Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.14)


__ADS_3

"Sekarang kamu sudah di sini adalah bukti kita masih berada di jalan yang Ayahmu inginkan, sedangkan aku di sini menunggu kapan janji Ayahmu bisa ditepati. Ai, hanya sebentar saja, jadi tolong bersabar dan meragukan ku lagi. Kesabaran ku selama bertahun-tahun ini adalah bukti bahwa kamu jauh lebih penting daripada siapapun dan aku tidak akan pernah rela bila kamu sampai berpaling dariku. Kamu harus tahu, Ai, jika seorang laki-laki sudah jatuh cinta dia akan berubah menjadi orang yang serakah. Sifat ini juga berlaku untukku, Ai. Aku serakah ingin menghalalkan mu karena itulah aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merusak semua perjuangan ku untuk bisa memiliki mu. Kecuali kamu, aku tidak menginginkan yang lain, wahai Aishi Humaira."


Ustad Vano masih berbicara seolah-olah lawan bicaranya adalah Ai, gadis cantik nan lembut yang kini sedang terlelap damai di alam mimpi. Meskipun hanya suara nafas teratur yang dia dengar, setidaknya ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Lucunya," Ustad Vano mengenang pertemuan pertama mereka di pondok pesantren.


Saat itu dia sangat terkejut ketika melihat Ai, satu-satunya gadis yang telah memenuhi hatinya selama 12 tahun ini. Sejenak, dia tidak bisa bereaksi apa-apa kecuali menggunakan wajah datar yang tidak disengaja. Sungguh, dia tidak bermaksud sama sekali menggunakan wajah tanpa ekspresi itu ketika bertemu Ai pada saat itu. Wajahnya saat itu tidak ada bedanya dengan permukaan tembok saking datarnya tapi jantung yang berdetak kencang di dalam tubuhnya tidak bisa memungkiri bahwa hari itu dia sangat senang bisa bertemu dengan Ai kembali.


"Aku tidak bisa tidur semalaman gara-gara pertemuan itu. Bahkan sempat terlintas di dalam pikiran ku untuk segera menikahi mu, namun..saat itu usiamu masih belum cukup dan sekarang pun aku harus menunggu beberapa bulan lagi untuk bisa menghalalkan mu. Berbicara tentang ilmu, aku tahu tujuan mu datang ke tempat ini adalah untuk menuntut ilmu. Akan tetapi Ai, bukankah tadi aku mengatakan jika hati laki-laki itu serakah? Aku serakah, Ai. Aku ingin memilikimu sesegera mungkin, menjadi pemimpin sekaligus guru untukmu nanti agar ilmu mu semakin bertambah luas."

__ADS_1


Ustad Vano dengan jujur mengakui bahwa dia adalah laki-laki yang serakah dalam perihal hati. Keserakahannya selama ini membuat dirinya dengan mudah menolak wanita manapun yang datang mendekat selain membentengi diri dengan iman. Baginya tidak ada yang lebih baik daripada Ai dan tidak ada yang lebih indah daripada Ai. Dia hanya menginginkan Ai, dan pemikiran ini sudah tertanam jauh di dalam hatinya sejak 12 tahun lalu.


Berawal dari pertemuan dadakan mereka di rumah Ayah Ali, pada saat itu Bunda Safira tiba-tiba jatuh sakit dan mengagetkan seisi rumah ditengah malam.


Ustad Vano dan kedua orang tuanya baru saja turun dari pesawat. Mereka segera bergegas ke rumah Ayah Ali setelah mendapatkan telepon. Di sana Ustad Vano kecil melihat seorang anak laki-laki kurus yang menangis terisak seperti anak perempuan-tidak, tepatnya Ustad Vano malah berpikir jika Ai adalah anak perempuan yang sangat lemah pada saat itu sehingga badannya tidak terlalu berdaging.


Itu adalah pertemuan klise yang sudah biasa terjadi di dalam novel romansa.


"Untuk hari itu, sekali lagi kita harus bersabar. Ini hanya sedikit lagi Ai, tidak sepanjang dan seberat tahun-tahun lalu karena sudah saatnya kita merasakan buah manis dari semua kesabaran kita." Dia lalu menoleh ke belakang menatap wajah tertidur lelap Ai yang sangat damai. Ini hanya beberapa detik saja karena setelah itu dia berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Untuk sekali ini saja, kalian bertiga aku biarkan lolos dari hukuman tapi tidak dengan di lain waktu." Ujarnya kepada mereka bertiga-yang sudah berkelana di alam mimpi.


Lalu setelah itu dia membawa langkah besarnya pergi menjauh dari mereka bertiga tanpa perlu menoleh ke belakang. Dia puas bahkan sangat puas ketika mengingat isi curhatan seseorang yang sudah amat sangat dia rindukan beberapa bulan ini.


Di dalam perjalanan menuruni tangga masjid, Ustad Vano kembali mengingat isi dari percakapan konyol tiga sekawanan itu mengenai hukuman yang akan mereka terima jika ketahuan melanggar. Yang lebih lucunya lagi, nama Ustad Vano sempat mereka sebut-sebut menjadi orang yang paling ketat memberikan hukuman. Pada saat itu ketika mendengar pembicaraan mereka ini Ustad Vano rasanya ingin tertawa saja. Konyol, Ustad Vano menggelengkan kepalanya tidak bisa menahan senyum.


Setelah turun dari lantai dua Ustad Vano tidak langsung kembali ke asrama untuk beristirahat dan dia juga tidak bisa tinggal di masjid karena harus beristirahat. Jika tidak, malam ini dia akan mengawasi lantai dua agar tidak ada yang naik ke atas.


"Dimana, Kevin?" Setelah mengucapkan salam, Ustad segera bertanya pada salah satu petugas kedisiplinan asrama laki-laki yang sedang beristirahat di dalam.

__ADS_1


__ADS_2