Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.2)


__ADS_3

"Nah itulah yang kami takutkan. Jika nanti mereka sedang razia dan tidak menemukan keberadaan kita di sini, bukankah itu sama saja bohong namanya? Kita akan dihukum besok. Diceburkan ke dalam lumpur di sawah dan dipermalukan di depan banyak orang. Apa kamu mau itu terjadi kepada kita?"


Hal ini pernah terjadi sebelumnya tapi yang dihukum adalah santri laki-laki bukan santri perempuan. 5 atau 6 orang santri laki-laki ketahuan tidak tidur di asrama dan malah pergi ke sawah untuk mencari burung puyuh semalaman. Mereka baru kembali ketika waktu sholat tahajud tiba. Malang yang mereka dapatkan, saat kembali ke asrama mereka langsung disambut oleh salah satu Ustad yang telah lama menunggu kedatangan mereka.


Mereka semua lalu dihukum besok paginya, diceburkan ke dalam air berlumpur di sawah dan dijemur di tengah-tengah lapangan untuk dipermalukan. Sebenarnya itu adalah sebuah peringatan untuk santri yang lain agar tidak mengikuti jejak mereka.


"Inshaa Allah itu tidak akan terjadi. Lagipula aku sudah membuat kesepakatan dengan Ratna sehingga bila ada petugas kedisiplinan asrama putri yang datang razia, dia akan membantu kita membuat sebuah alasan." Asri sudah menyiapkan sejak tadi sore sehingga dia tidak terlalu takut.


"Bagaimana jika dia tidak bisa menghadapi petugas kedisiplinan?" Ai bertanya ragu.


"Aku yakin dia bisa. Hasilnya? Kita tidak akan tahu sebelum mencoba."


Mega,"Baiklah, kita akan mencobanya tapi hanya malam ini saja."


Asri jelas puas.


"Tunggu apa lagi, segera kemasi semua barang-barang kalian."

__ADS_1


Ai tidak langsung setuju,"Aku akan ikut tapi dengan syarat tempat yang kita datangi bukan tempat yang aneh-aneh. Jika tidak, aku akan segera pulang ke asrama."


"Menurutmu seaneh apa tempat itu sehingga kita harus membawa mukena, sajadah, dan bahkan Al-Qur'an?"


Mega mengangkat kedua bahunya acuh,"Kita akan melihatnya nanti."


Setelah itu mereka bertiga keluar dari asrama putri bersama-sama. Barang-barang penting seperti mukena, sajadah, dan Al-Qur'an mereka sembunyikan di dalam jilbab panjang yang mereka gunakan.


Karena masih belum waktunya tidur, mereka bertiga tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Tidak ada yang memperhatikan tonjolan samar di dalam jilbab panjang mereka bertiga. Bahkan teman-teman sekamar yang mereka lewati tidak menyadari ada sesuatu yang salah dengan sikap mereka.


"Bukankah ini jalan menuju masjid?" Ai sangat mengenali jalan yang mereka lewati sekarang.


Dan Asri tidak mengelak ataupun membantah,"Benar, masjid bukanlah tempat yang aneh'kan?"


"Oh, untuk apa kamu menyembunyikan. Jika kamu memberitahu kami sejak awal maka kami tidak akan ragu-ragu pergi." Mega mengeluh.


"Tidak akan seru jika aku memberitahu kalian sejak awal."

__ADS_1


Ai memeluk erat barang bawaannya gugup. Entah mengapa dia tiba-tiba merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan perasaannya tapi dia tidak menemukan siapa pun.


Aneh, padahal perasaan ditatap itu sangat nyata.


"Ai, ada apa?" Mega memperhatikan kebingungan Ai.


Ai mengeratkan pelukannya seraya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu pasti apakah ini hanya perasaan saja atau tidak namun yang pasti karena hal itu Ai menjadi lebih gelisah.


"Tidak, aku hanya.. sedikit gugup." Dia berbohong.


Mega dan Asri juga sedikit gugup karena ini adalah pengalaman pertama mereka melakukan tindakan segila ini.


"Jika Ustad Vano ada di sini dan kebetulan menemukan kita, aku yakin dia tidak hanya akan menceburkan kita ke dalam air lumpur, tapi juga meminta kita berenang di dalam air berlumpur!" Ujar Asri tidak bisa menahan sakit gigi setiap kali mengingat hukuman yang diberikan oleh Ustad Vano hanya karena sebuah kesalahan yang sangat kecil.


Mega juga setuju dengan apa yang Asri katakan. Ustad Vano selalu memberikan mereka hukuman yang tidak main-main meskipun tidak terlalu sulit untuk dilakukan tapi tetap saja hukuman yang diberikan masuk dalam kategori berat.


"Ustad Vano melakukan itu karena demi kebaikan kita juga. Dia ingin agar kita bisa segera beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren secepat mungkin dan melepaskan gaya hidup santai kita di rumah." Ujar Ai tidak bermaksud membela.

__ADS_1


Sejak kecil Ayah dan Bunda selalu mengatakan bahwa seberat apapun hukuman di pondok pesantren itu setimpal dengan kesalahan yang dilanggar. Mungkin bagi orang hukuman itu berat tapi bagi pondok pesantren kesalahan yang kita buat juga berat, bahkan mungkin lebih berat jika melibatkan hukum syariah.


Apapun di dunia ini berawal dari sebab dan diakhiri dengan akibat. Adapun hikmah yang dirasakan nanti berawal dari akibat dan diakhiri dengan sebab. Semuanya sudah Allah atur sedemikian rupa, dan manusia hanya perlu menjalaninya. Merenung sedalam mungkin untuk setiap langkah yang diambil karena tidak semua langkah berakhir baik dan tidak semua langkah pula berakhir buruk.


__ADS_2