Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 26.7


__ADS_3

"Betapa beraninya dia memfitnah keluarga dan putriku. Apa buku-buku yang telah dia baca dengan susah payah dan memenuhi kepalanya tidak bisa menjernihkan hati serta pikirannya?" Ujar Ayah sangat marah.


Ayah tidak bisa menerima bila keluarga yang sudah dia lindungi dengan tulus ternyata menjadi sasaran empuk untuk kebencian dari seseorang yang masih belum mengerti bagaimana cara kerja dunia. Apalagi sampai melibatkan Safira yang sudah jelas-jelas mencintai Ai selayaknya Ibu kandung, kesalahan ini tidak bisa dia maafkan begitu saja.


"Ayah, tenanglah." Bunda memanggil dengan lembut.


"Jangan marah, Ayah. Ini adalah salah satu ujian untuk keluarga kita dari Allah. Sekarang satu lagi bukti penting yang Allah kirimkan untuk kita maka dengan begitu semua permasalahan ini bisa diselesaikan dengan cepat. Lagipula, bukti-bukti ini ada karena Allah ingin memberikan Dinda sebuah pelajaran bahwa sesungguhnya hati tidak bisa dipaksakan dan menganiaya seorang anak yatim-piatu akan berurusan langsung dengan Allah. Bunda ingat bila Allah pernah berkata bahwa anak yatim-piatu akan selalu dalam lindungannya, maka berbuat baiklah kepada anak yatim-piatu agar Allah senantiasa melindungi kita pula. Bunda pikir Dinda harusnya bersyukur Allah menghukumnya di dunia karena bila Allah menghukumnya di akhirat, sesungguhnya itu sangat kejam karena Allah adalah Dzat yang maha kejam di akhirat nanti. Tidak ada yang akan memberikan hukuman yang paling kejam kecuali Allah. Aduh..kok Bunda tiba-tiba ngomongin masalah hukuman di akhirat hehehe.." Bunda tersenyum malu, tawa ringannya yang tidak dibuat-buat membuat suasana kembali ringan.


Setelah itu pembicaraan mereka hanya berputar pada mengorek-ngorek masa lalu Ai dan seperti apa sifat-sifat keluarga yang telah tega mengincar kehidupan Ai. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya tawa lembut Ai memasuki pendengaran mereka.


Sifa membawa Ai dan si kembar masuk ke dalam karena diluar sudah mulai panas. Cahaya matahari di siang hari tidak baik untuk kulit manusia terutama anak-anak. Jadi, untuk keamanan mereka semua Sifa memutuskan untuk membawa Ai dan si kembar masuk ke dalam rumah.


"Nyonya.." Pak Daman memanggil dengan ekspresi cemas.


Dia sangat ingin bertemu dengan Ai. Dia ingin melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bila Ai hidup baik di sini. Karena dia merasa sangat bersalah setelah mendengar cerita Safira dan Ali mengenai kehidupan pahit yang Ai dapatkan di panti asuhan itu.


"Ya, Pak Daman?"

__ADS_1


"Apa kami bisa bertemu dengan non Ai?" Pintanya ragu-ragu.


Safira tersenyum. Dia lalu berdiri dari duduknya,"Saya akan membawanya masuk." Kata Safira sebelum pergi.


Dia keluar dari ruang tamu dan mencari anak-anak yang kini asik bermain di ruang keluarga. Si kembar kini sudah 8 bulan jadi mereka sangat aktif bergerak. Apalagi ada banyak orang yang akan menemani waktu-waktu menyenangkan mereka sehingga mereka tidak terlalu cerewet atau suka menangis.


"Dek, apa anak-anak cerewet?" Tanya Safira ketika masuk ke dalam ruang tamu.


Sifa menoleh,"Anak-anak enggak cerewet kok, Kak. Mereka dari tadi sibuk bermain bersama Ai jadi dia tidak punya waktu menyadari bila Kak Safira tidak di sini."


"Kakak minta maaf karena telah menyusahkan kamu menjaga anak-anak." Katanya seraya duduk di samping si kembar.


Tangannya yang ramping mengambil tissue kering di dekatnya. Lalu, dia mengusap wajah anak-anaknya satu persatu untuk menghapus noda makanan di wajah mereka. Setelah selesai mengurus si kembar Safira beralih mengurus Ai. Mengambil beberapa lembar tissue untuk menghapus keringat di wajah cantik putrinya itu.


"Ini enggak nyusahin kok, Kak. Malah Sifa senang banget ngurus mereka. Hitung-hitung Sifa juga belajar dari Kak Safira dan semua orang bagaimana membesarkan anak karena suatu hari nanti Sifa juga pasti mengalami yang namanya berumah tangga. Sifa akan hamil dan melahirkan anak, setelah itu hari-hari Sifa akan seperti Kak Safira. Semua waktu dihabiskan untuk suami dan anak-anak hehehe.."


Safira ikut tertawa mendengarnya. Meskipun merasa lucu tapi dia mengerti apa yang adik iparnya maksud. Jujur, dia suka dengan pemikiran Sifa. Belajar berumah tangga sebelum mengalaminya nanti.

__ADS_1


Ini lebih baik daripada dirinya dulu ketika belum menikah dengan Ali. Dia terlalu sibuk bekerja sehingga acuh terhadap rumah tangga Kakaknya. Padahal ilmu yang mereka bawa sangat bermanfaat untuknya di masa depan nanti.


"Ini bagus lho, dek. Suatu hari nanti setelah menikah Adek tidak akan terlalu terkejut dengan dunia pernikahan karena sudah mempelajarinya. Ini lebih baik daripada Kakak saat awal-awal menikah dengan Mas Ali. Kakak terlalu tidak sabaran saat menunggu tespek sehingga Kakak tidak sadar sudah hamil 3 bulanan, setelah melahirkan si kembar juga Kakak awalnya Kakak bingung melakukan apa. Kakak takut menggendong si kembar karena takut salah pegang, Kakak selalu panik bila si kembar menangis keras dan untuk beberapa kali bingung melakukan apa. Itu adalah masa-masa dimana Kakak sangat menyesal tidak pernah belajar dari Kak Annisa dan Kak Saqila bagaimana cara mengurus anak. Ini sulit dan canggung, namun pada akhirnya karena kebiasaan dan pengalaman dari Bunda, Kakak akhirnya bisa mengurus si kembar sendirian. Meskipun tidak puas tapi Kakak berjanji untuk belajar tentang mengurus anak-anak agar tidak terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan suatu hari nanti. Ah," Safira tiba-tiba menghentikan kegiatan tangannya mengusap wajah Ai.


Dia menoleh menatap Sifa dengan senyuman yang manis,"Jadi siapa yang akan menjadi imam di dalam rumah tangga kamu, dek? Apa benar yang dikatakan Mas Ali bila dia adalah Sahid?"


Wajah Sifa segera memerah terang. Dia melambaikan tangannya buru-buru seraya mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Mas Ali..mas Ali bohong, Kak! Sifa masih belum mikir ke sana!" Bantahnya.


Padahal jauh dari dalam hatinya dia sangat berharap pemuda tampan yang kini menjadi asisten pribadi Ali yang akan menjadi imamnya. Namun sayang, Sahid terlalu dingin dan irit berbicara sehingga Sifa tidak tahu atau lebih tepatnya dia tidak bisa menebak apa yang Sahid pikirkan tentang dirinya. Mungkinkah Sahid punya rasa yang sama kepadanya atau Sahid hanya menganggapnya sebagai saudara saja?


Sifa tidak tahu dan tidak berani menebaknya, tapi yang pasti dia menyukai Sahid dan berharap dalam shalat shalat malamnya bahwa 'dia' adalah Sahid.


Safira bisa melihat wajah malu-malu Sifa jadi mungkin apa yang dikatakan suaminya itu benar jika Sifa mempunyai rasa kepada Sifa.


Adapun Sahid anak itu sedikit rumit. Dia sangat dingin kepada lawan jenis sehingga pikirannya sulit di tebak, bahkan di perusahaan saja dia mempunyai banyak penggemar wanita namun tidak satupun yang dia layani.

__ADS_1


__ADS_2