Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.9)


__ADS_3

"Di waktu tepat nanti ada sesuatu juga yang ingin aku ceritakan kepada kalian. Tapi waktu itu aku pikir kita harus memutuskannya secara bersama-sama kapan tepatnya. Apakah kalian bersedia?" Itu pasti akan menjadi hari yang sangat hangat, Asri bisa membayangkan wajah-wajah penuh tawa atau senyum hangat mereka di hari itu.


Ai dan Mega tersenyum,"Tentu saja-"


Cklak


Mereka langsung duduk tegak ketika mendengar pintu terbuka. Mereka dengan was-was melihat ke arah pintu masuk.


Di sana kini berdiri Ustad Azam dengan sesuatu di tangan kanannya.


Dalam hitungan detik semuanya segera menjadi canggung. Mulut Mega dan Asri terkatup rapat tidak berani mengeluarkan suara untuk menyapa.


"Assalamualaikum?" Salam Ustad Vano santai seolah tidak melihat tatapan canggung dua lainnya.


Dia lalu masuk ke dalam ruangan setelah menutup pintu masuk untuk mencegah udara dingin dan nyamuk masuk.


"Waalaikumussalam, Ustad." Mega dan Asri berdiri dari duduk mereka dengan sangat pengertian.


Mereka tahu bahwa satu-satunya orang yang Ustad Vano cari di sini tiada lain dan tiada bukan adalah Ai.


Gadis cantik yang kini terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus di tangan kirinya.


"Sudah baikan?" Ustad Vano tidak duduk di kursi yang ditinggalkan Mega dan Asri untuknya.


Dia hanya berdiri di samping ranjang Ai, memperhatikan aliran infus yang bergerak lambat memasuki tubuh kurus Ai.

__ADS_1


Ai sangat malu, perasaan gugup sudah tidak bisa digambarkan lagi rasanya. Apalagi ketika mengingat suara bisikan lembut di telinganya, wajahnya yang agak pucat kembali memerah dibawah pengawasan Ustad Vano.


"Alhamdulillah sudah, Ustad. Terimakasih sebelumnya sudah membawaku ke sini."


"Itu sudah tugasku. Akan tetapi di masa depan nanti aku harap kejadian ini tidak terulang kembali. Jika kamu memang tidak sehat maka katakan saja dan jangan mencoba untuk menahannya seperti tadi. Apa kamu mengerti?" Ustad Vano mengingatkan dengan serius.


Melihat Ai pingsan di hadapannya tadi membuat Ustad Vano langsung kehilangan nafas. Dia tidak bisa menahan kemarahan dan kekhawatirannya yang muncul pada saat yang bersamaan. Tanpa mengatakan apapun dia segera berlari mendekati Ai, membawanya pergi dengan langkah cepat tanpa memperdulikan tatapan dari puluhan pasang mata yang mengawasi.


"Maafkan aku, Ustad." Ai sungguh tidak berani menatap Ustad Vano sekarang.


Entah kenapa dia bisa merasakan perasaan marah Ustad Vano kepadanya.


"Aku pikir sakitnya tidak akan seserius ini dan aku pikir masih bisa menahannya sampai kami menyelesaikan hukuman. Namun sayangnya aku salah karena pada akhirnya aku... pingsan."


Ini murni kesalahannya karena keras kepala dan ini murni kesalahannya karena berpikir menjadi orang yang sok kuat. Kemarahan Ustad Vano tidak salah karena Ai bisa mengerti ini.


Ai bingung memikirkannya.


"Baguslah kamu mengerti. Masalah ini aku harap kamu tidak mengulanginya lagi. Jika aku tahu kamu tidak mendengar maka percayalah, kamu akan mendapatkan hukuman yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya." Ustad Vano mengancam.


Dia ingin Ai tahu betapa serius masalah ini dan dia ingin Ai lebih menjaga kesehatannya agar kejadian ini tidak terulang kembali di masa depan karena.. untuk beberapa waktu mungkin dia tidak akan bisa mengawasi Ai di sini.


Mega dan Asri segera saling melirik. Ekspresi mereka berdua kompak menunjukkan keheranan karena ancaman Ustad Vano bisa dibilang sangat keras dan yah..ada rasa melibatkan ego pribadi.


"Dan ini,"

__ADS_1


Ustad Vano menaruh kantong plastik hitam yang dia bawa tadi ke atas laci. Anehnya ekspresi Ustad Vano saat ini agak tidak benar.


"Ini.. adalah kebutuhanmu. Em..ini kebutuhan mu.." Ustad Vano bingung menjelaskannya.


Ini sangat canggung!


"Ini apa, Ustad?" Ai tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ini kebutuhan mu." Ustad Vano menekankan.


Mega dan Asri,"....." Kami tahu tapi kebutuhan apa tidak bisakah Ustad menjelaskannya?


Ai tahu untuk tidak bertanya lagi ketika melihat ekspresi canggung Ustad Vano.


"Terimakasih, Ustad. Aku akan sangat menghargai barang ini." Dia tidak bisa menahan senyum kegembiraannya.


Bagaimana dia tidak senang? Orang yang dia sukai selama bertahun-tahun baru saja memberikannya sebuah hadiah. Jika bisa dia ingin berguling-guling di atas ranjang tapi sayangnya dia tidak bisa karena sekali lagi ini bukanlah rumahnya.


"Lalu aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


Ustad Vano kali ini terlihat cukup serius tapi tidak ada tatapan dingin di sorot matanya.


"Mulai besok aku akan pergi keluar kota untuk menyelesaikan tugas dari pondok pesantren selama 10 bulan. Aku harap," Dia berdehem ringan.


"Aku harap kamu bisa menjaga kesehatan dan jangan membuat masalah lagi selama aku tidak ada. Apakah kamu mendengar ku?"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2