Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.17)


__ADS_3

"Kevin, bila apa yang kamu katakan tadi malam itu benar maka pegang lah kata-kata mu sebagai laki-laki. Kamu tidak bisa berjalan di dua arah, mengambil yang lain namun juga tidak bisa melepaskan yang lain. Ini adalah tindakan seorang laki-laki yang pengecut."


Kevin tertegun, dia bertanya-tanya bagaimana mungkin Ustad Vano tahu tentang dilema hatinya hari ini?


Mungkinkah Ustad Azam yang memberitahunya?


"Ustad-"


"Aku ada di sana." Potong Ustad Vano dengan nadanya yang ringan.


Ah, ia akhirnya mengerti. Ustad Vano tiba-tiba memintanya untuk mengisolasi lantai dua yang kebetulan juga sudah Kevin rencanakan. Ia pikir ini hanya kebetulan saja karena alasan Ustad Vano terdengar masuk akal dan gelagatnya pun tidak ada yang aneh. Akan tetapi siapa yang mengira jika Ustad Vano melakukan itu semua untuk melindungi ketiga santri perempuan itu.


"Kak Vano mendengarnya?" Lebih tepatnya apakah Ustad Vano mendengarkan semua yang ia katakan semalam?


"Aku mendengar semuanya." Ustad Vano mengakui.


Kevin terdiam. Kedua matanya terpejam, menyembunyikan emosi rumit di dalam hatinya.


"Kevin, jika kamu memang masih mencintai Sasa maka lupakan gadis itu. Tapi jika kamu tidak bisa melepaskan gadis itu maka putuskan pertunangan mu dengan Sasa. Kamu harus segera mengambil keputusan dan jangan menjadi laki-laki pengecut."

__ADS_1


Kevin tidak mengatakan apa-apa. Semua pikirannya saat ini tertuju pada semua perubahan Asri, hanya dalam waktu yang sangat singkat Asri tiba-tiba memberikan rasa jarak yang sangat besar kepadanya. Seolah-olah semua yang Asri ungkapkan semalam tidak pernah terjadi. Kevin... sejujurnya merasa kecewa.


Akan tetapi ia bertanya-tanya di dalam hatinya apakah ini adil untuk Sasa?


Gadis lembut dan cerdas yang telah bertahun-tahun mengisi hatinya. Apakah ini sepadan?


"Kak Vano." Kevin memanggil Ustad Vano dengan panggilan akrabnya.


Perlahan kedua matanya terbuka menatap hamparan langit yang mulai dipenuhi awan mendung, sebentar lagi akan turun hujan dan ini sangat nyaman karena mereka sedang libur.


"Apa yang membuat Kakak jatuh cinta kepada Ai?" Kevin tidak mengalihkan pembicaraan. Ini murni karena ia ingin tahu.


"Jatuh cinta kepada Ai," Ustad Vano mulai mengenang wajah cantik nan pemalu itu.


"Aku tidak tahu bila apa yang aku rasakan kepada Ai adalah perasaan cinta sebelum Ayahnya membantuku menyadari perasaan itu." Ustad Vano mengenang masa-masa melelahkan itu.


Masa-masa dimana ia sangat ingin bertemu dengan Ai, bermain dengan Ai, dan berbicara dengan Ai. Namun, dia tidak pernah berhasil bertemu dengan Ai karena Ayahnya selalu memberikan berbagai macam alasan untuk menghalangi pertemuan mereka.


Ustad Vano sangat keras kepala. Sekalipun berkali-kali gagal dan sekalipun menempuh perjalanan jauh untuk bisa bertemu dengan Ai, dia tidak pernah menyerah.

__ADS_1


Bukannya menyerah, ia malah semakin bertekad ingin bertemu dengan Ai.


"Pada awalnya aku hanya ingin bermain dengan Ai dan aku tidak suka dia mempunyai teman baru apalagi jika itu adalah laki-laki. Aku benar benci bila Ai tertawa dengan anak-anak yang lain. Intinya aku hanya ingin satu-satunya orang yang bisa membuat Ai tertawa adalah aku, bukankah ini lucu?" Wajah dingin Ustad Vano perlahan meleleh digantikan dengan sebuah kelembutan.


Kevin sudah berkali-kali melihat penampilan Ustad Vano yang lembut setiap kali membicarakan Ai, gadis cantik dan berhati lembut yang telah menduduki tahta di dalam hati Kakak sepupunya ini.


"Papa dan Mama juga bilang bila aku lebih banyak tersenyum sejak bertemu dengan Ai. Aku mampu membuat banyak ekspresi yang sebelumnya tidak aku lakukan. Anehnya, dulu ketika pertama kali bertemu dengan Ai aku selalu merasa bahwa dia membutuhkan perlindungan ku dan aku pun harus melindunginya. Hah.." Kenangnya merasa manis.


"Lalu, apa yang membuat Kak Vano ingin melindungi Ai saat itu?"


Ah, mengenai itu.


"Ai berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia terlahir berbeda dari wanita pada umumnya dan dia sangat spesial. Aku sangat kagum padanya saat itu karena dia tidak pernah mengeluhkan perbedaannya. Dia tersenyum, tertawa, dan menangisi orang-orang terkasihnya. Ai mensyukuri dirinya apa adanya tanpa menyalahkan Allah. Hal ini membuatku mengenal Allah dan perlahan melangkah lebih dekat lagi dengan Allah. Karena Ai, aku jatuh cinta kepada Allah dan karena Ai pula bisa berdiri di tempat ini, menjadi seseorang yang mengejar ridho Allah SWT. Semuanya berawal dari Aishi Humaira."


Inilah faktanya, dia jatuh cinta kepada Allah berawal dari Ai dan ia ada di sini juga karena Ai.


Ai, sudah berkali-kali ia menyelamatkannya dari jurang duniawi.


"Maka, itu artinya perasaan Kak Vano kepada Ai berawal dari sebuah perasaan kagum?"

__ADS_1


__ADS_2