Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bertemu keluarga Norin


__ADS_3

Shin terjungkal kebelakang dan beruntung di belakangnya ada sofa ruang tamu sehingga tubuhnya terjatuh ke atas sofa tersebut.


"kamu kasar sekali, padahal saya sudah datang jauh jauh hanya untuk menemui kamu tapi kamu malah bersikap kasar." Shin pura pura marah agar wanita yang telah mendorongnya itu mau merayu nya. Tapi, bukannya Norin merayunya melainkan ia bersikap cuek saja.


"salah sendiri kenapa berbuat kurang ngajar pada saya?" ucap Norin sambil melipat kedua tangannya.


"tapi kamu juga rindu pada saya bukan? jelas jelas kamu menerima ciuman saya dan asal kamu tau mata besar mu itu tidak bisa membohongi saya." Shin sengaja membahas atas apa yang mereka lakukan tadi sekedar ingin tau bagaimana responnya.


Namun, Norin hanya mendelik kan matanya lalu beranjak pergi meninggal kan pria yang tengah terduduk di atas sofa.


Shin buru buru berdiri lalu mengekor di belakang Norin yang berjalan ke arah dapur.


"saya belum selesai bicara, kenapa langsung pergi?" Shin terus saja mengekor kemana Norin melangkah.


Braakk


Pintu kamar mandi di tutup dengan kasar membuat pria di belakangnya hampir saja mencium daun pintu itu.


"ish dasar gadis aneh." Shin mengumpat kesal sembari memegang bibir bawahnya.


Tak lama kemudian, Norin kembali membuka pintu kamar mandi setelah ia selesai mengambil air wudhu. Namun, pria itu masih saja berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di atas dada sehingga Norin kesulitan untuk keluar.


"permisi saya mau lewat," ucap Norin sembari menatap tajam pada pria yang berdiri tersebut.


"silahkan saja nona!" Shin menatap balik pada mata bulat wanita yang tengah kesal padanya.


"gimana saya bisa lewat kalau jalannya saja di halangi oleh tuan!"


"siapa yang menghalangi jalanmu, jalanan masih lebar seperti ini."


Memang masih ada celah di samping tubuh besarnya namun tetap saja akan bersentuhan dengan pria itu jika di paksakan keluar. Norin tidak mau jika air wudhu nya batal dan harus mengulang kembali.


"tuan, please kasih saya jalan yang sedikit lebar."


"ini sudah lebar, memangnya tubuh mu sebesar apa? body kurus begitu."


Bos pemaksa nya ini benar benar membuat Norin naik darah. Sudah menghalangi jalannya lalu mengatainya kurus pula. Norin kesal sekali dan tanpa banyak bicara lagi ia mengambil air menggunakan gayung.


"minggir tidak, atau mau saya siram pakai air ini?" ucap Norin sembari tangannya di angkat bersiap untuk menyiram pria itu.


"okey, okey. take it down, please!"


Ancaman Norin berhasil, Shin mau menyingkir. Ia takut wanita itu nekat menyiramnya dengan air yang sedang di pegang nya.


Norin menatap kesal pada pria itu lalu beranjak menuju kamarnya. Namun, pria itu masih saja mengekor hingga pintu kamar.


Norin menghentikan langkahnya sampai di ambang pintu lalu berbalik menghadap pada pria yang terus saja mengekor.


"mau apa lagi?" tanya Norin dengan kesal.


"saya mau ikut kamu!" jawab Shin santai.


"kenapa sih harus ngikutin saya terus, apa tuan tidak bisa duduk barang sejenak?"


"tidak bisa. Saya tidak mau kamu kabur lagi dari saya."


"ck, mau kabur kemana? ini rumah orang tua saya. Saya mau sholat, apa tuan mau ikut sholat juga?" tanya Norin dengan mimik serius.


"sholat? sholat.....sholat.....oh iya saya tau. apa kamu mau berbicara dengan tuhan mu?"


"ya, apa tuan mau ikut berbicara dengan tuhan saya juga?"

__ADS_1


Shin menggaruk tengkuknya sembari nyengir.


"sa....saya tidak mengenalnya dan dia juga tidak mengenal saya bagaimana kami bisa berbicara?"


Berdebat dengan pria ini hanya akan menghabiskan waktu sholat maghrib saja dan Norin tidak mau melewati ibadah maghrib nya.


"ya sudah kalau tidak mau ikut. Saya mau berbicara dengan tuhan saya dulu. tuan tunggu di sofa saja."


brakkk


Norin menutup pintunya dengan kasar membuat pria yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya terperanjat kaget.


"ish wanita ini benar benar membuat aku ingin menggigitnya."


Bu Aminah dan Rizal baru saja tiba di rumahnya setelah setengah hari bepergian. Kemudian mereka melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya serta seorang pria berseragam tengah merokok dan bersender di mobil mewah tersebut.


"siapa itu zal?"


"ngga tau Bu!"


"coba kamu samperin dan tanya zal!"


Namun, sebelum Rizal menghampirinya, pria itu menoleh terlebih dahulu pada Bu Aminah serta Rizal yang tengah memperhatikannya. Lalu, ia segera membuang puntung rokok ke atas tanah. Setelah itu, pria memakai seragam hitam itu berjalan menghampiri mereka.


Pria itu tersenyum pada Bu Aminah dan Rizal.


"selamat malam Bu, mas !" sapa pria tersebut.


"selamat malam, maaf bapak ini siapa ya?"tanya Bu Aminah penasaran.


"perkenalkan nama saya Tono Bu, saya lagi mengantar tuan saya yang sekarang lagi di dalam rumah ini," jawab Tono.


"benar Bu, mas !"


Karena penasaran ingin mengetahui siapa tuan yang tengah ada di rumahnya itu, mereka bergegas masuk ke dalam rumahnya tanpa pamit terlebih dulu pada sopir tersebut.


Rizal menarik gagang pintu dengan pelan lalu masuk diekori oleh Bu Aminah dari belakang dan sampai di ruang tamu mereka tidak menemukan siapa siapa.


Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam hingga sampai pada ruang keluarga. Nampak sosok pria asing tengah rebahan di atas sofa sembari memainkan ponselnya. Bu Aminah dan Rizal menelisik penampilan pria yang belum mengetahui kedatangan mereka. celana jeans panjang, kaos abu abu serta sepasang sepatu berwarna putih yang masih melekat di kedua kakinya.


Bu Aminah geleng geleng kepala melihat entah siapa pria itu dengan tidak sopan memasuki rumahnya tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu. Di tambah lagi sepatu itu di naikan ke atas sofa.


"ehem" Bu Aminah sengaja ber dehem sedikit keras agar pria tersebut mendengarnya.


Benar saja, pria itu mendengarnya. Ia segera bangun dan duduk tegak di atas sofa lalu menoleh pada dua orang yang tengah berdiri menatapnya dengan tatapan serius.


"siapa mereka? gumam Shin dalam hati.


Bu Aminah dan Rizal berjalan mendekati pria yang tidak memiliki sikap sopan santun itu. Shin berdiri setelah mereka dekat dengannya.


"kalian siapa?" tanya Shin penasaran.


"justru kami yang mau nanya, anda siapa tidak sopan sekali masuk rumah saya?"


"apa mereka keluarga Norin?" Shin bermonolog.


"oh ya, kenalkan saya......!"


"namanya tuan Shin Bu, dia bos Norin di pabrik." Norin menjawab pertanyaan ibunya sembari jalan ke arah mereka.


"bos nya Norin di pabrik?"

__ADS_1


Norin mengangguk."iya Bu!"


Sementara Shin terdiam dan tidak melanjutkan lagi ucapannya.


"oh, maaf tuan. saya fikir anda siapa."


"it's okey, selamat malam Norin's mother!" sapa Shin sembari membungkuk kan sedikit tubuhnya.


Shin tidak mengetahui bagaimana budaya orang Indonesia ketika berkenalan dengan orang yang lebih tua seperti bersalaman lalu mencium tangannya. Shin juga tidak mengetahui panggilan untuk mereka seperti bapak, ibu, om, tante. Karena selama ini Shin hanya menggunakan kata "anda" ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau lebih muda.


Kemudian Shin menoleh dan menelisik pria tinggi besar yang berdiri di samping Norin.


"siapa pria ini? apa dia pacarnya Norin ?"Shin bermonolog.


"namanya Rizal tuan, dia adiknya Norin," ucap Bu Aminah tiba tiba.


"oh adik? saya fikir kekasihnya," Shin tertawa.


Bu Aminah dan Rizal pun ikut tertawa, hanya Norin yang diam saja tanpa ekspresi.


"silahkan duduk tuan Shin!" ucap Bu Aminah setelah mereka berpindah tempat ke ruang tamu.


"terima kasih."


Bu Aminah melirik pada anak gadisnya yang tengah diam dan berdiri saja.


"Rin, kok kamu diam aja di situ, ada bos mu datang masa ngga disuguhi apa apa!"


Tanpa protes, Norin beranjak ke dapur dengan wajah datar saja.


"maaf ya tuan." Bu Aminah merasa tidak enak hati pada pria Korea itu melihat anaknya bersikap kurang sopan.


Shin mengangguk sedikit lalu tersenyum tipis.


Tak selang lama, Norin kembali lagi membawa sebuah nampan berisi segelas air putih dan satu toples kecil kacang garing.


Kemudian ia meletakan nya tepat di hadapan Shin.


"lho kok cuma air putih sama kacang Rin." tanya Bu Aminah.


"maaf ya tuan Shin, di rumah ini ngga ada kopi karena tidak ada yang suka kopi. Di sini juga ngga ada wine karena kami ngga pernah mengkonsumsi minuman memabukkan itu." Norin sengaja menyindir pria yang suka mengkonsumsi wine.


"its okey, terima kasih air putihnya nona Norin kebetulan saya haus sekali." Shin tersenyum lalu meneguk air putih itu hingga tandas.


"Do you wanna any more?" tanya Norin.


"no thanks, but. I'm just hungry, can you cook something for me?" seharian Shin hanya memakan roti tadi pagi membuatnya kelaparan saat ini.


"what ? oh no, i can't."


Norin sengaja berbicara menggunakan bahasa Inggris agar ibunya tidak mengerti. Namun, ia lupa bahwa ibunya seorang guru bahkan pernah mengajar les bahasa Inggris.


"Sorry sir, my daughter is just kidding. She will cook for you asap."


Shin tersenyum lebar, ia senang telah mendapat pembelaan dari orang tua Norin.


"cepat Rin, buatkan makanan untuk bos mu sekarang!"


Norin tidak bisa menolak perintah ibunya dan dengan terpaksa, ia menyeret kedua kakinya menuju dapur.


Norin membuka tudung saji, ia menatap pada hasil olahannya tadi sore yang belum sempat di makan bersama keluarganya. Sayur asem, ikan asin, sambal terasi dan lalapan timun serta terong.

__ADS_1


__ADS_2