
"Almira Shinaia, maukah kamu menjadi kekasihku dan mengikat janji bersama ku menuju kehidupan yang lebih serius?" Laki-laki tampan bertubuh jangkung itu mengikrarkan kata-kata cinta dengan berani dihadapan semua orang.
Seketika orang-orang dengan kompak menutup mulut mereka, menunggu dengan senyuman sumringah jawaban sang wanita cantik yang kini tersipu malu dihadapan sang laki-laki tampan.
Wanita cantik itu bernama Almira Shinaia, dia adalah wanita cantik yang berprofesi sebagai model muslimah. Sedangkan, laki-laki tampan yang kini berdiri di depan adalah kekasihnya, namanya Deon Dirgantara dan sudah 2 tahun menjadi CEO perusahaan properti yang namanya sudah tidak asing lagi di dalam maupun di luar negeri.
Mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan kekasih sejak 5 tahun yang lalu di bangku SMA dan berjanji akan menikah.
Malam ini mereka secara resmi bertunangan dihadapan kedua keluarga dan kerabat untuk mengikrarkan hubungan mereka akan segera naik ke tahap yang lebih serius.
"Deon Dirgantara," Suara lembut Almira membuat sudut bibir Deon membentuk sebuah senyuman manis.
Ini menarik perhatian beberapa orang dan disambut dengan siulan menggoda dari mereka. Almira menjadi kian malu, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah yang kini sedang bermekaran di kedua pipinya.
"Deon Dirgantara," Dia mengulangi lagi dengan suara yang lebih lembut dan manis.
"Hem?" Deon menunggu dengan sangat sabar. Bahkan senyumannya kini lebih lebar dari sebelumnya.
"Deon Dirgantara, aku mau." Almira akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
Dia mau dan dia sangat mau menghabiskan sisa hidupnya bersama Deon, kekasih hatinya.
"Kamu mau apa?" Deon sangat senang tapi dia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang kekasihnya katakan tadi.
Almira sangat malu, kedua matanya yang indah bahkan melotot cemberut menatap Deon yang masih tersenyum lebar seakan tidak mengerti maksud dari tatapan tajam mata kekasihnya.
"Katakanlah dengan jelas apa yang kamu inginkan karena aku tidak mengerti?" Deon masih menggoda kekasihnya yang semakin cemberut.
Ketika Almira marah dia sama sekali terlihat menyeramkan, malah dia terlihat lucu dan menggemaskan bila sedang marah.
Almira menggigit bibirnya merasa sangat malu. Bila saja dia tidak ditatap oleh ratusan pasang mata mungkin dia akan langsung mencubit kedua pipi kekasihnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi dia tidak bisa dan terpaksa harus menahannya.
"Aku mau..aku mau menjadi kekasihmu dan mengikat janji bersama mu menuju kehidupan yang lebih serius, Deon Dirgantara."
"Cie.."
"Ekhem..ada yang berbunga-bunga nih.."
Setelah Almira mengucapkan kata-kata itu orang-orang sekali lagi membuat keributan. Mereka menggoda wajah merah Almira yang sudah tidak mungkin lagi disembunyikan.
"Terimakasih, aku sangat bahagia mendengarnya." Deon mencubit pipi merah Almira gemas.
Almira tersenyum lembut, kedua matanya yang berkaca-kaca menunjukkan bahwa dia sangat bahagia malam ini.
"Yah, aku sangat bahagia." Bisik Almira ditengah-tengah sorakan kegembiraan dari kerabat dan keluarganya.
Deon kemudian memberikan Almira sebuket bunga mawar dengan berbagai macam warna yang indah dan harum.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang, kamu tidak diizinkan menangis dihari tunangan kita. Kecuali dimalam pertama-"
"Deon!" Almira cepat-cepat membungkam mulut kekasihnya sembari melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa tidak ada yang mendengar apa yang telah Deon ucapkan tadi.
Uh, ini sangat vulgar.
Deon tertawa, dia menarik tangan Almira dari mulutnya. Lalu, dia mengeluarkan cincin dari dalam jas putihnya. Mengambil cincin putih bertahtakan berlian putih yang sangat indah dan menyematkannya di jari manis Almira.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Almira Shinaia." Bisik Deon dengan tatapan lembut nan memuja.
Almira memeluk erat buket bunga mawar yang ada di tangan kanannya sebelum mengambil pasangan cincin yang masih tidak tersentuh. Dengan hati-hati dia menyematkan cincin putih tanpa tahta berlian itu di jari manis Deon seraya mengulangi kata-kata cinta yang berasal dari dalam hatinya.
"Aku juga mencintaimu. Aku juga sangat mencintaimu, Deon Dirgantara." Bisik Almira sangat lembut.
Deon tidak tahan. Dia ingin menciumnya tapi masih belum halal. Alhasil dia hanya bisa menarik Almira ke dalam pelukannya. Memeluk Almira erat untuk menunjukkan bahwa betapa dia sangat mencintainya.
Mereka dilanda perasaan yang sangat manis dan hari semua berbahagia untuk mereka berdua. Malam yang romantis, suasana yang romantis, dan harapan manis semua orang turut menyempurnakan betapa indahnya malam ini.
Namun..
Di antara semua rasa bahagia dan manis ini ada seseorang yang diam-diam memendam perasaan sakit. Dari awal acara sampai menukar cincin orang itu selalu berdiri di sudut ruangan. Berdiri diam sambil diam-diam memperhatikan kebahagiaan semua orang.
Ketika semua orang tertawa, dia hanya tersenyum disudut. Ketika semua orang bersorak, dia hanya tersenyum di sudut. Ketika semua orang dilanda sukacita, dia lagi-lagi hanya bisa tersenyum di sudut yang sama.
Dia memang tersenyum, bibir merahnya yang kini berwarna pucat membentuk garis senyuman, dan kedua matanya yang indah juga menyudut karena senyuman lebar dibibir nya.
Ini sakit, tapi dia harus menanggungnya, oh, begitu ironis.
Dia harus menanggung rasa sakit untuk perasaan cinta tidak terbalasnya kepada Deon Dirgantara. Benar, dia menyukai dan mencintai Deon. Tapi hati dan pikiran Deon sudah menjadi milik Almira, adik kandungnya yang terlahir sempurna dan bertalenta.
"Rain, ayo memberikan selamat kepada adikmu. Dia sekarang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah." Suara bahagia Mama menarik Rain dari lamunannya.
Rain menoleh untuk melihat Mamanya yang sangat cantik malam ini. Senyuman lebar yang terbentuk di sana menunjukkan bahwa dia sangat bahagia malam ini tidak jauh berbeda dengan pasangan bahagia yang kini sedang menjadi sorotan semua orang.
"Iya, Ma. Rain akan pergi." Katanya sembari mengambil paper bag hitam dan putih yang sudah dia siapkan untuk pasangan kekasih itu.
Langkahnya begitu ringan tanpa ada keraguan. Di bawah banyak pasang mata yang mengamati dia perlahan mendekati adiknya dan calon adik iparnya.
Padahal rasanya begitu sakit untuk sekedar mendekati tempat itu.
"Almira, selamat atas pertunangan mu. Kakak harap kamu dan Deon bisa segera naik ke atas pelaminan." Ya Tuhan rasanya begitu sakit.
"Kak Rain!" Almira segera memeluk Rain erat.
Rain tahu adiknya malam ini pasti sangat bahagia. Dan jujur, Rain ikut berbahagia kepadanya meskipun dia tidak mau munafik jika ada lubang mengaga yang terus mengeluarkan rasa sakit tidak berdarah di dalam hatinya.
"Terimakasih Kak, Almira harap Kak Rain bisa segera menyusul kami." Ini adalah doa yang tulus dari seorang adik kepada Kakaknya.
__ADS_1
Rain memaksakan senyum, dia menepuk punggung Almira sebelum melepaskan pelukan mereka. Setelah itu dia memberikan Almira paper bag putih dan paper bag hitam untuk Deon.
"Tolong jaga adikku baik-baik." Pesan Rain kepada Deon dan langsung dijawab dengan mantap penuh keyakinan oleh Deon.
Rain tidak berlama-lama di sana. Dia segera mundur ke belakang karena masih banyak keluarga atau kerabat yang ingin mengucapkan selamat juga kepada mereka.
"Rain, muka kamu kok pucat banget malam ini. Lagi gak enak badan, yah?" Rain ingin kembali ke kamarnya tapi langsung dicegat oleh Lala, dia adalah temannya dan Almira dari kecil.
Mereka sudah bermain bersama dari kecil. Bahkan kedua orang tua mereka juga bersahabat dengan baik.
Rain mengangkat tangannya untuk meraba kulit wajahnya. Ini agak dingin karena terlalu lama terkena AC, mungkin.
"Yah, mungkin. Aku ingin istirahat di kamar." Dia berbohong.
Fisiknya baik-baik saja tapi hatinya jauh dari kata baik-baik saja malam ini.
Siapa yang tidak patah hati melihat orang yang dicintai kini telah terikat dengan gadis lain. Dan yang lebih malang lagi gadis itu adalah adik kandungnya sendiri. Rain tidak bisa menampik betapa sakit hatinya saat ini.
"Eh, jangan asal pergi dulu dong, Rain. Kalau kamu pergi gitu aja nanti orang-orang jadi salah sangka sama kamu." Lala berucap aneh.
"Salah sangka gimana maksud, kamu?" Rain tidak mengerti.
Mungkin karena fisik dan batinnya malam ini tidak bisa diajak kerjasama sehingga menjadi sulit fokus, ia butuh waktu untuk istirahat dan menenangkan dirinya.
"Ya, salah sangka... mereka mungkin saja berpikir kalau kamu tidak senang dengan acara pertunangan ini sehingga kamu langsung pergi ke dalam kamar." Ini jelas tidak masuk akal.
Rain menggelengkan kepalanya membantah. Bagaimana bisa orang-orang berpikir ia tidak akan bahagia dengan acara pertunangan adiknya sendiri?
Ini gila, Rain tidak mungkin membenci pertunangan ini sekalipun ia menyukai Deon.
"Kamu aneh, bagaimana bisa aku tidak bahagia dengan kebahagiaan Adikku?" Tanyanya heran.
"Sudahlah, aku akan ke kamar dulu untuk beristirahat. Kepala ku saat ini sangat pusing." Rain melambaikan tangannya buru-buru masuk ke dalam kamar tidak mau mendengar kata-kata aneh Lala lagi.
Begitu masuk ke dalam kamar ia segera mengunci pintu dan melemparkan dirinya ke atas ranjang. Sunyi, perlahan cairan bening mulai mengalir dari sudut matanya. Membasahi wajah tanpa make-up itu yang kini sedang terbalut kesedihan.
Rain tidak berdaya. Ia mencintai Deon sejak bertahun-tahun yang lalu tapi sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan karena orang beruntung yang Deon cintai adalah Almira, adiknya.
Rain tidak bisa menyampaikan keberatan karena ia tidak bisa memaksa perasaan Deon untuknya. Lagipula pilihan Deon memang benar memilih Almira, dibandingkan dengannya sendiri, Almira adalah gadis yang lebih baik dan sempurna.
Almira tidak seperti dirinya yang lahir dalam kelainan genetik.
Benar, karena kelainan genetik Rain terpaksa tumbuh tanpa memiliki buah dada seperti perempuan pada umumnya. Dia tidak memiliki hal terpenting yang perempuan miliki.
Miris, bukan?
Jadi, bagaimana mungkin Deon menyukai orang 'aneh' seperti dirinya? Itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1