
"tidak usah teriak begitu nona Anisa, telinga saya tidak tuli," ucap Youn tiba tiba dengan pandangan tetap lurus ke depan. Youn memang sengaja tidak menanggapinya namun bukan berarti Youn tidak mendengarnya dan tidak mau mengikuti perintah Anisa. Youn sedang malas berbicara dengan orang yang wajah nya datar saja.
Anisa menghela nafas."saya fikir anda tidak mendengarnya."
Youn melirik lalu tersenyum tipis. Kemudian, Youn membelokan mobilnya ke arah dimana mini market itu berada.
"saya mau turun dulu sebentar ya?"
Youn mengangguk."silahkan, saya tunggu di sini."
Anisa melangkah kan kakinya memasuki mini market tesebut. Terlihat mini market itu tidak terlalu ramai hanya ada beberapa orang saja. Anisa mengambil keranjang lalu menyusuri market itu untuk mencari susu dan Pampers anaknya. Namun, di tengah pencariannya, telinga Anisa menangkap suara yang sangat ia kenal di lorong sebelah. Anisa menghentikan langkahnya lalu mengintip di balik lorong tersebut. Nampak Rendi suaminya dan Reni istri sirinya tengah berbelanja. Rendi sedang menenteng dua keranjang yang sudah penuh oleh belanjaan. Sementara istri sirinya masih memilih milih susu hamil.
Dada Anisa terasa sesak melihat pemandangan di hadapannya. Selama menikah dengan Rendi, pria itu tidak pernah membelanjakan begitu banyak barang barang belanjaan untuknya. Anisa kerap kali belanja banyak menggunakan uangnya sendiri di setiap habis menerima gaji akhir bulan.
"ini udah banyak banget belanjaannya Ren, kamu mau ngambil apa lagi sih? ucap Rendi yang nampak terlihat kesal pada istri sirinya.
"sebentar mas, aku mau ngambil susu hamil. kandunganku kan udah memasuki tiga bulan jadi aku harus minum susu biar anak kita tumbuh sehat."
"iya, tapi ini aku udah susah banget bawanya Ren."
"tapi kan mas bisa tarok dulu di meja kasir nanti balik lagi ke sini."
braakk
Tanpa sengaja Anisa menjatuhkan barang yang di pajang. Suara itu mengundang perhatian dua orang tersebut lalu menoleh pada wanita yang tengah berdiri mematung.
"Anis.......!" mata Rendi membelalak, ia terkejut istri sahnya tengah menyaksikan dirinya dan istri sirinya.
Sudah kepalang ketahuan, Anisa berjalan sedikit ke depan."Oh, enak sekali ya jadi pelakor. udah merampas suami orang terus merampas pula uang hak istri sah dan anaknya," ucap Anisa dengan suara lantang sehingga mengundang beberapa orang dan menyaksikan mereka.
"Anis....!" bentak Rendi dengan wajah mulai memerah.
"kenapa? kau malu? dengar ya suami sholeh ku cepat talak aku sekarang juga. karena aku tidak sudi berbagi suami dengan pelakor itu. apa kamu mau aku permalukan kalian di depan semua orang disini?"
"udah lah mas, kamu talak dia aja, wanita ngga punya sopan santun gitu kenapa masih di pertahankan."Reni berbicara dengan sengit.
"apa kamu bilang ngga punya sopan santun? bagai mana dengan dirimu sendiri ?berhubungan dengan laki laki yang sudah memiliki istri serta anak. apa ngga ada laki laki yang suka sama kamu? sampai suami orang pun kamu hembat? apa itu yang di sebut wanita sopan?"
"brengsek kamu, pantas aja suamimu berpaling. tubuhmu aja yang di tutupi tapi mulut mu busuk." Reni mulai tersulut emosi. dia maju dan hendak menjambak jilbab Anisa. Namun, sebelum hal itu terjadi Anisa menangkis tangan Reni lalu memelintirnya.
"aww..."pekik Reni.
"jangan coba coba kau sentuh dan menyakiti tubuhku dengan tangan kotor mu ini wanita ja la ng." ucap Anisa dengan sengit.
__ADS_1
"mas Rendi...tolong aku kenapa diam aja? kasian anak kita mas, perut ku sakit mas! aku ngga mau terjadi apa apa dengan anak kita mas!" Reni beralasan sambil menangis.
Anisa geram sekali pada mulut pelakor ini, ia mendorong tubuh Reni hingga jatuh di hadapan Rendi.
"aww sakitt....!" pekik Reni.
Perlakukan Anisa terhadap Reni membuat Rendi berang." kenapa kau tega sekali Anisa, apa kamu ngga punya hati mendorongnya. apa kamu ngga tau di perutnya mengandung anak aku juga? gimana kalau dia ke guguran ?" bentak Rendi.
"oh, tega....kamu bilang aku tega? lebih tega mana dia dan aku? dia bukan saja merampas suamiku dan ayah dari anak ku, tapi dia juga tega merampas uang yang seharusnya menjadi hak aku dan anak ku! dua tahun apa pernah kamu memberikan uang lebih dari lima ratus ribu sebulan pada kami? padahal gaji mu tujuh juta ? aku bekerja keras membantu mencari uang demi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita, tapi ternyata suamiku sendiri membuang buang uangnya hanya untuk untuk memenuhi kebutuhan ja la ng nya."
"kamu .......!"
"jangan kamu fikir aku ngga tau tentangmu Ren? aku tau kamu menjalin hubungan dengan pelakor busuk itu udah dua tahun lamanya bukan? cih, pria bajingan berkedok pria Sholeh. pandai sekali menutupi kebusukan mu selama ini."
Anisa mengetahui belang suaminya setelah diam diam mengorek informasi dari salah satu rekan kerja suaminya. Mereka berselingkuh sudah hampir dua tahun bahkan mereka sering cek in di hotel.
"kurang ajar banget kamu mempermalukan suami sendiri di tempat umum." Rendi semakin memanas, dadanya naik turun. ucapan Anisa membuatnya malu pada orang orang yang sedang menyaksikan pertengkaran mereka.
Kemudian, dengan wajah memerah Rendi mendekati istri pertamanya. Anisa tidak gentar melihat ekspresi suaminya yang menakutkan.
"apa tadi kamu bilang, saya bajingan hah?" bentak Rendi.
"ya, kamu bajingan, pria brengsek dan tidak tau diri. Cepat kamu talak aku sekarang juga, aku sudah jijik bersuamikan laki laki bajingan seperti kamu." Anisa menantang Rendi dengan wajah yang tak kalah bengis. Anisa benar benar sudah sangat sakit hati. Kesabarannya pun memudar. semakin sabar semakin ia terlihat bodoh di mata suaminya. ya bodoh, karena demi rasa cintanya pada sang suaminya sehingga ia menjadi wanita buta akan kelakuan buruk suaminya di luar sana selama ini.
"awww......!" pekik Rendi.
"jangan coba coba kau menyakiti tubuh wanita ini kalau tidak mau ku buat patah tanganmu ini!" Youn memelintir tangan Rendi dengan kuat. Youn yang sudah kesal menunggu Anisa yang belum kunjung tiba di dalam mobil terpaksa menyusulnya ke dalam mini market. Sampai di dalam market, Youn terkejut wanita yang sedang ia tunggu dari tadi tengah bertengkar dengan seorang pria dan seorang wanita. Youn sempat menyaksikan dan mendengar isi perdebatan mereka. Ada yang lebih mengejutkan lagi, tenyata Anisa merupakan wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Selama ini ia berfikir wanita itu masih seorang gadis sama hal nya dengan Norin.
Anisa terkejut, kenapa Youn tiba tiba masuk dan membelanya.
"si siapa kamu!" tanya Rendi, di tengah menahan sakitnya di pelintir oleh tangan kekar seorang pria yang wajahnya tidak dapat terlihat olehnya.
Youn mendorong tubuh Rendi hingga pria itu menubruk barang barang yang di pajang lalu tersungkur di atas lantai.
Rendi terperangah melihat seorang bermata sipit yang telah memelintir serta mendorongnya. Pantas saja tangannya terlihat kekar sekali ternyata pria itu bertubuh tinggi tegap dan berotot.
"dasar banci, berani sekali kau melawan wanita lemah. jika kau mau bertarung ayok denganku, kita sama sama pria."
Rendi bangkit."brengsek, siapa kamu? berani sekali mencampuri urusan rumah tanggaku."
"tidak penting untuk anda tau siapa aku? yang jelas aku tidak menyukai laki laki banci yang beraninya main kasar dengan wanita. apa kau mau aku lapor polisi dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga?" tidak susah untuk menjebloskan mu ke penjara karena di sini banyak saksinya. kalian mau kan untuk menjadi saksi agar pria ini masuk penjara?
"mauuu.....!" teriak penonton serempak.
__ADS_1
Rendi tersentak mendengar teriakan semua orang.
"sekalian sama pelakor nya juga masukin penjara, biar kapok. dasar pelakor tidak tau malu," teriak seorang wanita.
"betul...betul....laporin polisi aja mereka berdua. dasar pasangan tidak tau diri."
Reni tersentak, ia ketakutan lalu merapatkan dirinya pada Rendi.
"sekali lagi aku melihatmu menyakiti wanita ini? akan ku patahkan kedua tanganmu camkan itu," ucap Youn dengan sorot mata tajam mengarah pada dua pasangan yang sama sama menganga mendengar ancamannya.
"hei, kau kemari!" panggil Youn pada salah satu penjaga mini market tersebut.
Orang tersebut berjalan cepat menghampiri Youn."iya tuan."
"kau lihat barang barang mu rusak!" tunjuk Youn pada barang barang yang berserakan.
"kalian minta ganti rugi saja pada mereka, karena semua ini ulah dari mereka. Jika mereka tidak mau mengganti rugi, kau hubungi aku biar aku yang akan menghubungi polisi. ini catat nomerku." Youn memberikan nomer ponselnya pada orang tersebut.
Youn menoleh pada wanita yang masih terbengong di buatnya.
"kamu mau belanja apa tadi?" tanya youn.
Anisa terperangah." sa saya mau beli susu dan pampers," jawab Anisa lalu menunduk.
"ya sudah ambilah yang banyak, biar saya yang membayarnya. Anggap saja sebagai kado perkenalan aku dan anak mu."
Anisa terperangah."tu......!"
"tidak apa apa, ayok cepat belanja. kasihan anakmu di rumah, mungkin dia sedang menunggumu pulang."
Anisa mengangguk lalu mereka berjalan meninggalkan pasangan yang masih menatap heran pada Anisa dan pria asing tersebut.
"kurang ngajar banget kenapa harus kita yang ganti rugi mas? kan salah pria itu yang udah mendorong kamu."
Rendi tidak menggubris gerutuan istri sirinya. matanya tetap fokus pada dua orang yang sedang melakukan pembayaran di kasir.
"sudah kan? apa ada yang mau di beli lagi ?" tanya Youn setelah mereka keluar dari mini market.
Anisa menggelengkan kepalanya,"tidak tuan."
Kemudian, Anisa masuk ke dalam mobil yang telah di bukakan oleh Youn. Hal tersebut di saksikan oleh empat pasang mata yang memperhatikan mereka di balik pintu kaca mini market.
"siapa pria itu? apa dia kekasih baru Anisa?" Rendi bermonolog.
__ADS_1