
Satu bulan sudah Shin berada di pondok pesantren. Shin sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan pesantren. Dimana dirinya harus berbagi kamar, berbagi kamar mandi, sampai berbagi makanan. Shin berbaur dengan semua santri yang masih belia bahkan santri yang sudah dewasa. Bagi Shin pengalaman belajar di pondok pesantren ini merupakan hal baru yang sangat menyenangkan di sepanjang hidupnya.
Kehidupan di pondok pesantren ini telah mengajarkan Shin bagaimana hidup sederhana namun tetap bahagia dan mengajarkan arti dan nilai nilai kehidupan yang sebenarnya. Shin mulai rajin belajar tentang ilmu agama Islam. Belajar sholat, belajar membaca huruf Alquran, belajar tentang aqidah, tauhid, fiqih dan yang lainnya. Ia tidak pernah malu untuk bertanya pada siapa saja tentang apa yang tidak ia ketahui. Bahkan ia tidak merasa gengsi belajar pada santri yang usianya jauh di bawahnya sekalipun.
Pukul dua belas malam. Shin merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang hanya cukup untuk dirinya saja setelah dzikir bersama di lakukan setiap malam Jumat.
Pandangannya menerawang ke atas fikirannya teringat pada wanita yang sampai detik ini masih mengisi hatinya.
"Dimana kamu berada Norin? aku rindu sekali padamu." Shin bermonolog lalu memejamkan matanya.
"Abah, apa saya boleh menanyakan sesuatu?" tanya Shin saat dirinya sedang duduk bersila di hadapan Abah pada ke esokan harinya.
"Boleh nak Shin, tanya kan saja apa yang ingin diketahui oleh nak Shin?"
"Apa hukum tentang menikah dalam pandangan Islam?"
"Hukum menikah tergantung pada keadaan dan niat seseorang untuk melakukan sebuah pernikahan nak Shin. Hukumnya bisa wajib, bisa sunah, Lebih baik di tinggalkan, makruh bahkan bisa jadi haram. Kewajiban menikah diperuntukkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menikah dan punya keinginan kuat untuk menyalurkan gairah seksualnya. misalkan tidak bisa ditahan-tahan lagi sehingga dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Kemampuan menikah yang di maksud oleh saya adalah mampu untuk memberikan nafkah, yang terdiri dari mahar, sandang, pangan dan papan. Jika seseorang berada pada posisi ini, maka ia wajib menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selanjutnya, Kesunahan nikah diperuntukkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menikah, mau, dan punya keinginan untuk menyalurkan gairah seksualitas, namun tidak sampai pada taraf dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam kemaksiatan. Jika seseorang berada pada posisi ini, maka ia disunah kan untuk segera menikah.
Hukum nikah berikutnya adalah lebih baik ditinggalkan. Hukum ini berlaku bagi orang yang berkeinginan untuk menyalurkan gairah seksualitas namun tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi. Orang yang berada pada posisi ini sebaiknya menunda keinginan menikah hingga ia mampu.
Dan kemudian hukum makruh. ini berlaku bagi seseorang yang memang tidak menginginkan menikah, entah karena perwatakan nya demikian, ataupun karena suatu penyakit yang ada pada diri orang tersebut.
Serta yang terakhir Keharaman nikah berlaku bagi orang yang menikah dengan tujuan menyakiti atau tujuan-tujuan lain yang melanggar ketentuan agama. Misalnya, jika ada orang yang berkeinginan kuat berniat untuk menyakiti dan menyiksa pasangan dalam pernikahan, maka ia diharamkan untuk menikah.
Shin tertegun mendengar penjelasan Abah. Matanya mulai berkaca kaca.
"Kenapa nak Shin ? apa ada suatu masalah dan apa saya boleh mengetahuinya?"
"Saya...mencintai seorang wanita muslim tapi...saya tidak mau menikahinya. Tapi...saya tidak ingin kehilangannya dari hidup saya. Apa itu hukumnya masuk ke dalam hukum makruh bah?" tanya Shin dengan bibir bergetar.
"Apa yang membuat nak Shin tidak ingin menikahinya?"
__ADS_1
"Orang bilang otak saya ini sakit karena saya tidak ingin menikah. Saya sering kali menyaksikan pertengkaran kedua orang tua saya dan hubungan mereka menjadi renggang dan menjauh. dan saya tidak ingin menikah karena jika saya menikahi wanita yang saya cintai saya takut hubungan kami menjadi renggang dan saling menjauh sama hal nya dengan pernikahan orang tua saya."
"Tidak semua orang menikah itu mengalami pernikahan yang sama dengan pernikahan orang tua nak Shin. Menikahlah dengan niat beribadah kepada Allah. Karena jika kita niat beribadah, masalah atau konflik yang muncul akan terasa ringan dan indah. Ibadah yang di lakukan tentu saja mengharap kan ridho Allah."
Shin duduk merenung di atas tempat tidurnya, merenungi penjelasan Abah tentang hukum nikah.
plakk
Sebuah tepukan tangan mendarat di bahunya. Abdul menyadarkan Shin dari lamunannya.
"Hari ini kita mau berkebun palawija mau ikut tidak kak?"
"Berkebun?"
"iya, minggu kemarin kami sudah memanennya dan sekarang mau menanamnya kembali."
"Kalian mau menanam apa?"
Shin diam sejenak kemudian mengangguk. Shin penasaran apa saja yang akan di lakukan oleh para santri di kebun tersebut.
Sementara di pondok putri seorang santri belia memanggil wanita cantik yang baru saja selesai mengganti pakaiannya.
"Kak inay, kak..!" panggil santri belia sambil mengetuk kamarnya.
"iya sebentar." sahutan dari dalam. Dan tak lama kemudian wanita itu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Puteri?"
"Kata umi Husna kita masak lagi kak untuk santri pria. soalnya hari ini mereka mau berkebun lagi."
"Oh, yaudah yuk kita ke dapur."
Kemudian, Puteri serta wanita cantik yang memakai pakaian besar serta jilbab besar itu melangkah menuju dapur umum untuk membantu mempersiapkan makanan.
__ADS_1
Setelah masuk ke dapur umum mereka melihat sudah ada dua puluh santri serta umi Husna, istri Abah Ahmad yang sudah menunggu kedatangannya.
"Inay....!"
"Iya umi."
"Hari ini santri putera akan berkebun kembali. oleh karena itu umi minta tolong sama kamu serta santri Puteri yang lainnya untuk memasak makanan untuk mempersiapkan makan siang mereka. Dan untuk menunya terserah kamu saja mau buat apa."
"iya umi."
"yaudah kalau gitu, umi keluar dulu ya."
Setelah itu, santri Puteri mulai sibuk memasak sementara santri putera sibuk mencangkuli tanah yang akan di tanami palawija di sebuah kebun seluas seribu meter yang telah di beli pak Ali untuk kegiatan anak santri di sela sela mereka libur belajar.
Wajah Shin memerah. keringat mulai bercucuran di tubuhnya. Padahal baru lima kali mencangkul tanah.
"Kak Shin sepertinya tidak pernah pegang cangkul dan gali tanah ya?"celetuk Akbar yang sedang memperhatikan Shin mencangkul. Shin menghentikan kan kegiatannya lalu menoleh pada Akbar.
"Emangnya di Korea ada cangkul?" Abdul menimpali.
"saya kurang tau ada apa tidak karena saya baru pertama kalinya menggali tanah dengan alat ini"
"Makan siang sudah datang....!" teriak salah seorang santri. Shin dan lainnya menoleh ke arah sumber suara. Tampak empat pria sedang memikul wadah wadah berisi makanan. Setelah itu mereka menggelar tikar lalu mencari daun pisang sebagai ampar nasi serta lauk pauk. Shin sudah tidak merasa canggung lagi makan dengan cara seperti itu.
kemudian, mereka mulai makan dengan lahap. pandangan Shin tertuju pada se nampan besar berisi omelet yang menggunung. Shin mengambil satu omelet yang sudah di potong potong kecil tersebut. kemudian ia menyuapkan ke dalam mulutnya dan mengunyah nya. Seketika Shin tertegun. Rasa omelet yang ia makan persis sama dengan rasa omelet buatan Norin. jantung nya berdebar mengingat Norin.
"apa....apa Norin ada di pesantren ini? kenapa omelet ini memiliki rasa yang sama dengan omelet buatannya? apa hanya kebetulan saja." Shin bermonolog.
Akbar menoleh pada pria di sampingnya yang diam saja tidak ikut makan.
"kak Shin kenapa diam saja, apa kakak tidak suka sama makanannya?"
"Bu bukan begitu, saya...saya suka sekali omelet ini." Shin tersenyum kemudian melanjutkan lagi makannya.
__ADS_1