
Umi mengangguk ringan,"Maka bisakah kalian menjelaskan kepadaku kenapa kalian bertiga bertengkar?"
Mega tidak langsung menjawab maka Asri juga tidak menjawab. Mereka berdua diam menunggu si pelaku utama untuk menceritakannya secara langsung.
Sari berpikir jika dia tidak punya kesempatan untuk membelokkan cerita jadi dia memutuskan untuk jujur sambil memikirkan bagaimana memanipulasi cerita selanjutnya.
"Em..begini Umi, tadi di asrama aku merasa sangat lapar jadi aku mendatangi Ai untuk meminta makanan." Katanya memulai dengan ekspresi malu yang tidak dibuat-buat.
Umi dan yang lain diam menyimak.
"Aku ingat Ai masih menyimpan makanan yang orang tuanya berikan di dalam lemari jadi aku meminta dengan sopan kepadanya tapi dibalas dengan kasar oleh Mega dan Asri. Mega mengatakan jika aku berteman dengan Ai karena ingin memanfaatkannya padahal itu tidak benar sama sekali. Aku saat itu sangat malu Umi tapi Mega terus saja menyerang ku dengan kata-kata kejamnya. Tidak hanya itu saja, dia juga mendorong ku pergi hanya karena aku lebih miskin darinya. Tentu saja untuk membela diri aku tidak bisa membiarkannya terus menindas ku, Umi. Aku terpaksa mendorongnya balik tapi tidak bermaksud bertengkar. Sayangnya Mega tidak perduli dan terus mendorong ku. Dia malah memanggil Asri agar ikut mengeroyok ku sehingga terjadilah keributan di asrama kami. Padahal aku sudah berulang kali mengatakan tidak ingin membuat perkelahian tapi mereka tidak mendengar. Mereka malah menarik jilbabku dan menarik rambut ku sampai berantakan. Jujur, aku sangat sedih dan kepalaku juga ikut terasa sakit. Aku ingin berhenti tapi mereka tidak mau mendengar sampai akhirnya Ustad datang menyelamatkan ku. Umi..aku akui memang salah karena meminta sedikit makanan kepada Ai tapi tidak seharusnya mereka menindas ku hanya karena mereka orang kaya. Aku sangat malu, Umi." Katanya dengan kedua mata yang kembali memerah.
Dia terlihat akan menangis tapi sepertinya mencoba menahan agar tangisannya tidak pecah.
__ADS_1
Bagi Tiara dan Sasa yang pernah berbicara dengan Mega, mereka agak setuju dengan apa yang Sari katakan karena penggambaran Mega di ceritanya sesuai dengan fakta yang ada.
Lihat saja tadi, Sasa bertanya sopan tapi malah dijawab dengan bias oleh Mega. Padahal niatnya menasehati dan tidak bermaksud buruk tapi Mega memperlakukan mereka seperti angin lalu.
Jadi, untuk saat ini mereka mendukung pernyataan menyedihkan dari Sari dan bersimpati kepadanya.
Tapi tidak dengan Mega dan Asri. Sepanjang Sari bercerita mereka terlihat beberapa kali menampilkan ekspresi terkejut karena cerita yang keluar dari mulut Sari tidak sejalan dengan faktanya.
Jika Umi tidak ada di sini, mungkin mereka berdua tadi sudah berdiri sambil bertepuk tangan untuk menyampaikan rasa kagum mereka terhadap aktingnya yang penuh penghayatan.
"Apa kalian ingin menambahkan beberapa kata?" Tanya Umi kepada Mega dan Asri.
Mega mengangguk mantap. Dia berkata,"Maaf Umi, aku tidak hanya ingin menambah beberapa kata tapi aku juga ingin merevisi apa yang dia katakan karena semua ceritanya tidak ada yang benar kecuali tentang meminta makanan dan kehilafan kami melepas jilbabnya."
__ADS_1
Mega memang orang yang sangat berani tapi ketika berhadapan dengan orang tua atau orang yang jauh lebih tinggi ilmunya, dia akan melembutkan cara bicaranya karena dia menghormati orang tersebut.
"Memang benar, awalnya dia datang untuk meminta makanan kepada Ai. Alasannya dia tidak kuasa menunggu staf dapur menyajikan makanan selama setengah jam. Ai ingin memberikannya tapi aku segera menghentikannya. Alasannya karena dia masih memiliki makanan di dalam lemarinya. Jika tidak percaya Umi bisa meminta seseorang untuk menggeledah lemarinya untuk membuktikan ucapan ku. Di samping itu tadi siang ketika Ai membagikan makanan untuk semua orang, dia mengambil empat bungkus besar roti untuk dirinya sendiri sedangkan yang lain hanya mengambil 2 bungkus paling banyak jadi aku yakin dia masih menyimpannya sampai sekarang. Demi Allah, Umi..aku sama sekali tidak pernah berniat merendahkan dirinya karena perbedaan sosial kami. Jangankan merendah, menyebut tentang tingkatan sosial saja aku tidak pernah Umi. Jika dia tidak berbohong maka itu adalah perasaannya saja yang terlalu sensitif sehingga dia berpikir bahwa aku memandangnya rendah. Kemudian perkelahian yang terjadi di antara kami bertiga. Sejujurnya aku dan Asri tidak pernah mau berkelahi dengannya. Tapi dia menyakiti tangan Ai sampai merah," Mega mengambil tangan kiri Ai dan menunjukkan punggung tangannya yang masih merah meskipun tidak seterang tadi.
Tapi ini adalah sebuah bukti yang tidak bisa dibantah.
"Aku sangat marah melihat tindakan kasarnya. Alhasil aku mendorongnya karena marah. Nah, di sini aku membenarkan bahwa aku memang mendorongnya lebih dulu tapi jika dia tidak menyakiti Ai lebih dulu mungkin aku tidak akan mendorongnya. Setelah itu aku berkelahi dengannya tanpa ada campur tangan dari Asri dulu. Karena kami berkelahi Ai datang melerai kami tapi dia sekali lagi di dorong ke lantai. Aku dan Asri sangat khawatir terjadi sesuatu kepada Ai. Setelah jatuh ke lantai dia menjadi lebih banyak bicara dan suka berteriak-teriak,"
Ai,"....." Dia sungguh baik-baik saja!
Dia berteriak dan banyak bicara karena tidak tahan melihat mereka bertiga bertengkar.
"Karena panik Asri ikut berkelahi denganku. Kami melepas jilbab Sari dan menarik rambutnya. Tapi Umi, rambut Sari memang sudah berantakan sejak awal jadi dia tidak bisa menyalahkan kami untuk rambutnya yang acak-acakan. Salahkan saja dia yang tidak suka menyisir rambutnya."
__ADS_1
Sari sangat malu, bahkan wajahnya berubah merah sekarang.