
Aku pun langsung mengalihkan pembicaraan menyebalkan itu.
"Aku mau olahraga dulu yaa"ucapku setelah minum susu
"Eh sarapan dulu, koq main pergi aja, nggak sopan kamu, jawab juga pertanyaan Nathan jangan asal pergi aja."ucap Ibu
"Nadia mau olahraga? , yuk aku temenin, sekalian kita ngobrol."ucap Nathan
"Nah, kalau Nathan yang temenin boleh banget, sana kalian olahraga, Ibu nggak ikut mau sarapan dulu."ucap Ibu
"Yaudah kalau mau ikut ayo."ucapku
Lalu aku dan Nathan keluar dari rumah dan kami jalan pagi mengelilingi komplek.
Aku hanya terdiam dan fokus berjalan.
"Nad, bisa nggak kita duduk dulu disana."ucap Nathan sambil menunjuk bangku taman komplek
"Bisa, yaudah ayo kesana."ucapku
Lalu kami berdua menuju bangku dan duduk bersebelahan.
Nathan pun mengawali pembicaraan.
"Nad, aku minta maaf yaa atas ucapan maupun sikapku tadi waktu sarapan, aku hanya bermaksud membelamu, agar kamu nggak dijodohkan lagi sama orang yang nggak jelas, karena waktu itu aku masih ingat kamu pernah cerita ke aku tentang ambisi perjodohan oleh Ibumu."ucap Nathan memandang ku
"Iyaa nggak apa-apa, santai aja, aku nggak marah sama kamu, aku malah nggak enak atas sikap Ibu ku yang terlalu berterus terang."ucapku sambil memandang jalan
"Iya nggak apa-apa koq. Kalau aku boleh tahu, siapa Pak Camat yang Ibu kamu maksud?."tanyanya
"Oh dia laki-laki berusia sekitar 40 tahun, yang sudah beristri, namun sangat disegani ditempat ku, bahkan semua perempuan antre untuk menikah dengannya, kemungkinan dia ingin menceraikan istrinya, makanya mau nikahin aku. Mungkin kamu aneh denger ini, tapi ini fakta."ucapku
"Ya Tuhan, bisa-bisanya Ibu kamu jodohku kamu dengan laki-laki seperti itu, nggak habis pikir aku."ucapnya
"Ya Ibu memang begitu, jadi aku nggak kaget, toh bukan sekali dua kali Ibu seperti ini."ucapku tersenyum
"Lalu kamu mau gitu aja nikah sama dia ?."tanyanya
"Nggak lah, kalau aku mau nikah yaa aku maunya sama orang yang aku cintai, bukan orang yang dijodohkan ke aku."ucapku
"Kalau gitu mending kamu nikah sama aku, kita tunangan dulu aja?."tanyanya
"Kenapa sih kamu berubah? koq tiba-tiba ambisi banget mau sama aku? ada apa sih?."tanyaku penasaran
"Ya karena aku sayang dan cinta sama kamu Nad."ucapnya
__ADS_1
"Masa sih secepat itu?."ucapku singkat
"Ya karena perasaan nggak bisa kita atur, Tuhan yang punya kuasa untuk melakukan nya, mungkin yang Tuhan kehendaki adalah kamu untuk aku."ucapnya tertawa
"Terus kalau aku nggak mau gimana?."tanyaku
"Ya sebaiknya mau, emang kamu nggak takut nikah sama laki-laki itu?."tanyanya
"A..aku masih mengharapkan Satrio, maaf !"ucapku
"Mau sampai kapan? , gini aja deh, kita taruhan, kalau dalam seminggu ini Satrio nggak datang, kamu harus tunangan sama aku, gimana kamu setuju?."tanyanya
Aku merasa ada yang aneh sama Nathan, kenapa dia terkesan cinta sama aku, padahal dulu-dulu cuek-cuek aja, koq sekarang malah kayak terobsesi buat nikah sama aku. Tapi mungkin kesepakatan ini bisa buat Satrio pulang. Siapa tahu dia sedang menyelidiki ku diam-diam seperti dulu, biar aja , biar dia takut kehilangan aku dan akhirnya kembali, baik aku harus terima tantangan ini.
"Ok setelah aku pikir-pikir , aku setuju !
Jika Satrio dalam seminggu ini tidak kembali juga aku mau bertunangan denganmu."ucapku tegas
"Ok ,deal. Nah ini baru adil."ucapnya
"Yaudah jalan lagi yuk."ajakku
Lalu kami melanjutkan perjalanan kami mengelilinginya komplek, seperti biasa aku lebih banyak diam dan melamun, entah sejak 1 bulan lalu aku tidak bergairah untuk semangat, seperti merasa ada yang kurang.
Tiba-tiba aku iseng buka handphone dan melihat foto Satrio, Tiba-tiba Nathan berteriak.
Lalu aku memegang tangan Nathan sambil menatap matanya.
"Eh maaf , makasih yaa."ucapku malu lalu melepaskan pegangan tangan itu
"Iya nggak apa-apa, makanya jangan melamun dan main handphone, bahaya untuk kamu."ucapnya
Aku hanya terdiam malu dan meletakkan handphone di jaket ku.
"Oh yaa Nad, aku janji akan melindungi kamu seperti Satrio, jadi kamu jangan cemas yaa."ucapnya
"Makasih."ucapku singkat
Lalu kami kembali kerumah.
Digerbang sudah ada Ibu menunggu kami.
"Nad, anterin Ibu belanja yuk sebelum pulang."ucap Ibu
"Yah Bu, aku kan kerja hari ini, masa aku anterin Ibu."ucapku protes
__ADS_1
"Gak apa-apa kita anterin Ibu belanja di mall, baru kamu ke Kafe bareng aku."ucapnya
"Tapi aku nggak enak , masa telat ke Kafe."ucapku
"Hei, kamu itu tenang aja sih, kan Boss kamu aja udah setuju, masa kamu nolak, lagian senengin Ibu lah, kan habis ini Ibu mau pulang."ucap Ibu
"Yaudah ok, tunggu dulu aku ganti baju."ucapku
"Ok sayang ku."ucap Ibu
Lalu aku ganti baju dan menemui mereka yang sedang asyik ngobrol.
"Yuk Bu,kita naik taksi aja."ucapku
"Eh eh nggak, kata Nathan kita dianterin sekalian dibelanjain , bukan begitu calon mantu?."tanya Ibu
"Iyaa Nad, nggak usah cari taksi , aku yang anterin, masalah kerjaan kan ada Mas Beni yang handle."ucapnya
"Oh gitu."ucapku singkat
Lalu kami naik mobil, aku disuruh Ibu duduk didepan dengan Nathan, Ibu duduk dibelakang.
Lalu kami berangkat. Sepanjang perjalanan Ibu banyak ngobrol dengan Nathan, bahkan sudah membicarakan apa saja yang harus dibawa saat lamaran , duh sebenarnya aku kesal, cuma yasudah lah, aku hanya punya keyakinan bahwa dia kembali sebelum pertunangan itu terjadi.
Lalu kami sampai di Mall, mobil diparkirkan dan kita keluar dari mobil.
Ibu kelihatan senang sekali, bahkan terlalu senangnya sampai jalannya buru-buru.
Nathan menghampiri kami.
"Bu ambil aja apa yang Ibu butuhkan dan Ibu suka, nanti saya yang bayar semuanya."ucapnya
"Eh nggak usah, ngerepotin. Lagian aku masih ada uang gajian."ucapku
"Ih Nadia, rezeki nggak boleh ditolak tahu, makasih calon mantu Ibu, kalau gitu Ibu pilih dulu."ucap Ibu senang
Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang terjadi, percuma berdebat dengan Ibu, hasilnya pasti sama , beliau nggak akan mengalah.
Akhirnya Ibu berkeliling dan mengambil banyak pakaian serta aksesoris, yang ditotal kira-kira hampir 5 juta.
Benar saat pembayaran dikasir harga semuanya Rp 5.150.000,-
"Bu, jangan kebanyakan, kasihan Nathan, udah balikin aja yang gak perlu, kayak baju buat aku nggak usah."ucapku
"Jangan Nad, segitu mah nggak apa-apa, malah kalau mau tambah ambil aja, aku malah senang kalau kalian senang."ucapnya
__ADS_1
"Tuh denger."ucap Ibu
Aku hanya bisa manyun dan kesal.