
Dinda telah dibawa oleh polisi beberapa hari yang lalu dan jadwal sidang untuk kasus ini masih dalam proses penentuan. Semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan mereka.
Beberapa hari ini juga rumah sering dikunjungi oleh keluarga dari Dinda. Mulai dari kedua orang tua sampai Paman atau Bibi Bibinya yang lain. Mereka datang ke rumah untuk bertemu Ali dan Safira.
Ada beberapa diantara mereka berbicara sangat sopan dan tanpa melibatkan embel-embel kekayaan, namun ada juga yang bersikap congkak. Mereka melemparkan Safira beberapa cek dengan nominal ratusan juta rupiah agar Safira mau menarik kasus ini.
Namun sayang, Safira adalah orang yang mencintai keadilan. Untuk rasa cintanya itu dia pernah bekerja di dalamnya walaupun pada akhirnya dia mengundurkan diri karena beberapa alasan. Dia benci suap atau apapun cara ilegal lainnya yang bisa mengurangi atau menghentikan hukuman.
Padahal hukuman yang diberikan sudah sesuai dengan perbuatan jahat yang dilakukan jadi lebih baik menjalaninya dengan hati yang besar daripada terus menimbun dosa.
Kemudian tentang Ai. Mereka memutuskan untuk membiarkan Pak Daman dan Bu Santi bekerja di rumah. Ini bukan berarti Safira menyerahkan kewajibannya kepada mereka, tidak, itu tidak terjadi sama sekali.
Mereka mempekerjakan pasangan suami-istri itu di rumah sebagai asisten rumah tangga pada umumnya meskipun sesekali mereka akan menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak. Safira dan Ali kasihan melihat pasangan suami-istri itu. Mereka miskin, sangat miskin dan bekerja sebagai buruh kasar di desa tempat tinggal mereka.
Gaji yang didapatkan tidak seberapa dan anak-anak yang harus dihidupi tidak akan bisa cukup dengan biaya hidup sekecil itu. Maka keputusan untuk bekerja di sini adalah untuk membantu perekonomian mereka sekaligus bentuk terimakasih karena telah menyelamatkan Ai dulu.
Safira dan Ali bahkan membelikan mereka rumah agar anak-anak mereka bisa hidup lebih nyaman lagi. Memindahkan mereka ke sekolah yang baik dan membiayai sekolah mereka sampai masuk ke perguruan tinggi.
__ADS_1
Uang bukanlah hal berharga untuk keluarga Ali. Ini melimpah dan ada baiknya digunakan untuk membelanjakan Allah.
Lalu orang-orang yang pernah menyakiti Ai kini sedang diselidiki oleh polisi tentang kasus menghilangnya kedua orang tua Ai. Polisi menduga bila ini adalah kasus pembunuhan berencana mengingat banyaknya bukti-bukti yang polisi temukan satu demi satu. Di samping itu perusahaan mereka mengalami kebocoran data sehingga terancam bangkrut. Karyawan yang bekerja di sana satu demi satu mengundurkan diri karena mereka tahu bahwa perusahaan mereka tidak bisa ditolong lagi. Alhasil orang-orang itu tidak punya cara selain saham perusahaan agar kantong mereka bisa diselamatkan.
Momen inilah yang Ayah tunggu. Begitu mereka mengumumkan penjualan saham Ayah langsung menawarkan dengan harga yang sangat murah. Sejujurnya ini tidak bisa disebut murah mengingat perusahaan itu bukan milik mereka.
Dan hal yang paling aneh adalah perusahaan-perusahaan lainnya juga menawarkan dengan harga yang lebih murah dari milik Ayah. Tidak ada yang berani mengambil harga di atas Ayah sehingga mereka tidak punya pilihan selain menjual saham kepada Ayah.
Begitu perusahaan di dapatkan Ayah segera memindahkan nama Ai ke dalamnya. Merekrut pekerja-pekerja potensial yang berpikiran maju untuk menghidupkan kembali perusahaan kedua orang tua Ai.
Semua ini berjalan hanya dalam 1 minggu sesuai dengan permintaan Ayah. Sangat cepat dan sesuai target, mereka semua puas dengan hasilnya.
Akhirnya hari-hari damai kembali menghidupi rumah itu. Safira, Ali, dan keluarga lainnya bisa menjalani hari-hari yang menyenangkan tanpa gangguan dari siapapun lagi.
Sampai suatu hari Safira pulang ke rumah Umi dan berkumpul bersama saudara-saudaranya yang lain. Hari itu sinar matahari anehnya tidak terlalu terik dan cukup sejuk.
Angin yang bergerak ringan membawa kesejukan seringkali menerbangkan kain-kain panjang yang menutupi aurat mereka. Saat ini Umi, Annisa, Saqila, dan Safira sedang duduk di taman belakang. Ini adalah taman yang sering Abi datangi. Sebagian besar bunga di sini ditanam oleh Abi selepas Annisa menikah dengan Gio dulu.
__ADS_1
Sekarang, setelah bertahun-tahun lamanya taman ini menjadi lebih indah dan lebih nyaman dipandang mata. Membuat mereka tanpa sadar merindukan Abi yang sudah 1 tahun lebih kembali ke tempat yang seharusnya.
Sebentar lagi mereka juga akan menyusul Abi pulang ke sana jadi untuk beberapa alasan rindu mereka dapat dijinakkan.
"Putri-putriku kini sudah besar dan sudah berkeluarga pula." Suara lembut Umi mengalun ringan di dalam pendengaran mereka bertiga.
Mereka kini hanya berempat saja duduk di bangku taman sedangkan anak-anak dibawa bermain dengan para suami di bawah pohon yang tidak jauh dari mereka.
"Cucu cucu yang kalian bertiga lahir kan sangat cantik dan tampan. Umi harap mereka tumbuh besar dengan menuruni kebaikan-kebaikan hati kalian semua." Katanya seraya menatap anak-anak di ujung sana.
Mereka tertawa lepas tanpa beban. Di tangan-tangan mungil mereka ada kue-kue cantik yang tampak lezat. Karena kue ini pula mulut dan wajah mereka menjadi kotor. Membuat para Ayah panik bergerak ke sana kemari untuk menghapus noda makanan yang ada di wajah anak-anak.
"Insha Allah, Umi. Selama kami selalu dalam lindungan Allah maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang Allah cintai pula. Mereka adalah generasi baru yang akan menjujung tinggi Islam dan menyebarkan kebaikan di manapun sama seperti Ayah-ayah mereka." Saqila menundukkan kepalanya, mengecup punggung tangan Umi lembut dan penuh penghormatan sebelum duduk di atas rumput.
Dia lebih suka menikmati suasana nyaman ini sambil duduk di atas rumput hijau yang menyenangkan mata.
"Kalian benar, Umi berdoa agar kalian selalu dalam lindungan Allah. Hidup di atas agama yang Dia ridhoi dan mati di atas agama yang Dia ridhoi pula. Di tempat sana Abi pasti sangat bangga dengan kalian bertiga. Abi.." Kedua mata tua Umi beralih menatap hamparan langit biru yang tidak berujung di depannya.
__ADS_1
Itu sangat luas.