Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Shin mualaf


__ADS_3

Setelah memakan waktu yang cukup panjang akhirnya Shin dan pak Ali tiba di sebuah gang besar menuju pondok pesantren. Dari gang tersebut mereka berjalan kaki sekitar tiga ribu meter menuju Pondok pesantren yang menampung ratusan santri laki laki dan perempuan. Shin tertegun melihat dua bangunan yang terpisah di batasi oleh tembok tinggi sebagai pemisah serta pohon pohon rindang di sekelilingnya. Pesantren tersebut terletak di perbukitan yang masih asri sama hal nya dengan letak mansion milik Shin.


Pak Ali menjelaskan dua bangunan itu merupakan tempat menimba ilmu para santri sekaligus tempat tinggal mereka. Di setiap bangunan yang di Pagari tembok memiliki fasilitas masing masing. Pengelola pesantren tersebut memang sengaja memisah antara pondok pesantren putra dan putri.


Mereka terus saja berjalan hingga sampai pada sebuah rumah yang cukup asri. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka karena sebelumnya pak Ali sudah memberi tahu pada pengelola pesantren tersebut jika akan ada orang asing yang mau belajar di pesantren yang di kelolanya. Ia pun menyambutnya dengan senang hati.


"Mashaallah pak Ali, kenapa tidak memberi tau kami jam berada tiba di bandaranya jadi kami bisa menjemput bapak di bandara jadi kalian tidak perlu capek capek harus berjalan kaki." Ujar pria paruh baya memakai kopiah putih setelah mereka tiba di hadapan mereka.


Pak Ali tersenyum pada pria tersebut."Saya tidak ingin merepotkan Abah serta adik adik di sini bah. Lagi pula sekalian kita olah raga."


Shin memperhatikan raut wajah pria tua berkharisma di hadapannya lalu pria tersebut tersenyum pada Shin dan Shin segera menunduk kan wajahnya.


Pak Ali melirik pada pria tinggi yang sedang menunduk."Perkenalkan Abah, ini tuan Shin yang saya ceritakan tadi malam sama Abah."


Pria paruh baya yang di panggil Abah tersenyum hangat pada Shin lalu mengulurkan tangannya.


"Saya Ahmad tuan Shin."


Shin mendongak." to tolong jangan panggil saya tuan Abah, saya tidak pantas di panggil tuan. Nama saya Shin." Ucap Shin dengan gugup.


Abah tersenyum."Oh, begitu nak Shin. kalau begitu mari kita masuk dulu."


Setelah di dalam rumah dan duduk di atas sofa Shin mulai berbicara. Memberi tahu maksud ke datangannya. Menceritakan siapa dirinya. Orang asing berkebangsaan Korea menganut atheisme sedang mencari tahu kebenaran adanya tuhan dan ingin mempelajarinya lebih dalam lagi.


"Subhanallah mulia sekali niat mu nak Shin. Tapi, untuk mempelajarinya tidak cukup waktu sehari dua hari nak. butuh waktu lama bisa berbulan bulan bahkan ber tahun tahun. Apa nak Shin bersedia?"


"Saya bersedia bah, berapa lama pun saya mau belajar," Ucap Shin dengan tegas.


Abah dan pak Ali tersenyum senang mendengar jawaban tegas pria asing di hadapannya.


Cukup lama mereka mengobrol hingga akhirnya Di depan Abah, pak Ali dan beberapa saksi dengan terbata bata Shin mengikrarkan dua kalimat syahadat. Dan mulai hari ini, Shin menjadi seorang mualaf.


"Semoga tuan Shin bisa menjadi seorang muslim yang taat pada aqidah dan syariat Islam ya? dan smoga tuan betah belajar di sini." ucap pak Ali sambil menepuk kecil pundak Shin.


"A...amin pak Ali. Terima kasih banyak sudah menunjukan tempat ini pada saya."


"Maaf lho, saya tidak bisa menemani tuan lama di sini. Soalnya di kota masih banyak pekerjaan dan inshaallah saya akan sering datang kemari."


Shin tersenyum." iya pak, tidak apa apa. Pak Ali hati hati."


Kemudian, pak Ali mengambil koper besar yang ia bawa dari kota kemudian membuka koper tersebut. Pak Ali mengeluarkan sepuluh sarung, sepuluh baju Koko serta kopiah lalu menyerahkannya nya pada Shin.


"Ini semua untuk tuan Shin gunakan selama di sini."


Shin mengerutkan dahinya."Pak Ali memberikan semua ini untuk saya?"


"Iya tuan Shin. Saya sengaja mempersiapkannya untuk tuan agar tuan tak perlu repot lagi mencari pakaian seperti ini."


Shin merasa terharu. Ia tidak menyangka pak Ali sampai segitunya memperhatikannya. Ia pikir koper besar itu berisi barang pribadi milik pak Ali namun ternyata isinya adalah tak lain kebutuhannya sendiri.


"Terima kasih banyak pak Ali, terima kasih banyak."

__ADS_1


"Sama sama tuan."


Shin membuka tas ukuran sedang miliknya. Lalu, ia mengambil segepok uang warna merah dan meletakkan nya di tangan pak Ali.


"Tolong uang yang tidak seberapa ini bapak terima untuk membayar transportasi pulang ke rumah bapak.


"Maaf tuan Shin maaf sekali. Bukannya saya mau menolak rizki tapi saya ikhlas melakukan semua ini. Nanti kalau saya menerimanya pahala untuk saya jadi hilang tuan."


Shin terpaku. Selain baik dan perhatian, pak Ali merupakan sosok orang yang tidak materialistis.


"Uangnya untuk kebutuhan tuan selama di sini saja atau tuan bisa menyumbangkan uang tersebut sebagai uang dapur untuk para santri di sini."


Shin mengangguk." Iya pak, itu pasti."


"Mari nak Shin, saya antar ke asrama putera." Ajak Abah setelah kepergian pak Ali.


"Oh, iya bah mari."


Kemudian, mereka jalan beriringan menuju asrama Putera.


"Bah, apa saya boleh tau berapa biaya para santri belajar disini?" tanya Shin di sela sela jalan kaki.


Abah tersenyum."Saya tidak memungut biaya bagi siapa saja yang mau belajar di sini nak. Karena rata rata yang belajar di sini adalah orang orang yang tidak mampu."


Shin menghentikan langkahnya lalu menatap serius ke arah Abah." Kalau tidak di pungut biaya lantas bagaimana pesantren ini bisa berjalan karena tidak ada biaya operasional yang di pungut?"


"Dari para donatur yang suka rela memberikan bantuan apa saja untuk pesantren ini. Mulai dari uang, makanan, pakaian dan lainnya."


"Donatur?"


"Pak Ali seorang donatur besar?"


"iya nak, bahkan di kota saja dia membangun dua masjid megah sebagai tempat ibadah penduduk kota. Donatur di beberapa pesantren lainnya serta donatur beberapa panti asuhan serta panti jompo."


"Apa pak Ali orang kaya?"


"Pak Ali merupakan pengusaha batu bara terbesar ke dua di Indonesia nak Shin. Dia orang sangat kaya dan sangat dermawan serta sangat sederhana. Hasil usahanya dia manfaatkan untuk hal hal yang sangat positif. Dia sosok orang yang sangat tulus dan apa yang dia lakukan bukan karena unsur ria melainkan mencari keberkahan dan ridho Allah. Ia hanya ingin balasan pahala dari allah bukan pujian dari manusia. Oleh karena itu, tidak akan ada orang yang menyangka pada sosok beliau yang selalu berpenampilan sederhana seperti yang nak Shin lihat."


Shin tertegun mendengar penjelasan tentang siapa itu sosok pak Ali. Pria sederhana yang ia temui di sebuah masjid dan ternyata masjid tersebut merupakan masjid yang pak Ali bangun sendiri. Shin merasa malu sekali pernah memberikan uang yang tak seberapa pada orang kaya pengusaha batu bara terbesar di Indonesia. Shin menundukkan wajahnya. Penjelasan Abah tentang pak Ali membuatnya merasa orang kecil yang berlaku sombong dan angkuh selama ini.


"mari nak Shin, kita lanjutkan lagi jalannya. Sebentar lagi sampai."


Shin mengangguk. Kemudian, ia berjalan mengikuti Abah menuju asrama putera. Memasuki gerbang menjulang tinggi dan tampak di dalam para santri pria sedang melakukan aktifitas mereka masing masing. Shin di bawa ke sebuah kamar cukup besar yang memiliki kapasitas memuat empat orang santri. Dua ranjang susun, empat lemari berukuran kecil, empat meja belajar serta satu rak buku.


"maaf ya nak Shin, beginilah keadaan kamarnya. Masing masing kamar menampung minimal empat orang. karena jumlah santri yang bertambah terus tiap tahunnya membuat asrama ini menjadi semakin sempit dan saya tidak bisa meletak kan masing masing santri menghuni satu kamar."


Awalnya Shin ragu. Ia tidak biasa berbagi kamar dengan orang lain. Namun, ia meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa membiasakan diri untuk berbagi kamar dengan orang lain.


"Tidak apa apa bah, ini sudah lebih dari cukup."


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Sapa tiga orang santri yang terlihat masih belia dari balik pintu."


Abah dan Shin menoleh ke arah pintu."Waalaikum salam. Abdul, Thoriq. Akbar sini masuk," titah Abah.


Kemudian, tiga pria belia tersebut memasuki kamar mereka dan berdiri di hadapan Abah.


"Kenalkan ini namanya Shin, santri baru dan akan menempati kamar ini bersama kalian. jadi Abah minta tolong bantu kalau beliau membutuhkan sesuatu."


Ketiga belia itu memperhatikan pria tinggi besar, kulit putih, mata sipit dan tampan.


"Iya, Abah." jawab ketiga belia tersebut dengan serempak.


"Ya udah kalau begitu Abah keluar dulu ya, dan nak Shin silahkan beristirahat."


"baik bah, terima kasih."


Kemudian, Abah bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Kenal kan namaku Akbar kak."


"Aku Thoriq kak."


"Kalau aku Abdul kak."


"Aku Shin."


"Apa kakak orang china?" tanya Akbar.


"hah?" Shin melongo.


"iya soalnya mata kakak sipit dan kulit kakak putih."timpal Abdul.


"Emang nya yang berkulit putih dan mata sipit cuma orang China doang? jepang sama Korea juga cenderung putih dan sipit kali." Ujar Thoriq.


"Hehe iya juga sih."


"Apa kalian ingin tau aku dari mana?"


"ya ingin dong kak."


"aku dari korea."


"hah, jauh jauh dari Korea cuma mau mondok di sini?" celetuk Akbar.


"ya."


"ongkos dari Korea ke sini berapa duit kak?" tanya Abdul.


"mau apa nanyain ongkos kamu Dul?" tanya Thoriq.


"nanya doang hehe."

__ADS_1


"Yaudah kak Shin, kalau mau nyimpan pakaian tuh di lemari paling pojok. Mending kak Shin mandi dulu sebentar lagi mau magrib," titah Akbar.


Shin mengangguk. "ya sudah aku mau mandi dulu. lagi pula aku sudah gerah sekali. Nanti kita lanjut ngobrol setelah aku selesai mandi okey."


__ADS_2