
Apa yang harus aku lakukan?
Adalah pikiran pertama yang ada di dalam kepalaku. Aku ingin melihatnya namun di saat yang sama aku juga tidak ingin melihatnya. Ada kerinduan yang tidak tertahankan ketika melihat wajah tampan nan dingin tapi ada juga luka mengiris yang belum kunjung sembuh di dalam hatiku.
Di sini ada laki-laki yang ku cintai tapi ada juga gadis yang dicintai oleh laki-laki yang ku cintai itu.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku terdiam menatap tanah, tanganku tidak lagi bergerak memetik timun. Aku bertanya-tanya haruskah aku berlari dan bersembunyi dari mereka?
Namun, jika aku melakukannya maka bukankah itu sama saja aku memberi tahu mereka bahwa aku sakit?
Hah, betapa menyedihkannya aku. Bahkan di sini saja aku masih terjebak dalam rasa sakit.
"Mashaa Allah, Ustad Vano dan Ustad Azam mau demo apa bawa banyak santri ganteng ke sawah."
Aku secara sadar mengangkat kepalaku menatap secara langsung wajah gembira Asri. Ah, betapa cemburu aku kepada Asri. Dia mudah bahagia dan mudah tertawa, hatinya masih terbebas dari jeratan rasa sakit sedangkan aku?
Aku masih berputar-putar di tempat yang sama setelah dikecewakan oleh laki-laki yang ku cintai. Hem, betapa membuat iri.
"Apa yang sedang mereka bicarakan dengan mereka bertiga?"
Mereka bertiga?
__ADS_1
Bodohnya aku menatap mengikuti pandangannya. Di pinggir jalan Kak Tiara, Kak Sasa, dan Kak Frida berbicara dengan kepala tertunduk. Mereka berbicara dengan kelompok Ustad Vano dan Ustad Azam yang baru saja datang dengan kelompok santri laki-laki di belakang mereka.
Aku tidak tertarik dengan yang lainnya tapi mataku hanya terpaku dan tidak bisa berpaling dari wajah tertunduk Kak Sasa. Bahkan dari sini aku bisa melihat senyum malu-malunya. Bukan sejenis senyuman ramah yang terbentuk ketika menyapa orang-orang, aku yakin ini bukan jenis senyuman seperti itu.
Tapi ini adalah jenis senyuman yang terbentuk ketika melihat orang yang disukai. Kak Sasa ternyata menyukai Ustad Azam, ah..apa yang aku pikirkan.
Mereka pasti saling menyukai tapi karena terbelenggu aturan mereka untuk sementara saling memendam.
Kemudian mataku beralih melihat wajah tampan Ustad Azam yang jauh lebih teduh dan mudah didekati. Kelembutan ini..aku tidak pernah mendapatkannya saat kami masih bertunangan dulu.
Benar, hanya tatapan dingin dan rasa ingin menjaga jarak yang dia lemparkan kepadaku.
Hah..
Kalau tidak salah itu adalah tanaman kentang. Aku hanya perlu menggali tanah untuk mendapatkan kentang di dalamnya, 5 pohon mungkin cukup untuk mengisi keranjang sayur ku.
Lalu setelah itu aku mungkin bisa segera pergi.
"Mega, kemana kamu ingin pergi?" Asri memanggilku.
Aku memperbaiki ekspresi ku mencoba senormal mungkin dan menoleh melihat Asri.
"Aku akan menggali kentang. Kita lebih baik bagi tugas saja agar cepat menyelesaikan hukuman ini dan segera kembali ke asrama." Kataku tidak hanya kepada Asri tapi juga kepada Ai.
__ADS_1
Aku sedang dalam mood yang buruk. Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Aku tidak tahan.
Setelah itu aku membawa keranjang sayur ku pergi ke bagian yang paling ujung di sawah ini. Sepanjang jalan aku berusaha menundukkan kepalaku agar Ustad Azam tidak menyadari keberadaan ku. Aku tidak ingin mencolok dan diperhatikan oleh Ustad Azam. Karena jika dia tahu aku ada di sini maka mungkin dia akan berpikir aku merusak suasana hatinya.
"Aku harus segera menyelesaikannya." Kataku menyemangati diri sendiri.
Tidak menunggu waktu lama bagiku untuk sampai di barisan kentang. Aku kemudian memilih posisi yang paling baik dan paling jauh, kalau bisa posisi ini harus menyamarkan kehadiranku dan tidak mencolok.
"Aku pikir mungkin... di sini." Aku tidak terlalu yakin tapi perasaan ku mengatakan jika ini baik-baik saja.
"Maka aku akan menggali di sini." Aku memutuskannya tanpa menunggu waktu lama.
Aku lalu duduk berjongkok di atas tanah. Memposisikan keranjang sayur ku di samping sebelum mulai menggali. Akan tetapi aku baru menyadari tidak menggunakan sarung tangan untuk menggali tanah.
Tanpa sarung tangan apa aku bisa menyelesaikan tugasku?
Bingung, aku menatap kedua telapak tanganku yang bersih tanpa noda. Tangan ini telah aku rawat dengan hati-hati sebelumnya. Aku tidak pernah berpikir suatu hari akan menggunakannya menggali tanah secara langsung.
"Mau bagaimana lagi, anggap saja ini adalah pengalaman pertama ku yang berharga. Lagipula hari-hari seperti ini pasti aku akan lalui di masa depan selama tinggal di pondok pesantren ini. Jadi, anggap saja pengalaman pertama ini sebagai latihan untukku."
Mungkin hari ini akan terulang lagi jadi aku harus bersiap-siap dari sekarang. Buat diriku terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak pernah ku sentuh.
"Bismillahirrahmanirrahim." Doaku sebelum mulai menyentuh tanah.
__ADS_1