Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Anisa vs Rendi


__ADS_3

Suara motor berhenti di luar rumah bercat biru. Anisa hafal betul suara motor itu milik siapa. Ia mengintip di balik tirai jendela kamarnya, benar saja dugaannya bahwa Rendi yang datang ke rumahnya. Anisa buru buru menghampiri sang ibu yang berada di dapur sedang menyuapi Al makan.


"mah, si Rendi datang. Tolong bawa Al ke kamar dulu ya mah!" titah Anisa.


"iya Nis, kebetulan mamah udah selesai nyuapinnya."sang ibu buru buru membawa Al masuk ke dalam kamarnya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum mamah...Anis,"teriak pria di balik pintu.


"Nis, biar ibu saja yang bukain pintunya," ucap sang ibu."


Anisa mengangguk.


"mamah.....Anis...tolong bukain pintunya," teriak Rendi lagi.


Ceklek..


Pintu di buka sedikit oleh Bu Nia. Lalu, tampak seorang pria berpenampilan kusut yang sudah dua hari tidak pulang ke rumah.


"mamah....!" sapa Rendi sambil tangannya hendak mencium tangan mertuanya namun tangannya di tepis oleh Bu Nia.


"masih punya muka kamu datang ke rumah saya?" tanya Bu Nia dengan sinis.


"mamah...say....!"


"dasar laki laki tidak tau di untung. tega sekali kamu menyakiti anak saya, apa salah anak saya ke kamu hah? selama ini saya menganggap kamu menantu yang baik dan selalu mengelu elu kan kamu tapi ternyata diam diam kamu menyelingkuhi anak saya dan membuat perempuan selingkuhan kamu bunting." maki Bu Nia dengan tatapan nyalang.


Teriakan Bu Aminah mengundang para tetangga sehingga mereka penasaran dan menonton pertengkaran tersebut. Bu Nia yang sadar sedang di tonton oleh para tetangga pun tidak mempedulikannya. Amarah Bu Nia yang sudah ia tahan dari tadi meluap saat ini. Ia tidak terima anaknya di sakiti.


"ma maaf kan Rendi mah, Rendi khilaf." Rendi menunduk ia tidak berani menatap mata mertuanya.


"khilaf kamu bilang? khilaf sampe dua tahun? bukan khilaf kamu itu, tapi memang benar benar bejat. Anak ku banting tulang membantu kamu nyari duit buat memenuhi kebutuhanmu serta anakmu tapi ternyata kamu sendiri yang bergaji besar malah memenuhi kebutuhan wanita lain. dimana otak mu Ren? andai aku tau dari dulu kalau kamu menelantarkan anak serta cucuku sudah ku buat perhitungan dari dulu. tapi sayangnya Anisa menutup rapat mulutnya demi menjaga martabat kamu." Bu Nia geram sekali pada pria yang sedang menunduk saja.


Tak lama Anisa keluar sambil menggeret koper besar dan tas besar berisi pakaian Rendi. Bu Nia yang tau kehadiran anaknya langsung menyingkir dari ambang pintu memberi jalan untuk Anisa.


Rendi mendongak setelah Anisa ada di hadapannya.

__ADS_1


"neng.....maafkan aa neng...aa nyesel..neng," sesal Rendi pada wanita yang sedang bersedekap dada.


"wow, nyesel, kenapa ngga dari dua tahun yang lalu kamu bilang nyesel. nasi udah menjadi bubur, mau kamu nangis darah sekalipun saya tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan kamu."


"neng, maaf kan aa neng aa mohon. aa akan cerai kan Reni setelah dia melahirkan nanti neng."


"enak banget kamu ngomong, sekalipun kamu cerein pelakor itu aku ngga bakal sudi jadi istri mu lagi. Habis sudah kesabaran perhatian dan kepercayaan ku sama kamu selama ini dan sekarang aku ingin pisah dari kamu."


"neng, ingat kita punya Al neng, dia pasti sedih kalau orang tuanya pisah neng."


"cih, jangan jadikan Al sebagai alasanmu. dia akan baik baik aja tanpa kamu. justru dia akan sedih kalau tau mamanya di madu. aku ngga akan nuntut harta apapun dari kamu. karena aku tau kamu ngga punya apa apa. dan nafkah lima ratus ribu itu ngga usah kamu berikan lagi karena aku ngga butuh."


Ucapan Anisa membuat Rendi tersulut emosi. tangannya mengepal wajahnya memerah.


"oh, kamu udah ngga butuh nafkah dari aku? sombong sekali kamu mentang mentang udah dapat nafkah dari kekasih gelap kamu itu iya kan?di bayar berapa kamu buat tidur dengan pria asing itu hah?"


Plaakk..


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rendi. tamparan itu menyisakan perih dan merah di pipinya. jangan di kira karena tubuh Anisa yang kecil, ia tidak memiliki tenaga yang kuat untuk melawan Rendi.


"berani sekali kamu fitnah aku. dengar ya aku ngga semurahan istri siri mu itu yang mengobral se la ng ka Ngan demi duit. jangan kamu fikir aku ngga tau siapa istri siri mu itu."


Rendi berang, ia menatap nyalang pada istrinya yang tengah menatapnya tajam dan menantang. Ia tidak terima di tampar dan juga tidak terima istri sirinya di hina.


"kurang ajar kamu Anisa berani seka..........!"


"kenapa harus ngga berani sama laki laki brengsek kayak kamu Rendi." sela Anisa.


"kamu...," Rendi melayangkan tangannya hendak menampar Anisa. Namun, sebelum tangan itu mendarat di pipi, Anisa menangkis tangan itu lalu ia menendang ke ma lu an suaminya dengan keras.


"aaaaakkkk!"pekik Rendi kesakitan sambil memegang kejantanannya.


"jangan kamu pikir badan ku yang kecil ini ngga bisa ngelawan laki laki kayak kamu," ucap Anisa sambil tersenyum sinis.


Anisa masuk ke dalam rumahnya lalu kembali lagi ke luar dengan menyeret koper serta tas besar. Setelah itu, ia mendorong kuat ke arah Rendi yang tengah memegang ke ma lu an nya sambil meringis.


"itu barang barang mu yang selama ini kau tumpuk di rumah ibuku. aku udah ngga mau menampung nya. bawa aja ke istri siri mu itu."

__ADS_1


Anisa berbalik hendak masuk ke dalam."ka kamu ngga bisa ngusir aku kayak gini Nis, aku masih ada hak untuk tinggal di rumah ini," ucap Rendi sambil meringis menahan sakit.


Anisa berbalik lagi." ada hak apa kamu di rumah ini hah? ini rumah ibuku yang dia beli jauh sebelum aku menikah denganmu. terus barang mewah apa yang pernah kamu beli di sini ?selain baju bajumu itu," tunjuk Anisa pada dua benda besar yang teronggok di lantai.


"a aku masih suami kamu dan ayah dari Al."


"oh, kamu memang masih suamiku dan sebentar lagi akan aku ceraikan. tapi bukan berarti kamu memiliki hak untuk tinggal di sini karena ini bukan rumah yang kamu beli melainkan rumah ibuku."


Lalu Anisa menoleh pada motor yang terparkir di halaman rumahnya." Oia, motor itu bukannya kita membelinya patungan ya? mestinya aku ambil hak aku atas motor itu. tapi, aku kasian sama kamu kalau aku jual dan uang di bagi nanti kamu ngga punya motor lagi. kasian kan istri pengangguran mu. nanti kalau di jual dia ngga bisa jalan jalan lagi. jadi aku masih berbaik hati sama kamu untuk membawa motor itu serta barang barang mu dan sekarang cepat pergi dari rumah ini karena aku sudah muak liat muka kamu."


braakkkk


Anisa menutup pintu rumahnya dengan kencang lalu menguncinya.


"Anisa....kamu ngga bisa memperlakukan aku seperti ini, aku ngga akan pernah menceraikan kamu Anisa ....ngga akan pernah," teriak Rendi dan Anisa tidak menghiraukannya.


Bisik bisik tetangga yang memojokkan Rendi mulai terdengar di kedua telinganya. Jujur saja, ia merasa malu sekali dan ini merupakan untuk kedua kalinya ia di permalukan sama istrinya, Anisa.


Rendi berjalan gontai sambil menyeret tas beserta koper dan menaikannya ke atas motornya.


"katulah sih, baru di usir sama istri belum dapat karmanya aja dia. nanti juga bakal tau rasa."


"iya Bu, ngga nyangka. tampangnya aja keliatan alim tapi kelakuannya amit amit."


Rendi tidak menghiraukan ocehan para ibu ibu yang menghujat dirinya. Ada penyesalan menyelinap di hatinya. Namun, se menyesal apa pun Rendi tidak akan bisa merubah ke adaan bahwa dirinya sudah mengkhianati istrinya.


Anisa duduk di atas sofa sambil termenung. Bu Nia menghampirinya setelah menidurkan Al di kamarnya. Lalu, ia duduk di samping anaknya.


"Nis....!"


Anisa melirik pada ibunya namun tidak bicara.


"apa niatmu benar benar sudah bulat akan bercerai dengan Rendi ? apa kamu ngga kasian liat Al kalau kalian bercerai?"


Anisa menghela nafas berat." mah, apa mamah mau liat anak mamah ini di madu terus selamanya? Anis lebih baik jadi janda mah daripada harus berbagi suami. Masalah Al, mamah ngga usah khawatir. meskipun kami bercerai nanti, Al tidak akan kehilangan kasih sayang dari orang orang yang sayang sama dia. Al masih punya Anis, mamah dan Norin. Anis juga yakin Anis pasti mampu membesarkan Al tanpa suami seperti dulu mamah membesarkan Anis. Mamah aja bisa kenapa Anis ngga bisa."


Bu Nia memeluk Anisa dengan mata berkaca kaca." maafin mamah ya Nis, smoga nasib mu ngga kayak mamah, semoga kelak ada laki laki yang benar benar tulus sayang sama kamu dan Al. jangan ikuti jejak mamah yang terus menunggu kepulangan ayahmu hingga akhirnya mamah menua seperti ini. kamu masih muda, masih bisa merajut masa depan yang lebih baik bersama suami kelak."

__ADS_1


Anis tersenyum."Anis belum mikir jauh ke sana mah, Anis cuma mau fokus nyari uang yang banyak untuk Al. kalau masalah jodoh Anis serahkan sama Allah aja.


__ADS_2