Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Hari pernikahan


__ADS_3

Norin masih menangis di pelukan sang ibu. Ia benar benar tidak menyangka pria yang telah menikahinya adalah Shin, pria yang dia benci karena sudah melukai hatinya selama ini. Norin tidak bisa menyalahkan siapapun atas terjadinya pernikahan ini karena tidak ada unsur pemaksaan. Abah serta umi bahkan kakaknya sendiri sudah menawarkan untuk mempertemukannya terlebih dahulu pada calon suaminya tapi dirinya sendiri yang menolak untuk bertemu.


Dengan sabar Bu Aminah serta Umi Husna masih menenangkan Norin dari tangisannya.


"Bukan kah Inay pernah bilang, siapa pun dia dan bagaimana pun bentuk rupanya, Inay akan ikhlas menerimanya? dan sekarang nak Shin sudah sah menjadi suami Inay dan Inay harus ikhlas menerimanya. Sebenci apa pun Inay padanya tetap tidak akan bisa lagi merubah statusmu dari seorang istri ke wanita lajang. belajarlah untuk memaafkan kesalahannya, kekhilafan nya padamu. Umi melihat nak Shin itu pria yang baik dan bertanggung jawab Inay. Dia pasti akan menjagamu serta menyayangimu dalam suka mau pun duka. Umi dan Abah melihat kegigihan nya dalam mempelajari agama Islam di pondok ini. Oleh karena itu, umi dan Abah memberikan kesempatan untuknya meminang mu. Dan satu hal yang harus kamu tahu, nak Shin bersimpuh memohon ampun pada kami untuk di maafkan kesalahannya padamu."


"Bukan kah nak Shin itu pria yang kamu cintai dulu nak? kenapa kamu harus menangis? mestinya kamu bahagia nak, bukan menangis seperti ini." Bu Aminah menambahkan.


Inay melepaskan diri dari pelukan sang ibu. Ia menatap umi Husna lalu sang ibu.


"Maafkan Inay ibu, Umi. Gara gara Inay acaranya jadi kacau."


Inay sadar tak semestinya ia bersikap seperti anak kecil. Menangis di tengah banyak orang dan membuat orang khawatir padanya. Apalagi acara ini di rumah Abah dan Abah sendiri mengundang relasinya. Inay tidak ingin membuat Abah serta Umi malu karena dirinya.


"Sekarang kamu sudah bisa menemani suamimu di pelaminan kan?" tanya umi Husna.


Inay mengangguk.


Bu Aminah serta umi Husna tersenyum senang.


"Umi mau panggil tukang make up dulu ya untuk membenarkan make up kamu yang berantakan." Umi bergegas keluar dari kamar.


"Puteri Ibu sudah menjadi seorang istri tuan Shin. Ibu bersyukur sekali Puteri ibu di nikahi olehnya. Tuan Shin pria baik nak, Dia pasti akan membahagiakanmu. Meskipun dia hanya seorang mualaf tapi dia orang yang mau belajar serta mengamalkannya. Dan ibu yakin dia pasti bisa menjadi imam yang baik untukmu nak."


Norin mengangguk lalu tersenyum tipis. Tak lama, Umi Husna serta seorang make up artist masuk ke dalam kamar.


"Mba, tolong benerin lagi make up nya. Buat dia secantik mungkin," titah umi Husna.


"Baik umi." Sang make up artist mulai menata kembali make up yang sudah acak acak oleh air mata. Setengah jam kemudian, Norin kembali cantik seperti semula.


"Sudah selesai mba?"tanya umi Husna setelah kembali ke kamar.


"Sudah umi."


"Wah, keponakan Umi sudah kembali cantik. Yaudah yuk kita keluar. Banyak tamu yang menanyakan pengantin wanitanya ke umi."


Norin mengangguk


Umi dan Bu Aminah menuntun Norin keluar dari kamarnya menuju kursi pelaminan. Semua mata tertuju pada pengantin wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun sekali termasuk Shin yang sedang duduk di atas kursi pelaminan. Kedua mata sipitnya tak lepas dari sang istri yang sedang berjalan pelan menuju ke arahnya. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat, berdebar tak karuan. Entah mengapa Shin tiba tiba menjadi sangat nervous di dekati sang istri tercintanya.


Norin hanya menundukkan wajahnya. Rasanya malu sekali menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Banyak diantara para tamu yang membicarakan dan memuji kedua pengantin bahwa mereka merupakan pasangan yang sangat serasi, tampan dan juga cantik. Isu tentang Shin yang seorang mualaf dan pengusaha kaya raya pun tak lepas menjadi perbincangan para tamu undangan yang hadir. Entah siapa yang memberi tahu mereka padahal Abah sendiri tidak pernah bercerita apa pun tentang Shin.


Bermacam macam hidangan enak tersedia di meja prasmanan. Selain itu, di setiap meja para tamu pun tersedia bermacam kue serta cemilan. Berbagai macam pertunjukan di suguhkan oleh para santri sebagai hiburan para tamu undangan.


Shin melirik dengan ekor matanya ke arah samping kiri dimana istrinya sedang duduk sambil menunduk kan wajah. Entah mengapa Shin merasa lidahnya kelu untuk berucap dan ia hanya menelan saliva nya saja. Mereka duduk dalam diam dan dengan pikirannya masing masing. Namun sesekali mereka bangun ketika ada tamu yang hendak memberikan ucapan selamat.

__ADS_1


Kedua pasangan pengantin yang terlihat kaku itu tak lepas dari pandangan Umi dan Ibu Aminah serta Abah. Ada rasa kekhawatiran di diri Ibu Aminah melihat sikap anaknya yang sepertinya dingin terhadap suaminya.


"Kamu tidak usah khawatir Aminah, percaya saja lambat laun Inay pasti akan menerima pernikahannya." Abah menenangkan sang adik yang terlihat gelisah.


"Iya Aminah, kita doakan saja semoga pernikahan mereka sakinah, mawadah dan warahmah." Umi Husna menambahkan.


"Aminn."


Ba'da ashar acara selesai dan sudah tidak ada lagi tamu yang terlihat datang. Norin di tuntun masuk ke dalam rumah oleh Syifa. Shin mengekor dari belakang Norin. Tiba di dalam kamar pengantin dan ketika syifa hendak meninggalkannya, Norin mencekal lengannya.


"Jangan pergi dulu kak."


Syifa melirik ke arah Shin yang sedang berdiri di ambang pintu dan itu membuat Shin bengong memandang mereka.


"Ada suamimu Norin."


Norin menggeleng.


"Aku ingin mandi kak, aku mau minta tolong sama kakak."


Syifa melirik lagi ke arah Shin lalu Shin mengangguk dan keluar dari kamar. Syifa segera menutup pintu dan membantu Norin melepas pakaian pengantinnya. Norin segera membersihkan diri di kamar mandi.


Shin memasuki kamar kembali dan mendapati Norin sedang melaksanakan sholat ashar. Shin duduk di tepi ranjang dan menatap punggung istrinya yang sedang beribadah. Setelah selesai Norin melirik ke arah suaminya yang sedang duduk sambil menatap ke arahnya.


"Aku....aku ingin mandi tapi...aku tidak membawa handuk," ucap Shin lalu menggaruk tengkuknya.


Seulas senyum tersungging di bibir Shin meskipun sikap Norin dingin padanya tapi ia masih mau melayaninya dengan baik.


"Terima kasih," ucap Shin. Dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang istri yang selalu menunduk lalu ia bergegas ke kamar mandi.


Selama Shin mandi, Norin mempersiapkan baju ganti untuk Shin. Sebuah Koko putih, sarung kain serta kolor yang masih baru ia letak kan di atas tempat tidur.


Setelah selesai mandi Shin keluar dengan keadaan memakai handuk sepinggang. Awalnya Shin sengaja berpenampilan seperti itu karena ia ingin sedikit menggoda sang istri. Namun sang istri sudah keluar dari kamar. Shin mendapati satu setel pakaian baru tergeletak di atas tempat tidur dan seulas senyum tersungging di bibirnya.


Norin membuka pintu kamar perlahan dan Ia mendapati sang suami sedang melaksanakan sholat ashar. Seulas senyum tersungging di bibirnya namun ia segera menampiknya. Norin menutup pintu kamarnya kembali lalu menghampiri sang ibu serta yang lainnya di teras rumah.


"Mana suamimu nak?" tanya sang ibu pada Norin yang baru saja datang dan berdiri di tengah tengah mereka.


"Di dalam Bu, lagi sholat ashar."


Namun tak lama kemudian, Shin muncul dari balik pintu memakai baju Koko putih serta sarung lalu tersenyum pada semua orang yang sedang memandangnya. Norin terpana melihatnya namun tak lama ia memalingkan wajahnya.


"Sini nak Shin, gabung duduk sama kita," ajak Abah.


Shin tersenyum dan mengangguk lalu duduk di kursi kosong yang berdampingan dengan Norin.

__ADS_1


"Dek, bikinkan kopi atau teh buat suaminya masa dianggurin gitu,"sindir Syifa tiba tiba.


Shin melirik ke arah Norin yang duduk sambil memalingkan wajah.


"Tidak usah kak, kasian Norin pasti lelah," ucap Shin melirik ke arah Norin.


Namun Norin tidak menghiraukan penolakan Shin melainkan ia beranjak lalu pergi ke dapur. tak lama kemudian, Norin kembali lagi dengan secangkir teh hangat serta cemilan dan meletak kan teh itu di atas meja di hadapan Shin.


Shin tersenyum lebar.


"Terima kasih."


Norin hanya mengangguk lalu duduk di kursi kosong samping ibunya.


"Lantas apa rencana kalian selanjutnya nak Shin?" tanya Abah membuka obrolan.


"Sebenarnya aku ingin membuat syukuran di kampung a, sekaligus memberi tau orang kampung kalau Norin sudah menikah." Bu Aminah mengutarakan keinginannya.


"Bagaimana nak Shin apa mau mengikuti keinginan ibunya Norin ini?" tanya Abah.


"Saya ikut saja Abah."


Menjelang Isya. Shin keluar dari kamar mandi setelah mengambil air wudhu. Ia melihat sang istri sedang duduk di tepi ranjang sambil tangannya me re mas buku buku jarinya.


Shine menggelar sajadah lalu melirik ke arah Norin.


"Apa mau sholat berjamaah bersama?"


Norin terperangah lalu tak lama ia mengangguk. Shin tersenyum melihatnya sang istri tidak menolak.


Norin bergegas memasang sajadah di belakang sajadah Shin. Shin menoleh ke arah belakang.


"Ma...maaf jika nanti sholat sama bacaannya tidak sempurna. sa...saya masih belajar."


Norin mengangguk.


Setelah itu, Shin dan Norin mulai melaksanakan sholat isya berjamaah dan Shin sebagai imamnya. Jujur saja, ada rasa kagum di diri Norin untuk Shin namun ia segera menampiknya.


Setelah selesai melaksanakan sholat isya berjamaah, rasa kantuk mulai mendera kedua mata Norin. Ia bergegas naik ke atas tidur lalu merebahkan tubuhnya. Norin meletak kan sebuah bantal guling di tengah tengah sebagai pembatas.


Shin yang baru selesai amalan menoleh ke arah istri nya yang sudah meringkuk seperti bayi menghadap tembok. Jilbab masih menempel di kepalanya serta sebuah bantal guling sebagai penyekat. Shin hanya menyunggingkan senyum tipis melihat kelakuan istrinya.


"Sabar Shin....sabar...!"


Ijin promosi ya kak...

__ADS_1



__ADS_2