Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Cari tahu tentang Islam


__ADS_3

Teriknya sinar matahari di siang hari tidak Shin hiraukan. Ia melangkahkan kakinya mencari separuh nyawanya yang telah pergi entah kemana. Shin berjalan tanpa henti hingga tiba di sebuah masjid besar yang pernah di singgahi satu bulan yang lalu. Shin menatap bangunan itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Entah mengapa rasanya Shin rindu sekali pada tempat ibadah tersebut.


Shin berjalan mendekati pintu masjid yang terlihat baru ada beberapa orang di sana. Kemudian, Shin duduk di lantai lalu membuka sepasang sepatunya. Setelah itu, ia berjalan mendekati pintu yang sudah terbuka. Menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan untuk mengusir rasa gugup yang mulai mendera hatinya. Akhirnya, dengan mantap dan tanpa ragu ia melangkah masuk ke dalam masjid besar tersebut.


Tiba di dalam, Shin merasa jiwanya tenang dan damai. Lalu, ekor matanya mengitari bangunan megah tempat ibadah umat muslim. Satu yang ia cari di tempat itu yaitu bentuk tuhan. Shin ingin mengetahui wujud Tuhan umat muslim seperti apa? Namun, ia tidak menemukan bentuk apa apa sebagai tuhan yang di sembah. Lantas apa yang umat muslim sembah jika tuhannya saja tidak berbentuk? pikir shin.


Ke ingin tahuan tentang Tuhan umat muslim yang tidak berwujud mulai mengusik hatinya untuk mencari tahu. Tapi, Shin merasa bingung kemana ia harus mencari tahu.


Satu persatu orang orang yang hendak beribadah mulai berdatangan. Ada orang tua, remaja serta anak anak yang akan menjalankan sholat ashar di masjid tersebut. Shin memperhatikan mereka dan tak sedikit pula dari mereka yang menoleh ke arahnya lalu tersenyum dengan ramah. Shin pun selalu membalas dengan senyuman ketika ada yang tersenyum padanya.


Tak selang lama, suara merdu adzan berkumandang di masjid tersebut. Suara itu sungguh menggetarkan jiwanya. Shin memejamkan kedua matanya dan satu tangannya memegang dadanya yang berdebar hingga suara adzan menghilang.


Orang orang mulai berdiri membuat barisan rapih. Shin segera menyingkir dan memundurkan tubuhnya hingga mentok di dinding lalu terduduk menyender dan bersila. Ia tidak ingin kehadirannya mengganggu ibadah yang sedang mereka laksanakan.


Shin memperhatikan setiap gerakan demi gerakan hingga jamaah itu selesai melaksanakan ibadahnya. Satu persatu orang orang mulai keluar dan meninggalkan masjid. Namun, Shin masih saja betah dan belum ingin beranjak dari tempat itu hingga masjid tersebut mulai sepi kembali. Di dalam masjid itu hanya tersisa dirinya serta satu orang yang masih amalan dan di ketahui sebagai imam yang memimpin sholat berjamaah.


Sudah cukup lama imam tersebut duduk di mihrabnya. Shin menumpukan wajahnya di kedua lutut sambil memejamkan mata. Tapi, bukan berarti Shin tertidur melainkan memikirkan kemana ia harus mencari tahu tentang Tuhan umat muslim.


"maaf, permisi!" Seseorang menyapanya.


Shin mendongak kan wajahnya lalu melihat pada sosok wajah siapa yang telah menyapanya.


"Lho, bukankah anda yang bulan lalu mencari seseorang di masjid ini?" tanya orang tersebut.


"betul pak." Shin masih ingat dengan wajah orang yang bulan lalu ia temui dan di mintai tolong olehnya. Kemudian Shin berdiri.


"Maaf tuan, saya sama sekali tidak pernah bertemu atau melihat wanita yang tuan cari. oleh karena itu, saya tidak pernah menghubungi anda tuan."


Shin tersenyum."Tidak apa apa pak, saya mengerti."


"Apakah wanita itu sudah di ketemukan?"


Shin menggeleng."belum pak."


Pria paruh baya itu manggut mangut kecil.


"Apa bapak akan menutup tempat ibadah ini?"


"Memang kenapa tuan?"


"Jika di ijinkan, apa saya boleh berada di sini hingga malam hari? saya akan membayar berapa pun yang bapak pinta asal mengijinkan saya untuk berada di sini sampai malam hari."


Pria paruh baya itu tersenyum." kalau boleh saya tau kenapa tuan ingin berada di sini sampai malam hari?"


"Karena....tempat ini satu satunya tempat yang dapat membuat hati serta pikiran saya tenang pak."


"Tuan, Rumah Allah ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin mengunjunginya termasuk tuan."


"Rumah Allah? maksud bapak?"


"Sebelumnya perkenalkan tuan nama saya Ali, rumah saya tidak jauh dari masjid ini." ucap pak Ali lalu mengulurkan tangannya. Shin tersenyum lalu menyambut uluran tangan pak Ali.

__ADS_1


"Nama saya Shin pak, saya berasal dari Korea dan bekerja di kota ini." Shin memperkenalkan diri tanpa memberi tahu siapa dirinya. Tapi, meskipun Shin tidak memberi tahu jati dirinya, pak Ali sudah mengetahuinya jika pria asing tersebut merupakan seorang bos besar di kartu nama yang pernah Shin berikan padanya.


"Kalau begitu bagaimana jika mengobrol nya sambil duduk?" saran pak Ali.


"Oh, iya pak, mari." Kemudian mereka duduk bersila dan saling berhadapan.


"Apa tuan Shin sudah lama tinggal di kota ini?"


"Baru sekitar delapan bulan pak Ali."


"oh, ternyata belum terlalu lama ya."


Shin tersenyum."maaf pak, jika saya boleh tau masalah yang tadi bapak katakan tentang rumah Allah, Apa maksud dari rumah Allah itu pak Ali?" tanya Shin dengan hati hati.


"Oh, yang di maksud saya rumah Allah itu ya masjid ini tuan. Tempat umat muslim menyembah Allah, sang pencipta dunia beserta isinya."


Shin semakin semangat mencari tahu tentang Tuhan umat muslim.


"Tapi, kenapa saya tidak melihat adanya allah di sini? saya memperhatikan kalian tidak menyembah sesuatu dan hanya berupa dinding saja."


Pak Ali tersenyum."Allah merupakan dzat tak berwujud tuan. Dia maha tinggi, yang nyata dan esa, pencipta yang maha kuat dan maha tahu, yang abadi, penentu takdir, dan hakim bagi semesta alam. Maha pengasih dan maha penyayang. Allah itu tunggal, tidak beranak dan tidak pula di peranak kan. Allah lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, dia memandu manusia pada jalan yang lurus, jalan yang diridhai-Nya."


Shin mencoba mencerna penjelasan dari pak Ali tentang siapa itu Allah.


"Jadi Allah itu tidak memiliki wujud atau bentuk dan tidak dapat di lihat oleh mata manusia?"


"Betul tuan."


"Lalu dimana dia berada pak?"


"Kiamat kubro? apa itu?"


"Hancur dan berakhirnya dunia ini tuan."


Shin tertegun mendengar dunia akan hancur dan berakhir.


Pak Ali menjelaskan tentang apa saja yang Shin tanyakan. Mulai dari apa itu Allah ? apa itu kiamat? bagaimana manusia setelah mati? bagaimana kehidupan di akhirat. Apa itu surga dan neraka? semua penjelasan pak Ali nyaris membuat Shin merinding dan ketakutan. Satu hal yang akan selalu Shin ingat kata pak Ali bahwa sekaya apa pun hidupmu di dunia. Setinggi apa pun derajat mu di dunia, tidak akan bisa menolong mu di akhirat kelak selain amal ibadahmu pada Allah SWT. Shin menundukkan wajah nya serta memejamkan matanya.


"Tuan Shin?"


Shin mendongak.


"Apa saya boleh bertanya tentang tuan?"


"silahkan pak."


"maaf sebelumnya. Kalau boleh saya tau tuan Shin menganut agama apa ya?"


Shin tersenyum kecut." Saya tidak menganut agama apa apa pak. Orang tua saya tidak pernah memperkenalkan saya pada Tuhan. Kami hidup tanpa tuhan dan kami tidak memiliki kepercayaan apa apa pada Tuhan. kami hanya percaya pada diri kami sendiri bahwa kami hidup dan sukses karena kami sendiri tanpa adanya campur tangan dari Tuhan."


"Astaghfiruallah hal adzim."

__ADS_1


"iya pak. Begitulah hidup saya selama ini."


"Pak Ali, saya pernah membaca tentang agama. Tiap tiap manusia menganut agama yang berbeda beda. Kalau menurut bapak agama mana yang bagus pak?"


"Sebenarnya semua agama itu bagus tuan Shin, semua agama menganjurkan untuk menyembah tuhan. Tergantung dari sudut pandang orang yang menganut agama tersebut."


"Sebenarnya saya lebih tertarik pada agama Islam pak Ali. Saya....ingin mengenal tuhan yang sesungguhnya. Saya ingin belajar mengenal allah lebih dalam lagi. Apa pak Ali bisa mengajarkan saya?"


Pak Ali tersenyum." tuan Shin, sebenarnya saya bukan orang yang ahli. Saya sendiri masih belajar. saya hanya sedikit tau dan ilmu saya masih sangat dangkal. kalau tuan Shin benar benar ingin belajar bagaimana kalau belajar di pesantren saja?"


"Pesantren? apa itu?"


"Tempat menimba ilmu agama tuan."


"Dimana itu?"


"Sebenarnya pesantren itu banyak tuan. Namun, kebetulan saya memiliki sepupu pengelola salah satu pesantren yang ada di pulau Jawa. kalau tuan benar benar mau belajar di sana saya bersedia untuk mengantar tuan kesana."


"Apa pak Ali serius?"


"Saya sangat serius tuan?"


Shin tersenyum lebar." Tolong antar kan saya ke sana pak."


"kapan tuan siap?"


"besok bagaimana?"


"baik baik, saya bersedia."


Tak terasa obrolan panjang mereka memasuki waktu sholat maghrib. Pak Ali mohon undur untuk mengambil air wudhu dan Shin mengijinkan.


Seperti tadi sore, Shin hanya memperhatikan orang orang yang sedang melaksanakan sholat berjamaah hingga mereka selesai. Setelah itu, Shin ijin pada pak Ali untuk pulang ke rumahnya.


Sepanjang jalan menuju pulang bibir Shin terus menerus menyunggingkan senyum. Entah mengapa malam ini ia merasa senang.


Keesokan harinya, Shin menuruni anak tangga sambil menggeret sebuah koper besar.


"Bibi..saya mau pergi untuk beberapa waktu. saya titip mansion ya."


"tapi tuan mau kemana?"


"Ke suatu tempat dan bibi tidak perlu tau saya mau kemana. Ya sudah bi, saya pergi dulu okey?" kemudian, Shin beranjak pergi meninggalkan bi Surti yang masih bengong menatapnya.


Tono mengantar tuannya dan seorang pria paruh baya ke bandara yang ada di kota. Dalan hati ia bertanya tanya sang tuan hendak pergi kemana karena membawa koper besar sementara sang tuan tidak memberi tahu mau pergi kemana.


Butuh tiga jam untuk sampai di bandara tersebut. Setelah tiba, mereka bergegas turun dari mobil.


"Tono, meskipun aku sedang tidak ada di rumah, kamu harus tetap bekerja membantu bibi di mansion. karena aku tidak mau menggaji mu jika kamu tidak bekerja."


"Ba baik tuan. Tapi, berapa lama tuan perginya?"

__ADS_1


"tidak tentu. Bisa seminggu, satu bulan bahkan satu tahun. ya sudah sana kembali ke rumah."


"baik tuan."


__ADS_2