Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 26.6


__ADS_3

"Kami.. tidak pernah bertemu dengannya dan kami juga tidak mengenalnya. Dia tiba-tiba menghubungi kami setelah ada seorang laki-laki asing sering bertamu ke rumah kami. Dia bilang namanya Dinda. Dia bilang lewat telepon jika Ai sudah diadopsi keluarga kaya tapi keluarga kaya itu tidak memperlakukannya dengan baik. Dia kasihan melihat Ai sehingga dia memutuskan untuk menghubungi kami. Dia meminta agar kami membawa Ai lari dari kalian dan menawarkan kami sejumlah uang agar bisa menetap di tempat yang jauh agar kalian tidak bisa menemukan kami. Tapi..kami tidak percaya dan memutuskan untuk datang ke kota sendiri untuk melihat secara langsung keadaan Ai. Kebetulan orang yang memberikan kami alamat rumah ini adalah laki-laki asing itu." Dengan hati-hati dia menceritakannya kepada mereka.


Mulai dari kedatangan laki-laki asing hingga permintaan sok akrab dari wanita yang tidak mereka kenal. Jelas, ini terlihat mencurigakan sehingga mereka memilih untuk tidak mengiyakan ucapan Dinda. Mereka takut Dinda ada hubungannya dengan orang-orang jahat itu sehingga ada baiknya mereka sendiri yang datang ke kota untuk memastikan keadaan Ai di sini.


Untungnya laki-laki asing itu memberikan mereka alamat rumah ini tanpa mempersulit. Sekilas mereka bisa melihat bila laki-laki asing itu adalah orang yang baik.


Karena mereka tidak memberikan respon apa-apa, Bu Santi berpikir jika mereka mungkin tidak mempercayainya. Maka dia buru-buru mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas punggung suaminya yang sudah usang. Ponsel itu adalah ponsel layar sentuh jaman dulu yang belum terlalu canggih. Ponsel itu terlihat tidak terawat, ada retakan di atas layarnya dan cahaya layarnya pun redup.


Jelas saja, ponsel ini sudah mereka gunakan sejak bertahun-tahun yang lalu.


"Kami..kami sempat merekamnya. Putra kami bilang ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan bila wanita itu berbohong." Kata Bu Santi seraya menunjukkan sebuah rekaman tanpa judul di layar ponsel itu.


"Mas.." Safira akhirnya bersuara.


Dia menggenggam kuat tangan suaminya karena takut bercampur marah.

__ADS_1


Ali membalas genggaman tangan Safira, menggenggamnya kuat untuk berbagi tekanan di hati masing-masing.


"Apa kami bisa mendengarnya?" Tanya Ali dengan emosi yang mulai tidak stabil.


Bu Santi langsung menganggukkan kepalanya. Jari tangannya yang kapalan dan kurus menekan tombol 'play' berkali-kali sebelum rekaman suara itu bisa diputar.


"Mereka sangat kejam." Sepertinya mereka terlambat merekam. Ini bukanlah kalimat utama Dinda. Tapi setidaknya ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Aku mengenal pasangan suami-istri itu. Mereka menyekolahkan Ai di sekolah tempat ku bekerja. Setiap hari mereka akan mengantarkan Ai ke sekolah dengan keadaan tidak terawat dan dipermalukan di depan banyak orang. Mereka bilang Ai miskin dan cacat sehingga mereka tidak tahan dekat dengan. Aku sangat marah pada saat itu tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Ai. Bahkan saat di kelas pun aku masih tidak berdaya menyelamatkannya dari pembulian. Ini keterlaluan.. meskipun Ai lahir cacat tapi bukan berarti mereka bisa menyakiti Ai seperti itu. Aku marah dan berusaha mencari informasi keluarga Ai hingga aku akhirnya menemukan kalian. Ai tidak punya siapapun di dunia ini kecuali kalian jadi bawalah Ai pergi. Tenang, aku punya banyak tabungan di sini jadi kalian bisa menggunakannya untuk pergi ke kota yang jauh untuk melindungi Ai. Jangan sampai mereka menemukan Ai kembali atau Ai akan benar-benar hancur. Dia akan selamanya hidup menderita dan dipandang cacat. Dia tidak punya masa depan bila tinggal terus bersama mereka.." Ini benar-benar suara Dinda. Sosok guru yang kepala sekolah banggakan karena metode belajarnya yang menarik perhatian banyak anak-anak.


Tapi itu semua nyatanya hanya harapan mereka karena wanita ini jelas tidak mau menyerah. Malah dia telah menyiapkan rencana penculikan untuk memisahkan Ai dari mereka.


"Apa kamu melihat dengan kedua matamu sendiri bila non Ai diperlakukan jahat oleh orang kaya itu?" Ini adalah suara tua Pak Daman.


"Ya, aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri bila mereka melakukan hal-hal jahat kepada Ai. Bukan hanya aku saja tapi guru-guru yang lain juga melihat perlakuan jahat mereka kepada Ai. Bila kalian tidak percaya datanglah ke sekolah ku untuk bertanya kepada rekan-rekan guruku." Penjelasan Dinda terdengar sangat meyakinkan sehingga orang-orang tidak akan ragu untuk mempercayainya.

__ADS_1


Tapi Pak Daman dan Bu Santi sudah mengalami banyak hal dulu untuk melindungi Ai di rumah besar sehingga mereka sulit dikelabui.


Permainan kata manis dan menyesatkan seperti ini, Pak Daman dan Bu Santi sudah mendengar banyak sebelumnya jadi mereka tidak akan langsung mempercayai Dinda.


"Bagaimana? Aku akan langsung mengirimkan uang ini bila kalian bersedia membawa Ai pergi dari mereka-"


Rekaman berakhir di sini.


Bersambung..


Kemarin ada yang minta 1 chapter sehari asal panjang. Jadi ya udah, saya nulis banyak untuk satu chapter tapi tetap penuhi janji 4 chapter. Mau kasih 5 tapi mending besok aja deh💚


PS!


Maaf yah gak bisa ngasih visual karena saya adalah tipe orang yang suka halu bayangin siapa tokohnya. Ya.. kadang-kadang sih suka mikir kalau posisi itu adalah saya wkwkwkw..jadi gak suka ada visual. Maaf yah💚

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2