
Ya Allah, apa yang sedang Ustad Vano lakukan di sini?
Adalah kata-kata pertama yang berdengung di dalam kepalaku. Aku ingin sekali melihat Ustad Vano, jika bisa aku juga ingin menyapanya. Tapi aku tidak tahu harus memulai darimana, terlebih lagi aku takut dia memberikan tanggapan yang sama seperti awal mula pertemuan kami kemarin.
Jujur, aku ingin bertanya secara langsung kepadanya mengenai foto kenangan masa kecil kami yang hilang dan mengenai surat itu. Aku ingin tahu apakah dia orang yang mengambil foto dan yang mengirim surat itu. Aku ingin tahu ya Allah, tapi..
Apa yang harus aku lakukan?
Saat ini aku sangat gugup dan tidak punya keberanian. Aku tidak punya sedikitpun keberanian untuk menanyakan semua ini kepada Ustad Vano. Di tambah lagi ini adalah pondok pesantren dimana setiap hal kecil yang dianggap mencurigakan akan dihitung tabu.
Akan tetapi, jika aku tidak bertanya kepada Ustad Vano maka hatiku selamanya akan terjebak dalam kebingungan yang tidak jelas.
Ya Allah, bukankah aku terlalu memalukan? Aku menyukainya tapi tidak punya keberanian untuk sekedar menyapanya saja.
"Mashaa Allah, Ustad Vano dan Ustad Azam mau demo apa bawa banyak santri ganteng ke sawah."
__ADS_1
Aku mengangkat kepalaku lagi melihat ke arah pinggir jalan. Di sana Kak Sasa dan yang lain menundukkan kepala mereka tidak berani menatap kelompok Ustad Vano. Sedangkan Ustad Vano terlihat menyapa mereka tapi dari jarak yang cukup jauh dan terlihat dingin seperti biasa.
"Apa yang sedang mereka bicarakan dengan mereka bertiga?"
Aku juga tidak tahu, Asri. Sama seperti kegembiraan mu jauh di dalam hati aku sangat penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Tidak ada yang aneh dari Ustad Vano meskipun dia berhadapan dengan 3 gadis cantik yang teman-teman ku bicarakan di dalam kamar semalam. Mereka cerdas, cantik, dan dikenal oleh banyak orang jadi bagaimana mungkin mereka tidak iri?
Sejujurnya, aku tidak jauh berbeda dari mereka. Aku juga iri untuk kesempurnaan dan prestasi mereka yang luar biasa.
Hah..
Mega tampaknya melihat sekeliling sawah ini untuk mencari sesuatu jadi aku ikut mengedarkan pandangan ku untuk melihat-lihat.
Di sawah tempat kami berdiri ini ada 3 macam tanaman yang ditanam. Barisan pertama adalah timun, kedua adalah bayam, dan ketiga ada kentang. Mereka semua sehat-sehat dan memanjakan mata.
__ADS_1
"Mega, kemana kamu ingin pergi?" Suara Asri tiba-tiba mengalihkan perhatianku.
Aku sepertinya terlalu asik dengan pikiranku sehingga tidak menyadari bila Mega sudah berjalan beberapa langkah entah mau kemana.
"Aku akan menggali kentang. Kita lebih baik bagi tugas saja agar cepat menyelesaikan hukuman ini dan segera kembali ke asrama." Katanya tampak tidak baik-baik saja.
Beberapa menit yang lalu Mega masih terlihat baik-baik saja tapi sekarang entah kenapa aura yang keluar dari dalam tubuhnya seolah memberikan jarak kepadaku dan Asri.
Apa perubahan suasana hatinya ini karena kedatangan Ustad Azam?
Karena Asri bilang semalam Mega dan Ustad Azam sempat berbicara singkat dengan suasana tegang di antara mereka.
Setelah itu dia pergi membawa keranjang sayurnya. Aku pikir dia akan pergi mencari tempat yang paling sunyi untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Hah..
__ADS_1
Aku juga harus mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan hatiku. Aku butuh waktu untuk menahan perasaan gugup ini meskipun aku sangat menyadari tidak ingin jauh dari Ustad Vano.