Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Membahas Masa Depan


__ADS_3

Sore telah tiba...


Tadi aku sempat bertemu dan mengobrol dengan dokter yang menangani Satrio.


Katanya, Untuk meminimalisir terjadinya infeksi sebenarnya pasien bisa ditempatkan di ruang steril. Namun, di Indonesia kebanyakan ruang steril ini hanya untuk penyakit tertentu seperti difteri. Karena untuk satu ruang ini cukup mahal perawatannya, jadi disarankan untuk menginap di satu ruangan sendiri dan pengunjung juga dibatasi.


Gejala Leukemia akut tak lain mirip dengan gejala demam berdarah. Lemes karena hemoglobin turun, demam, dan keluar bintik-bintik tanda trombosit turun.


Begitu lah yang dikatakan dokter tadi padaku. Dan ada kabar gembira, bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, yaa mudah-mudahan kabar ini agar segera terwujud. Aamiin...


Mengingat juga bahwa Satrio dan Om Heru tidak pernah keberatan mengenai biaya pengobatan, jadi aku makin optimis.


Lalu aku masuk keruangan khusus tempat Satrio dirawat. Aku ingin menyuapi nya makan sekaligus menghibur nya. Sebetulnya ruangan ini memang tidak boleh terlalu sering dikunjungi.


Sementara Om Heru kembali ke kantor mengurusi segala urusan kantor dan Mang Ujang juga langsung menjemput keluarga ku, karena ternyata Ibu sangat senang mendengar kabar ini dan langsung minta dijemput. Tapi Ibu belum ku kabari tentang kesehatan Satrio, aku khawatir Ibu cemas dan panik.


Lalu aku memasuki ruangan Satrio.


Ku tutup pintunya dan ku letakkan makanan dimeja. Satrio ternyata sudah terbangun.


"Nad, kamu nggak pulang?."tanyanya


"Pulang kemana? kan sekarang dimana pun kamu berada itu adalah rumahku."ucapku tersenyum lalu duduk disampingnya


"Haha, sejak kapan kamu jadi kayak aku, gombal begitu, kayak nggak pantes tahu."ucapnya


"Ih siapa yang gombal, aku tuh beneran tahu, lagian kan aku belajar dari kamu buat romantis."ucapku manyun


"Haha masa sih? ngomong-ngomong kamu makin cantik deh tapi agak chubby yaa? pasti sering makan di rumah makan Padang yaa?."tanyanya tertawa

__ADS_1


"Ih muji apaan tuh? ujung-ujungnya malah bully aku, aku tuh gak chubby tahu. Lagian aku udah diet juga."ucapku kesal


"Eh ngambek yaa? lucu banget sih kamu, aku tuh bercanda aja. Lagian mau kamu kurus atau gemuk, mau kamu cantik atau nggak, mau kamu bawel atau diam, aku tetap cinta kamu."ucapnya sambil memencet hidungku


"Huh, dasar gombal, tapi beneran yaa kamu tetap cinta aku apapun yang terjadi? janji yaa?."ucapku mengangkat jari kelingking


"Iyaa sayang, aku janji."ucapnya juga sambil mengangkat jari kelingking


"Eh tapi kita kan udah nggak ada hubungan apa-apa, kamu kan mutusin kontrak perjanjian kita gitu aja, berarti kamu udah nggak boleh dong ngomong sayang ke aku."ucapku manyun


"Eh iyaa yaa. Aku lupa. Oh jadi kamu ingin aku tembak nih. Jadi ingin aku resmikan nih jadi pacar?."tanyanya meledek


"Emmm gimana yaa? aku pikir-pikir dulu deh."ucapku pura-pura


"Nadia, aku Satrio Wibowo Utomo dengan ini meminta mu menjadi kekasih ku, menjadi bagian terpenting dari hidup ku, bukan sekedar pacar pura-pura aja. Bersediakah kamu menjadi kekasihku?."tanyanya padaku


"Ih nembak nya koq gitu, gak romantis ih. Tapi aku mau jadi kekasih kamu bahkan jadi istri kamu dan aku mau kebahagiaan ini nggak berakhir, aku mau kamu sembuh."ucapku makin mendekapnya


"Kamu koq jadi agresif gini sih Nad? cie ternyata kamu makin cinta yaa sama aku. Ternyata pesona aku belum pudar yaa."ucapnya


Lalu aku melepaskan pelukan ku. Aku menatap wajah nya yang terlihat menyembunyikan banyak kesedihan, namun dia tak ungkapkan.


"Ih narsis banget kamu. Oh yaa aku mau tanya kenapa sih kamu mau sama aku? aku kan cuma pegawai Kafe, aku cuma perempuan biasa, kan pasti banyak yang lebih dari aku?."tanyaku padanya


"Aku nggak tahu kenapa, tapi yang pasti aku sudah cinta sama kamu sejak kita ketemu, aku menyukai apapun yang kamu lakukan, aku suka Nadia yang apa adanya, yang menyebalkan dan unik. Buat aku selama ini nggak ada perempuan manapun yang aku cintai selain kamu, mungkin karena apa yang aku butuhkan ada di kamu semua, yaa meskipun aku tahu awalnya kamu nggak ada perasaan apa-apa ke aku."ucapnya


"Terus kalau Salsa gimana? kamu masih cinta sama dia?."tanyaku penasaran


"Haha kamu cemburu? bukannya kamu sudah lihat dikamar ku tidak ada foto-foto nya lagi, yang ada kan hanya fotomu saja, itu tandanya dia sudah nggak ada di hatiku, sekarang hanya ada kamu, Nadia Maharani ku."ucapnya tertawa

__ADS_1


"Oh kamu jadi tahu aku dikamarmu waktu itu, jangan-jangan kamu sudah baca surat balasan aku?."tanyaku


"Surat apa ? aku belum baca, semenjak dirumah sakit aku hanya terbaring disini dan hanya bisa menanyakan kabarmu lewat Om Heru."ucapnya


"Oh jadi belum dibaca, yah aku kira kamu udah baca, salah aku sih meletakkan nya dimeja kerja kamu, pasti nggak ada yang tahu, tapi bagus deh jadi kamu nggak tahu."ucapku senang


"Lho koq gitu, emang kamu nulis apa sih? pasti kamu nulis surat cinta yaa ke aku?."tanyanya tertawa


"Nggak lah, percaya diri banget kamu, bukan surat apa-apa koq."ucapku


"Eh koq ngambek terus sih kamu, jadi makin gemes deh, ngomong-ngomong kalau nanti aku sembuh aku nggak sabar deh ingin menikah denganmu, ingin punya anak yang banyak, biar rumah kita ramai. Ditambah ada Adik-adik mu , pasti jadi makin ramai. Kamu mau kan nanti nikah sama aku?."tanyanya sedih


"Itu pasti, aku akan nunggu saat itu, saat kita resmi jadi suami istri, saat kita punya banyak anak dan saat kita mengurus rumah bersama, aku nggak sabar nunggu itu, makanya kamu harus sembuh yaa."ucapku padanya


"Iyaa Nad, akan ku usahakan agar aku cepat sembuh untukmu. Oh yaa bagaimana kabar orang tuamu?."tanyanya


"Ibu baik dan Bapak su...sudah meninggal seminggu yang lalu."ucapku bersedih


"Innalilahi, koq bisa Nad? apa Bapakmu kambuh lagi sakitnya? aku jadi turut menyesal tidak bisa membantu mu, pasti berat untuk kamu menghadapi ini semua, ini semua gara-gara aku yang nggak berdaya, tapi kenapa Om nggak cerita sama aku."ucapnya


"Nggak apa-apa Sat, ini semua takdir Tuhan, lagi pula Bapak saat itu kambuh sakit jantung karena aku batal nikah dengan Nathan."ucapku menutupi kejadian sebenarnya, aku takut Satrio akan membenci Nathan, jika tahu pelaku pembunuhan keluarga nya adalah Ayah Nathan


"Ya Allah Nad, maafin aku yaa sayang, aku yang salah sudah memaksa kalian untuk menikah , padahal kalian nggak saling cinta, aku hanya dikabari Om kalau kamu nggak jadi nikah, tapi Om nggak bilang kalau Bapak mu sakit lalu meninggal."ucapnya menyesal


"Sudahlah nggak usah dipikirkan, lagian yang terjadi biar terjadi, yang penting sekarang kamu harus sembuh dan bahagiakan aku, aku cuma mau itu."ucapku


"Iyaa sayang aku janji."ucapku tersenyum


Lalu aku menyuapinya makan dan saat ini adalah saat paling indah, dimana kami banyak tertawa dan membahas masa depan yang kami yakini ada.

__ADS_1


__ADS_2