Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.6)


__ADS_3

Mega tidak tersenyum,"Terimakasih, assalamualaikum, Ustad." Dia lalu menarik Asri ikut bersamanya.


Pergi untuk menjauh dari Ustad Azam tanpa perlu menunggu balasan salam darinya.


Mereka saat ini sangat-sangat canggung setelah pembicaraan tadi. Astaga tidak, sejatinya mereka sudah canggung sejak awal bertemu kemarin.


"Besok," Suara Ustad Azam menarik perhatian Mega dan Asri.


"Apa kita harus berhenti?" Bisik Asri di samping.


Mega tidak yakin dengan siapa Ustad Azam ingin berbicara.


"Tidak usah, jalan saja lurus." Dia memang mengatakan ini tapi langkahnya tanpa sadar dibuat lebih lambat.


Asri menggerakkan mulutnya ingin mengatakan sesuatu. Beberapa detik kemudian dia hanya menghela nafas panjang tidak ingin merusak suasana.


Memangnya ada apa dengan besok?. Batin kecilnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Ustad Azam sama sekali tidak mundur meskipun Mega tidak mau menghentikan langkahnya atau sekedar menoleh. Melihatnya saja melambat membuat Ustad Azam dipenuhi sebuah harapan. Dia tidak bisa berbohong ataupun menyembunyikan kegembiraannya karena senyuman lembut yang tercetak tampan di wajahnya telah membuktikan suasana hatinya malam ini.


"Mulai besok sampai 10 ke depan aku akan pergi keluar kota bersama teman-temanku yang lain karena mendapatkan tugas dari pondok pesantren." Begitu suaranya jatuh tiba-tiba langkah Mega terhenti di depan sana.


10 bulan?. Batin Mega tidak percaya.

__ADS_1


Dia kembali harus berpisah dengan Ustad Azam selama 10 bulan lagi. Apakah dia bisa dengan semua masalah yang masih belum mereka jernih kan?


"Aku tidak mendengar apa-apa." Nyatanya ego Mega jauh lebih tinggi daripada suara hatinya.


10 bulan, biarkan dia menggunakan waktu-waktu ini untuk mencerna semua yang terjadi secara baik-baik dan mungkin saja waktu ini mampu membuatnya melupakan tentang Ustad Azam.


Hah.. lagipula 2 minggu lagi mereka akan melaksanakan kehidupan tertutup selama 1 tahun. Jadi, harusnya Mega bersyukur dia dan Ustad Azam tidak bertemu lagi.


Meskipun dia mengakui bahwa dadanya akan terasa tidak nyaman di masa depan.


Lalu Mega melanjutkan langkahnya kembali tapi segera tertahan lagi ketika mendengar suara Ustad Azam selanjutnya.


"Apa kamu menginginkan sebuah hadiah? Aku akan membelikan hadiah yang kamu mau di sana. Aku dengar kota itu punya banyak sekali pakaian atau kebutuhan wanita yang menarik." Melihat Mega tadi berhenti semakin menyulut keberanian Ustad Azam berbicara.


Mereka dulu memang sering berpisah karena Ustad Azam sudah mondok sejak usia 14 tahun di sini. Bila Ustad Azam kebetulan pulang dia jarang bisa bertemu dengan Mega karena berbagai macam alasan. Salah satunya Ustad Azam ingin memberikan jarak kepada mereka berdua agar bisa saling memendam rasa yang halal. Jadi, dia akan berusaha membawa hadiah untuk Mega dan menitipkannya melalui kerabat.


Tidak sampai semalam dia tiba-tiba mendapat perlakuan dingin dari Mega. Memang sejak pertunangan mereka dibatalkan Ustad Azam agak gelisah dan kecewa. Akan tetapi semuanya segera menguap ketika dia tahu Mega juga sekolah di sini, namun sayang hanya tatapan dingin yang Ustad Azam dapatkan.


Ustad Azam semalam tidak bisa tidur. Dia mencoba mencari cara agar bisa baik-baik dengan Mega. Oleh karena itu kemanapun Ustad Vano pergi dia akan secara sukarela mengikutinya karena dia tahu kemanapun Ai pergi Mega pasti akan bersamanya.


Mega semakin gelisah,"Tidak dibutuhkan." Katanya menarik tangan Asri agar ikut dengannya.


"Baiklah, aku anggap kamu memang menginginkannya. Aku akan membawakan mu sebuah hadiah saat pulang nanti, tapi aku harap kamu bersabar menunggu kedatangan ku." Ustad Azam tidak malu ketika mengatakan ini.

__ADS_1


Dalam senyumnya dia memandangi punggung tipis Mega yang kian menjauh darinya.


"Aku tidak akan mengatakan apa-apa kepada siapapun." Bisik Asri di samping.


Dia mengamati perubahan wajah Mega yang kini sudah memerah terang dan jauh lebih baik daripada sebelumnya.


"Aku..aku butuh ke kamar mandi." Katanya gugup kepada Asri.


Asri mengerti perasaan Mega dan tidak menggodanya.


"Mau ku temani?" Ada petunjuk di samping ruang medis letak dimana kamar mandi. Tentu saja sebelah kanan adalah milik wanita dan kiri adalah milik laki-laki.


Mereka jauh terpisah dan tidak bisa saling melihat karena terhalangi tembok tinggi.


"Tidak perlu, kamu lebih baik menungguku di depan pintu masuk saja." Kata Mega masih menunduk.


Dia butuh ruang untuk bernafas dan menenangkan kegugupannya.


"Pergilah, aku akan menunggumu di depan pintu masuk." Asri tidak menahannya.


"Baiklah, aku ke kamar mandi dulu." Mega berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


"Hah.. senangnya jadi kalian." Bisiknya dengan senyuman tidak berdaya di wajah.

__ADS_1


__ADS_2