Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Si buntelan


__ADS_3

Norin yang sudah terlanjur di lihat oleh pemilik rumah tengah berada di pintu rumahnya dengan terpaksa melanjutkan lagi niatnya untuk menemui Susi.


"permisi mas, susi nya ada?" tanya Norin pada pria yang berdiri di ambang pintu, tengah menatapnya tanpa kedip dan mulut yang terbuka lebar.


"permisi mas, apa susi nya ada di dalam?" tanya Norin lagi, karena pria tersebut masih saja bengong dan tidak menjawab.


" mas, mas !" panggilan Norin dengan sedikit keras membuat pria tersebut tersadar, lalu mengatupkan kembali mulutnya.


"A a ada neng, ada di di dalam," jawab pria itu dengan gagap.


Beberapa saat kemudian, muncul seorang wanita berpostur tubuh subur dan berdiri di belakang pria bertubuh kurus dengan mata yang sembab seperti habis menangis.


" No norin!" ucap wanita itu. Lalu, ia mengucek - ucek matanya memastikan jika penglihatannya itu tidak salah.


" ka kamu beneran Norin kan?" tanya wanita itu lagi.


"I iya aku Norin, kamu Susi bukan?" tanya Norin balik bertanya. Perubahan bentuk tubuh Susi yang terbilang gemuk membuat Norin kurang mengenali wajah yang sudah seperti bapao jika tidak melihat tanda tompel yang menempel di atas alisnya.


"minggir !" bentak susi, Kemudian ia menyingkirkan suami kurusnya ke samping agar tidak menghalanginya pintu. Pria kurus tersebut menatap Susi dengan kesal.


Wanita gendut yang menggunakan daster kucel selutut itu langsung menghambur memeluk wanita yang jauh berbeda penampilannya dengan dirinya. Norin yang berpostur tubuh tinggi melengkungkan sedikit tubuhnya untuk menerima pelukan Susi yang hanya sebatas dadanya saja. Kemudian Susi menangis tersedu sedu di pelukan Norin.


Sementara suami kurus Susi menatap heran pada dua wanita yang memiliki banyak perbedaan itu.


"kok bisa si buntelan berteman dengan wanita sempurna seperti wanita cantik ini?" gumam pria kurus dengan lirih sehingga tidak dapat terdengar oleh istrinya. Jika saja terdengar sudah di pastikan akan mengamuk pada pria tersebut.


Susi mengusap air matanya dengan daster lusuhnya lalu membuang ingus dengan dasternya pula, membuat Norin merasa geli melihatnya.


"maaf ya Rin, aku terharu. Ngga nyangka kamu masih ingat aja sama aku."


"ya ingat la Sus. Kita kan tumbuh bareng," jawab Norin.


"iya Rin, kita tumbuh bareng tapi beda nasib."


Norin tersenyum lebar mendengar ucapan temannya itu.


"kamu kok cantik banget Rin, ya meskipun dari dulu kamu emang udah cantik tapi sekarang lebih cantik lagi dan berkelas beda banget sama aku, aku aja sampe pangling."


"kamu juga cantik kok Sus, kan kita sama sama perempuan jadi cantik, kalau cowok baru ganteng."


Kemudian mereka tertawa bersamaan.


"ayok Rin, masuk dulu ke gubuk reyot ku," ucap Susi, sembari tangannya memegang lengan Norin. Dan Norin mengikuti Susi masuk ke dalam rumahnya.


Ekor mata Norin mengitari isi rumah kecil Susi. Rumah yang hanya memiliki dua kamar, ruang tamu sekaligus ruang keluarga serta dapur kecil itu terlihat acak acakan seperti kapal pecah. Tidak ada barang barang mewah di dalamnya, hanya ada TV tabung berukuran kecil dan kipas angin kecil yang sudah usang menempel di atas dinding anyaman bambu.


Kemudian Susi menggelar tiker kecil di atas lantai semen.


"duduk Rin, maaf ya rumahku begini, udah jelek acak acakan lagi. Maklum aku punya anak kecil jadi ngga pernah bisa rapih." Susi beralasan. Padahal Norin sudah tahu bahwa sejak dari remaja Susi memang kurang rajin dan cenderung jorok.

__ADS_1


" ngga apa apa Sus, oya anak anakmu pada kemana?"


"ada tak kurung di kamar, abis kesel aku minta jajan mulu, udah tau bapaknya pengangguran ngga kerja kerja minta duit mulu. Bentar ya!" kemudian Susi bangkit lalu membuka kunci pintu sebuah kamar yang tak jauh dari tempatnya duduk. Nampak dua bocah yang tengah terisak isak sambil jalan ke luar kamar tersebut.


Norin menatap iba pada dua bocah yang tengah jalan ke arahnya. Hanya karena ingin jajan yang jumlah nominal uangnya tak seberapa Susi tega mengomeli serta mengurung mereka sampai nangis terisak seperti itu.


Sementara di pojokan, suami Susi tengah memperhatikan wanita yang tengah duduk di atas tikar usang.


"bening dan cantik bener temannya si buntelan," gumam nya sambil berkhayal. Ia membayangkan jika wanita cantik nan anggun itu adalah istrinya.


Susi memergoki suaminya tengah memandangi Norin sembari senyum senyum mesem membuatnya menjadi berang pada pria itu.


" heh, ngapain duduk di situ? liat cewek bening aja langsung jelalatan. Sana keluar cari duit yang banyak, jangan cuma rebahan doang di rumah. Bosen aku tuh liat kamu di rumah mulu."


Pria kurus itu bangkit dari duduknya sambil ber sungut kesal pada susi.


"kalau bukan karena emak lu yang super cerewet itu gue juga ogah punya bini yang hobinya cuma rebahan ngga mau bantuin nyari duit."


"dih, ngapain gue harus punya suami kalau duit pun harus nyari sendiri. Tugas suami itu ya nafkahi istri bukan istri nyari nafkah sendiri. kalau tau dari awal hidup gue bakal melarat kayak gini, gue juga ogah banget kawin sama lho," jawab Susi ngga kalah sengit.


" ha ha ha....Siapa yang mau sama buntelan kayak lu, udah gendut cerewetnya minta ampun, udah syukur gue kawinin."


Susi tersulut emosi, ia mengambil asbak yang tak jauh letaknya lalu melempar asbak itu tepat mengenai punggungnya yang tengah berjalan hendak keluar.


"aww......," pekik pria kurus itu.


"cepat pergi lu, ngga nyadar lu ngatain orang. diri lu sendiri aja jelek dan kurus banget kayak triplek. udah syukur gue mau sama lu, kalau ngga, bisa jadi bujang lapuk lho."


"Ehem........."


Deheman keras Norin mampu meredamkan dua orang dewasa yang tengah berseteru seperti bocah kecil yang memperebutkan mainan.


"apa kalian ngga malu berantem di depan saya dan kedua anak kalian?" Norin yang sudah kesal melihat tingkah mereka akhirnya bersuara.


"yaudah lanjutkan lagi berdebatanya saya mau pulang. Ini dek, Tante bawain cemilan buat ade berdua." Norin berdiri lalu memberikan sekantong besar cemilan yang dia beli dari warung tadi.


Dua bocah itu menerima pemberian Norin dengan Raut wajah berbinar binar. Mereka senang sekali mendapat makanan banyak yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan.


"No norin maaf, a.........,"


"sepertinya kedatangan ku bukan waktu yang tepat. Lain kali aja aku main lagi kesini." Norin memotong ucapan Susi yang belum selesai bicara.


"yaudah Sus, aku pamit pulang dulu." Norin berjalan melewati pria kurus yang tengah bengong di samping pintu. Susi menatap kepergian Norin dengan perasaan menyesal. Ia merasa tidak enak hati padanya, gara gara ulahnya temannya itu pergi dari rumahnya padahal ia belum sempat curhat.


Norin yang sudah terlanjur kesal berlalu pergi meninggalkan rumah kecil Susi. Menapaki jalanan tanah hingga sampai pada jalanan kerikil. Norin mencari jalan lain menuju rumahnya agar cepat sampai. Ia melewati sebuah gardu yang tampak ramai oleh pemuda dan para bapak yang tengah bermain catur di sana.


Dari kejauhan, Norin sudah jadi pusat perhatian para lelaki yang ada di gardu. Ingin rasanya Norin kembali ke jalan semula tapi sudah terlanjur terlihat oleh mereka. Lalu, ia meneruskan saja langkahnya melintasi gardu tersebut.


"permisi, saya mau numpang lewat ya!" ucapnya, sembari melintasi gardu tersebut tanpa menoleh ke arah orang orang yang ada tengah menatapnya kagum.

__ADS_1


"cantik bener kayak artis."


"siapa gadis cantik itu ya."


"itu kayak si Norin anaknya Bu Aminah."


"anak Bu Aminah yang kerja di kota itu ya."


"kok, cantik dan anggun banget ya jadi pengen memperistrinya."


"dih, mana mungkin gadis kayak gitu mau sama laki laki kumel kayak kamu udah gitu kere lagi."


Lalu mereka tertawa terbahak bahak hingga masih terdengar di telinga Norin meskipun sudah berjalan jauh.


Pada akhirnya, Norin tiba juga di rumahnya. Namun, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya seperti mobil yang sudah tidak asing lagi.


"kayak mobilnya pak Rio, kok siang siang ke sini!" Norin bermonolog.


Norin melanjutkan lagi langkahnya menuju teras. Nampak sepasang sepatu hitam tergeletak di depan teras dan pintu rumah dalam ke adaan terbuka.


Norin memasuki rumahnya setelah mengucap salam meskipun tak ada sahutan di dalam. Lalu, ia melihat meja ruang tamu telah terisi secangkir kopi dan cemilan tanpa ada orang.


"kemana pak Rio?" gumam norin.


"saya disini dek!" ucap seseorang yang tengah berada di belakangnya bahkan hembusan nafasnya saja terasa di telinga Norin.


Kemudian Norin berbalik, tak sengaja menabrak dada bidang pria yang tengah berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengannya.


"deg" Norin hampir tersungkur mundur ke belakang namun dengan sigap Rio merangkul tubuhnya agar tidak terjatuh. Seketika pandangan mereka bertemu. Rio menatap bola mata bulat itu dengan tatapan cinta. Sementara Norin menatap pria itu dengan perasaan terkejut.


"Ehem" Bu Aminah menyaksikan kelakuan mereka berdua lalu mereka segera melepaskan diri dan berdiri tegak.


Rio merasa tidak enak hati terhadap wanita paruh baya yang tengah menatapnya datar.


"ma maaf Bu saya tidak sengaja."


Bu Aminah tersenyum." ngga apa apa pak, makasih lho udah nyelamatin Norin, kalau ngga udah nabrak meja dia."


Norin hanya menunduk saja.


"kamu dari mana Rin?" tanya Bu Aminah pada Puteri nya yang tengah menunduk saja.


"dari rumah Susi Bu, oya ibu kok pulangnya ngga bawa motor?"


"motornya masuk bengkel Rin, untung ada pak Rio yang udah rela nganterin ibu pulang kalau ngga ibu bisa jalan kaki pulangnya."


Norin melirik pada pria yang tengah menggaruk tengkuknya.


"terima kasih pak Rio, udah mau nganterin ibu saya pulang."

__ADS_1


Rio tersenyum manis."sama sama dek!"


__ADS_2