
"Aku sungguh tidak berbohong," Sari mulai mengeluarkan air mata.
Dia sangat takut dikeluarkan dari pondok dan harus berakhir masuk ke dalam penjara. Orang tuanya akan malu bila mereka tahu dan para tetangga mungkin akan menjadikannya sebagai topik gunjingan.
Sari sungguh tidak mau.
"Jika Tante tidak percaya maka minta siapapun untuk memeriksa lemari pakaian Kak Tiara." Ucap Sari berusaha meyakinkan Safira.
Dia sungguh tidak berbohong bila bukti itu ada di dalam lemari pakaian Tiara. Untuk meyakinkan Safira dan orang-orang di sini ia berani meminta siapapun untuk menggeledah isi lemari pakaian Tiara.
"Astagfirullah, dek. Apa perlu yah menggunakan cara ini untuk menjatuhkan Kakak? Baiklah, Kakak akan mengalah. Minta siapapun untuk memeriksa lemari pakaian Kakak." Tiara mendesah tidak berdaya, ia tampak malu karena diperlakukan seperti ini oleh adik juniornya sendiri.
Tapi sekali lagi ini hanyalah sandiwaranya saja. Beruntung ia sempat mengembalikan laporan hasil kesehatan Ai ke ruang medis kemarin. Dengan begini tuduhan Sari kepadanya tidak akan terbukti dan ia bisa terlepas dari hukuman.
Umi kemudian meminta Sasa dan salah satu petugas kedisiplinan asrama putri lainnya pergi ke asrama untuk memeriksa lemari pakaian Tiara. Selama mereka pergi tidak ada orang yang berbicara karena situasi yang masih menegangkan. Kecuali suara tangisan Sari yang menyesali kebodohannya, mereka semua diam membisu.
Bahkan Ai yang menjadi topik masalah juga menutup rapat mulutnya. Mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan Ustad Vano, namun ia tidak menemukannya di sini. Membuat Ai bertanya-tanya apakah mungkin laki-laki itu tidak mendengar tentang pertengkaran yang terjadi di dalam asrama putri?
Padahal Ustad Vano biasanya sangat cepat bila berurusan dengan kamarnya.
"Siapa yang kamu cari, Nak?" Suara lembut Ali menarik perhatian Ai.
__ADS_1
Ai tertegun, ia malu dan kedua pipinya sontak memerah. Sekali lihat saja Ali sudah tahu bila putrinya sedang jatuh cinta dan mencari keberadaan 'orang' itu.
Hah, putrinya sudah besar sekarang dan ia bertanya-tanya siapakah gerangan laki-laki yang telah berhasil menarik perhatian putrinya. Apakah laki-laki itu masih laki-laki yang sama dengan remaja keras kepala membuat janji dengannya 9 tahun yang lalu?
Entahlah, ia akan segera mengetahuinya di waktu yang tepat.
"Ai tidak mencari siapa-siapa, Ayah." Ai malu, ia tidak berani menatap Ayahnya saat ini.
Ali tersenyum hangat, menepuk punggung tangan putrinya ringan.
"Ayah dan Bunda bersyukur kamu baik-baik saja di sini, malah Ai terlihat lebih gembil dari sebelumnya. Kehidupan pondok pasti sangat menyenangkan." Kata Ali semakin membuat Ai malu.
Bagaimana mungkin ia mengatakan kepada Ayahnya jika Ustad Vano lah yang memintanya untuk makan tepat waktu dan menghabiskan setiap makanan tanpa menyisakannya sedikitpun. Bagaimana mungkin ia mengatakan kepada Ayahnya jika Ustad Vano adalah laki-laki yang telah mencuri perhatiannya sejak 13 tahun yang lalu?
Tidak, Ai tidak mau memberitahu Ali mengenai masalah hatinya.
"Di sini sangat menyenangkan Ayah, di samping mendapatkan ilmu, Ai juga mendapat banyak teman." Kata Ai dengan suara malu-malu.
Ali merasa lega, dia menepuk punggung tangan putrinya lagi dengan ringan.
"Ayah lega mendengarnya."
__ADS_1
Tidak berselang lama, Sasa dan rekannya kembali dengan tangan kosong. Membuat Sari tercengang sekaligus kian panik karena ia benar-benar tidak bisa membela dirinya.
"Kami tidak menemukan apa-apa di sana." Kata Sasa melapor.
Safira menganggukkan kepalanya mengerti tapi masih belum menunjukkan respon apapun. Sesekali matanya akan bergerak melewati seorang santri perempuan yang memiliki sikap lebih tenang dan lebih terkendali dari yang lain.
Safira memperhatikannya beberapa kali. Di saat semua orang terkejut hanya dialah yang tampak biasa-biasa saja seolah telah memprediksi semua kejadian ini.
Sejujurnya, diamnya Safira tanpa merespon tadi adalah karena ia menunggu, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu karena ia yakin jika gadis ini sebenarnya tahu namun pada saat yang bersamaan ia berpura-pura tidak tahu.
"Aku sungguh melihat Kak Tiara memasukkan laporan hasil kesehatan Aishi ke dalam lemari pakaian, Tante! Jika Kak Tiara tidak memberitahu ku masalah ini mungkin aku tidak akan pernah menyebarkan rumor Aishi." Sari menangis tersedu-sedu, terlihat marah, bingung, dan sedih pada saatnya yang bersamaan.
Dia telah berakhir.
"Sari, bagaimana mungkin kamu masih menuduhku? Bukankah Sasa sudah mengatakannya jika tidak ada apapun di dalam lemari ku? Aku sungguh tidak tahu apa-apa tapi kenapa kamu terus saja melayangkan tuduhan?" Tiara terlihat tidak berdaya dan bingung.
Sari tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menangis tersedu-sedu sambil mengulangi dengan suara kecilnya yang terisak jika Tiara telah berbohong. Dia membohongi semua orang termasuk dirinya yang telah dijadikan sebagai kambing hitam.
Sampai akhirnya suara gadis yang ditunggu-tunggu Safira pun keluar. Sesuai dengan dugaannya gadis ini sebenarnya tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi namun memilih menutup mulut sampai waktu yang tepat untuk berbicara.
"Aku mempunyai sebuah bukti bila hasil laporan kesehatan Aishi memang diambil oleh seseorang." Ucap Frida tiba-tiba menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Safira tersenyum puas,"Maukah kamu menunjukkannya kepada kami?"
Bersambung..