
Norin mulai mengambil lima butir telor, daun bawang serta bombay di dalam kulkas.
"mba!" sapa Rizal dari samping.
"kamu udah kayak dedemit aja zal, tiba tiba nongol ngagetin mba aja." Norin sewot di tengah fokusnya membuat dadar telor, Rizal menyapanya.
Rizal tertawa kecil melihat raut wajah kakaknya yang cemberut.
"sorry mba!"
"mau apa kamu kesini? kenapa ngga temani ibu ngobrol sama bos mba?"
"bos apa embos?" goda sang adik bungsu sambil tertawa kecil.
"apaan sih zal, ngga lucu deh."
"hm, sebenarnya pria itu siapanya mba Norin sih?"
Norin melirik pada pria di sampingnya." kan udah di bilangin tadi kalau dia itu bos nya mba sekaligus pemilik perusahaan di mana mba kerja."
"maksud Rizal selain seorang bos dan pemilik perusahaan apa mba memiliki hubungan khusus gitu?"
"hubungan khusus gimana maksudnya zal? udah deh ngga usah mikir yang aneh aneh."
"gimana ngga aneh mba, seorang big bos jauh jauh datang ke kampung demi ketemu seorang karyawan biasa apa itu ngga aneh mba?"
"sejak kapan seorang Rizal jadi tukang kepo? terserah dia lah zal, mau kemana aja toh dia punya kaki sendiri."
Rizal terdiam." mba Norin ngga mau ngaku, tapi aku yakin kalian pasti memiliki hubungan khusus." Rizal bermonolog.
Tak selang lama, Norin sudah menyiapkan makan malam untuk Shin.
Norin kembali ke ruang tamu. Ternyata Shin sendirian di sana dan ibu sudah masuk ke dalam kamarnya.
"tuan !" panggil Norin.
Shin mendongak kan wajahnya."iya sayang!"
"jangan mulai lebay deh."
"apa itu lebay?"
"udahlah, mau makan tidak?"
Shin tersenyum lalu berdiri dan berjalan menghampiri Norin, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan wanita yang hanya memiliki tinggi sebatas dadanya itu.
Shin menjewel hidung mancung Norin."let's go honey !"
kemudian mereka berjalan beriringan menuju meja makan.
Shin mulai duduk di atas kursi meja makan lalu menatap pada hidangan yang tersaji.
"wow, its so delicious." celoteh Shin.
Tak lama, Bu Aminah dan Rizal datang dan duduk di kursi mereka masing masing.
Bu Aminah menatap pada makanan yang tersaji.
"kok kamu masak nya begini Rin ? apa ngga malu sama bos mu di suguhi makanan begini?" Bu Aminah protes.
"ngga usah khawatir Bu, dia mah di kasih makan apa aja mau."Jawab Norin.
"benar, apa pun yang di masak Norin saya menyukainya." Shin menimpali.
Bu Aminah dan Rizal saling pandang, mereka heran kenapa Norin bisa akrab dengan bos nya seperti tidak ada rasa canggung diantara mereka.
"apa saya boleh memakannya sekarang?" tanya Shin.
Bu Aminah mengangguk."si silahkan tuan!"
"terima kasih !" ucap Shin lalu mulai menyendok kan nasi, sayur asem, telor dadar, ikan asin dan sambal ke dalam piring di hadapannya.
"oya Rin, bapak yang di luar rumah panggil suruh makan bareng kita di sini," ucap sang ibu pada Norin.
"iya Bu !" Norin berdiri namun tangannya di tarik oleh Shin sehingga Norin terduduk kembali.
"don't go okey, biarkan saja sopir itu mencari makanannya sendiri."
__ADS_1
"mencari makanannya sendiri ! emangnya dia hewan." Norin ngedumel lirih.
Bu Aminah dan Rizal menahan tawa mendengar bahasa yang di lontarkan oleh pria bermata sipit itu.
Kemudian mereka mulai makan dalam diam. Shin memperhatikan cara makan Bu Aminah dan Rizal yang makan tanpa sendok.
"kenapa kalian makannya seperti itu, tidak menggunakan sendok ?"
"karena menggunakan tangan langsung terasa lebih nikmat tuan," jawab Rizal sambil mengunyah.
"benarkah ?" Shin ingin mencobanya namun makanannya berkuah sayur asem. Di saat yang lainnya memisahkan sayur asem pada sebuah mangkok yang terpisah, Shin malah menyatukan sayur asem itu di atas nasinya.
"ngga apa apa tuan, tuan makan pakai sendok saja, lagi pula nasi tuan berkuah," ucap Bu Aminah.
Shin mengangguk. Kemudian mulai menyuapkan makanannya.
"hm, not bad."
Satu sendok, dua sendok hingga sendok ke lima Shin menghentikan kunyahan nya. Wajah putihnya berubah menjadi merah. Rasa panas mulai menjalar di rongga mulutnya.
"huh....hah....huh...hah...kenapa pedas sekali." ucap Shin sembari mengipas kan telapak tangannya pada mulutnya.
Semua orang menghentikan kunyahan nya lalu menatap pada pria yang tengah kepedasan.
Norin segera bangkit dari duduknya lalu mengambil kan air minum untuknya. Ia lupa tidak menyuguhkan air minum sebelumnya.
Shin meneguk air pemberian Norin hingga tandas.
"kenapa makanannya pedas sekali?" Shin protes sembari melirik ke arah wanita yang tengah duduk di sampingnya.
"apa tuan makan itu?" tunjuk Norin pada sebuah mangkok sambal terasi.
Shin mengangguk.
"pantas saja, itu namanya sambal. yang namanya sambal itu ya rasanya pedas tuan."
"kenapa kamu tidak memberi tau saya sebelumnya?"
"saya fikir tuan bisa membedakan mana yang namanya sambal dengan mana yang namanya pasta!"
Bu aminah yang dari tadi memperhatikan perdebatan antara puteri dengan bos nya pun angkat bicara.
"iya Bu!" Norin beranjak pergi untuk mengambil piring yang baru. Setelah itu, ia kembali lagi lalu menaruh kan nasi serta lauk pauk kecuali sambal di atas piring yang baru.
"silahkan tuan!" ucap Norin sembari meletakkan piring tersebut di hadapan Shin.
Shin tersenyum tipis." terima kasih sayang !" ucapnya lirih namun masih terdengar di telinga Bu Aminah dan Rizal.
Belum sempat Shin menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya, tiba tiba perutnya terasa melilit.
bruukbukbukbuk
"f*ck ****, i have a stomach ache," ucap Shin sambil memegangi perutnya. Kemudian ia berlari ke kamar mandi. Tak selang lama, Shin kembali keluar namun tak lama kemudian balik lagi ke kamar mandi begitu terus hingga empat kali.
Sementara di meja makan, ketiga orang itu hanya bisa memperhatikannya pria yang tengah bolak balik ke kamar mandi.
"duh Rin, kamu udah bikin bos mu men ce ret. gimana kalau dia marah sama kamu?" ucap Bu Aminah.
"biarin aja Bu, bukan salah aku juga. salah sendiri ngga mau nanya dulu," jawab Norin cuek.
"emangnya mba ngga takut di pecat?" tanya Rizal.
"dia mana mau mecat mba!"
"kok bisa begitu?" tanya Rizal lagi penasaran.
"oh ngga, ngga apa apa." kemudian Norin melanjutkan lagi makannya.
Rizal dan Bu Aminah saling pandang merasa heran pada sikap Norin.
Tak selang lama, Shin kembali ke luar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.
Norin menatap iba pada bos nya itu.
"Rin, mending kamu bawa bos mu untuk istirahat di kamar tamu terus perutnya kasih minyak angin dan kamu kasih dia makan lagi. kasian itu pasti perutnya kosong banget.
Norin mengangguk. Lalu berdiri dan berjalan menghampiri pria yang tengah berdiri dengan lemas.
__ADS_1
Norin memegang sebelah lengannya lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar tamu.
Norin hendak ke luar dari kamar setelah membantu Shin merebahkan tubuhnya.
"don't go please, stay here with me!" Shin menahan tangan Norin, mencegahnya keluar dari kamar.
"I Will be back soon, im promise," jawab Norin.
Norin mencari minyak angin tapi tidak menemukannya.
"mba nyari ini?" tanya Rizal yang baru menghampirinya sambil menyodorkan sebotol minyak angin.
"oh, thank you so much my sweet little bro, muach," ucap Norin kemudian beranjak pergi.
"dih, sejak kapan dia bisa ngalay. apa ketularan itu lakik?" gumam Rizal.
Norin kembali ke kamar tamu dimana Shin tengah berbaring lemas. Tanpa permisi lagi, Norin menarik kaos yang di gunakan Shin hingga melewati batas dada pria itu. Seketika Norin menelan saliva nya dengan susah payah melihat pemandangan itu. Sungguh dada kotak enam itu membuatnya sulit mengedipkan mata.
"kenapa menatapnya seperti itu? apa kau menyukai tubuhku?" Shin menggoda wanita yang tengah melongo saja. Lalu, ia terperangah.
"percaya diri sekali." lalu mulai mengusap dada itu dengan minyak angin secara perlahan dan lembut.
Shin memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan halus yang menjalar di perut serta dadanya. Tanpa Norin sadari, perbuatannya membangunkan dede kecil yang tengah tertidur di bawah sana.
"oh, f u c k i n s h i t. don't get up please." umpat Shin dalam hati.
Norin terus saja mengelus perut sixpack milik Shin. Sesekali ia memijit kecil perut itu agar minyak angin meresap ke pori pori kulitnya.
Shin memegang tangan Norin."stop it please."
"why? ini belum merata lho tuan." Norin yang tidak mengerti malah bertanya dengan polos.
"apa kamu sengaja menggodaku dengan sentuhan mu itu? apa kamu tidak sadar milikku menginginkan sesuatu dari mu? bagaimana jika aku memaksamu melakukannya?"
Norin sama sekali tidak mengerti atas ucapan pria yang tengah berbaring itu.
"kalau tidak mau di tolong ya sudah saya mau keluar saja." Norin merajuk kemudian bergegas pergi meninggalkan pria itu.
"ish gadis itu polos sekali, kenapa dia tidak mengerti apa maksudku?"
Norin keluar kamar dengan wajah di tekuk.
"Kenapa kamu cemberut gitu? tanya sang ibu.
"ngga apa apa Bu!"
"apa bos mu itu udah di kasih makan lagi?"
Norin menggelengkan kepalanya. "biarin aja Bu!"
"lho kok biarin, nanti kalau sakitnya tambah parah gimana? kamu bisa di pecat lho Rin. udah sana buruan kasih dia makan lagi."
Norin tidak dapat menolak keinginan ibunya. ia pun menuruti perintahnya untuk memberi makan pria menyebalkan itu.
Norin masuk kembali ke dalam kamar dimana Shin tengah terbaring. Sebelumnya Norin telah membuatkan Shin bubur terlebih dahulu karena ia takut perutnya menolak jika di beri makan nasi serta sayur asem yang tidak pernah ia konsumsi sebelumnya.
"hei, kamu kembali? saya fikir kamu....."
"tuan makan dulu, saya buatkan bubur," ucap Norin memotong ucapan shin.
Shin tersenyum." terima kasih sayang."
Norin menyodorkan semangkok bubur itu pada Shin supaya ia memakannya sendiri. Namun, Shin diam saja tidak mau mengambil bubur tersebut.
"kenapa? apa tuan tidak mau makan?"
"saya ingin di suapi oleh kamu!" jawab Shin.
Norin menghembuskan nafas besar."tapi tuan bukan anak kecil lho!"
"tapi saya sakit karena kamu lho, ya sudah kalau tidak mau nyuapi, bawa kembali bubur itu saya tidak mau makan."
"deh, nyalahin. ya udah okey, saya suapi dari pada nanti sakitnya makin parah saya juga yang repot." Norin mengalah pada pria yang tiba tiba manja itu.
Shin tersenyum senang.
Norin mulai menyuapi Shin dengan wajah di tekuk. Sementara yang di suapi terus saja menatap pada wajah cantik yang tengah cemberut itu.
__ADS_1
"kapan ya saya bisa melihat wajah cantik di hadapan saya ini tersenyum manis dan hangat pada saya? semenjak mengenalnya rasanya saya belum pernah melihatnya." Memang benar apa yang dikatakan Shin, Norin wanita ramah dan murah senyum pada siapa saja tapi tidak berlaku pada dirinya.