel ini akan up cerita Mega yahπ